
Aku tak berhenti menatap wajahnya. Kulitnya lebih coklat dibanding waktu kami
masih SMP, pipinya lebih tirus, sesuai badannya yang terlihat lebih kurus, hidungnya masih mungil, bibirnya tak ada polesan warna seperti kebanyakan
cewek seumurnya, matanya tetap berwarna
coklat, dilengkapi hijab biru mudanya, Qay semakin cantik.
Aku gila. Aku
benar-benar jatuh cinta pada perempuan ini. Jantungku terus berdetak kencang
saat kami duduk berdampingan di angkutan
umum. Ya, perempuan unik, dan semakin unik bahkan setelah 6 bulan kami
tidak bertemu.
Suaranya begitu seksi di telingaku, padahal ia bercerita alasan mengapa Ia
berhijab dan kerapuhannya karena ayahnya dipanggil Allah. Aku suka semua hal tentang Qay.
Ingatanku terulang
saat kami masih berseragam putih biru. Qay adalah sedikit dari cewek yang rajin melaksanakan shalat ketika di
sekolah. Sekolah kami negeri, makanya
untuk shalat semuanya diserahkan kepada siswa. Tidak ada guru yang bertugas menggiring atau mengingatkan kami untuk
shalat. Saat aku kelas VII letak kelasku
di depan masjid, makanya aku sering
melihat Qay di sana. Qay sering melaksanakan shalat dhuha saat istirahat pertama, setelah itu dia duduk di teras masjid sambil
membaca buku novel atau komik yang dibawanya.
Saat kami jalan dan duduk berdampingan, aku ingin sekali
menggenggam tangan mungilnya, tapi
hasrat itu aku enyahKan jauh-jauh. Aku
suka melihat semua ekspresi pada wajahnya, dia begitu menggemasKan. Ah, Afzal, kamu harus lebih memantaskan diri untuk bersamanya. Dengan perubahan pada penampilan Qay, ia juga pasti ingin memiliki laki-laki baik
dalam hidupnya. SedangKan aku? Jauh dari itu semua. Shalat seingatnya, ngaji bisa dihitung jari!
***
Pagi ini kami sudah
menuju jakarta, mengikuti pertandingan
panjat tebing atau wall climbing yang diadakan oleh Universitas Atmaja, salah satu universitas swasta
terfavorit.
"jangan gugup ya, Qay! Anggap aja ini kayak latihan
tapi latihan terakhir, fokus dan kasih
yang terbaik. " ucap kak Naufal menyemangati kami. Selain aku, ada dua
siswa laki-laki dari kelas XI yang juga mengikuti pertandingan.
Point demi point aku gapai dengan cepat. Semangat memberi
aku masuk ke semi final dikategori perempuan.
"keren qay, tetap fokus dan semangat ya! Atur hati lo, biar bisa fokus terus, jangan memikirkan apapun! " ucap kak
Naufal saat kami beristirahat untuk melanjutkan ke semifinal.
"siap Kak, tapi aku
jadi lebih gugup!" jawabku
"lo pasti bisa, Qay! Untuk ukuran pemula
aja, ini termasuk lumayan, gue ngga
salah pilih orang!"
“oiya Qay, cowok yang kemarin bikin satu sekolahan heboh
benar pacar lo?” tanya kak naufal penasaran.
“bikin heboh? Emang?” jawabku dengan pertanyaan lagi,
berusaha tak menjawab pertanyaan kak naufal.
“iya, cewek-cewek di sekolah dia ganteng, gagah, apalah kata
mereka. Gue juga gantengkan? Cuma lebih kerempeng aja!!” ucapnya diakhiri
dengan canda yang menjadi ciri khasnya.
“berarti sis-sia dong Qay, selama ini gue PDKT sama lo?”
Aku hanya tertawa geli mendengar semua ocehan kak naufal. Dia
paling bisa menghilangkan kegugupanku.
“PDKT? Terus mau di bawa ke mana koleksi pacar kakak yang
cantik-cantik dan seksi itu?” balasku meledek kak naufal.
“mereka mah buat dicicipin aja Qay, kalau yang serius, gue
maunya sama lo!”
Aku tertawa.
“berarti aku dong yang dapat bekasnya mereka?” ucapku
berusaha untuk tidak tergoda dengan candaan kak naufal.
“biar bekas masih enak kok!” ucap kak naufal sambil memegang
daguku.
Plakkk....
Seseorang menepis tangan kak naufal dari daguku. Mataku melihat
ke arah orang tersebut.
Afzal!!!
“jangan pegang-pegang! Cewek ini pacar gue!”