
“Maaf ya, dha! Rumah bunda Cuma ada dua kamar. Kamu ngga apa-apa kan tidurnya di sofa?”
“ngga apa-apa bun! Saya malah yang harusnya minta maaf karena merepotkan bunda sampai menginap segala.”
“eh, ngga apa-apa! Terimakasih sudah bantu arien, lagipula besok pagi-pagi kamu kan ada praktek juga kan bareng afzal!”
“iya bun, terimakasih ya!”
Bunda mengusap lembut kepala yudha, hal yang biasa beliau lakukan kepada kami juga, hal yang kecil namun menenangkan hati. Setelah itu bunda masuk ke dalam kamar menemani arien yang masih tertidur setelah banyak menangis.
“udah lo ke kamar gih! Ngga usah sok menemani gue di sini! Kasihan tuh si qay, ditemani nyamuk!” ledek yudha.
“apa sih? Jangan gigit jari lo ya, sendirian di sini!”
“ehmmm....!”
“oke, tidur ya, dha! Besok kita berangkat pagi menyelesaikan urusan kemarin!”
“ehmmm....!”
Aku beranjak menuju kamar, yudha yang semula sudah berbaring di sofa, tiba-tiba mengangkat kakinya dan menghalangi jalanku.
“apa?” tanyaku heran.
“Arien, cewek kayak apa?” tanya yudha dengan tatapan yang penuh dengan pandangan penasaran.
“seperti yang lo lihat, sexy!”
“serius!”
“setahu gue dia sahabat baik istri gue, anaknya ceria, ya, lo versi cewek deh!”
Jawabanku sepertinya cukup menjawab rasa penasaran yudha.
Dia hanya mengangguk, kemudian kembali berbaring di atas sofa. Yudha terdiam, aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Ia asyik dengan pikirannya. Aku berjalan meninggalkannya dan berjalan menuju kamar.
Saat membuka pintu, Qay sadang duduk di tepi kasur, sambil membaca sebuah buku. Ia tersenyum menatapku.
“mau dibuatin teh, susu, atau coklat hangat?” tanyanya lembut.
Aku menggeleng. Setelah mengganti pakaian, aku berbaring di sebelah Qay.
“untung ada kamu dan yudha! Ngga tahu deh kejadiannya kalau ngga ada kalian!”
“arien bagaimana? Sudah lebih tenang?”
“iya, alhamdulillah!”
“ itu pacarnya?” tanyaku penasaran.
“belum, baru PDKT! Arien trauma kayaknya! Kakak dia itu emang suka main sama cowok, tapi ngga sampai begituan!”
“maksudnya, de?”
“dia itu masih perawan! Kejadian tadi bikin dia takut!”
“hemmm.... semoga abis ini arien lebih hati-hati de! Cowok itu kalau bicara tentang nafsu bisa nekat!”
“iya!” jawab qay pelan sambil manggut-manggut.
Aku menariknya untuk berbaring di sebelahku. Memeluknya lembut, dan mencium tengkuk lehernya.
Sesaat Qay mendorongku lembut. Ia menggelengkan kepala, mengisyaratkan agar aku tidak melanjutkan cumbuan.
“tenang, tadi ada k*ndom di mobil! Jadi bisa kita pakai hari ini!” ucapku berbisik di telinganya yang memerah.
Qay tersenyum malu. Tangannya tak lagi menahanku, ia justru mendekap ku dengan erat. Wangi rambutnya membuatku semakin tergoda untuk menjamahnya malam ini. Istriku tersayang.
***
Mata yudha terpejam, namun dia tetap kesulitan untuk tidur. Padahal jam di dinding menunjukkan pukul 1 pagi.
Ceklek.....
Terdengar suara pintu kamar terbuka. Seorang perempuan dengan tubuh yang masih kelihatan sexy meskipun terbalut baju daster longgar berjalan ke arah dapur. Yudha tahu, perempuan itu bernama arien. Perempuan yang tiba-tiba saja mengusik pikirannya. Yudha memutuskan untuk bangun dan duduk menunggu arien kembali dari dapur.
Sosok itu berjalan ke arahnya. Wajahnya masih pucat dan sembab.
Pertanyaan yudha menghentikan langkahnya. Tanpa diduga arien berjalan ke arah yudha duduk.
“teh manis, lo mau?”
Arien malah menawarkan segelas teh padanya. Yudha sadar perempuan di depannya ini sudah lebih baik daripada tadi siang saat mereka pertama kali bertemu. Yudha menatapnya tanpa ragu, wajah sembabnya masih terlihat cantik. Bibirnya penuh, berwarna merah, menggoda siapapun yang melihatnya. Matanya bulat khas orang Asia, tulang selangka pada lehernya begitu indah, dilengkapi pinggul dan dada yang padat, membuat siapapun tersihir olehnya.
Selama ini yudha banyak bermain, bertemu dengan berbagai macam bentuk makhluk yang disebut hawa. Tapi, perempuan di hadapannya ini seolah menyihir tubuhnya hingga sulit mengontrol untuk tidak memikirkannya.
“mata lo sudah puas belum melihat!”
Ucapan arien, menyadarkan yudha dan pikirannya. Yudha pun tersenyum.
“sorry!” ucap yudha.
“its oke! Sudah biasa!” ucap arien diiringi senyum yang dipaksakan.
“terima kasih! Gue ngga tahu kalau ngga ada lo dan afzal!”
“dia pacar lo?”
“belum, baru ketemu seminggu! Tampang cupunya bikin gue ketipu. Gue pikir dia Cuma seorang cowok cupu yang pengen punya pacar. Ngga tahunya, maniak ****!”
Mendengar jawaban arien, yudha jadi tersenyum. “Maniak? Gue masuk kategori itu ngga ya!” gumam yudha dalam hati.
“dia maksa gue buat begituan sambil direkam! Gila kali tuh cowok!”
“lo harus lebih hati- hati. Cowok yang kelihatannya baik-baik belum tentu baik!”
“dan cowok yang kelihatannya brengsek, belum tentu brengsek?” potong arien.
Mendengar kalimat itu, yudha hanya tersenyum.
“kalau menurut lo, gue brengsek atau baik?” tanya yudha sambil memajukan kepalanya mendekati wajah arien.
“brengsek tapi baik!” jawab arien sambil menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan yudha.
Mendengar jawaban arien, yudha tertawa keras. Spontan, mulut yudha dibekap oleh kedua tangan arien.
“ini tengah malam, yang lain bisa bangun!” ucap arien pelan namun matanya sedikit melotot. Yudha menganggukkan kepala, mengisyaratkan bahwa ia paham. Arien pun melepaskan tangannya. Tanpa sadar keduanya saling menatap. Hening. Dan larut dalam pikiran masing-masing.
Tik....tok....
Tik....tok....
Suara detak jam menjadi lebih terdengar.
“ehmmm....!” arien berdehem, dan menyadarkan kami.
“oke, aku balik ke kamar!” ucap arien sedikit gugup.
“emmm....iya, udah malam juga, istirahat!” balas yudha dengan gugup juga.
“eh...kita dari tadi belum kenalan!”
“Yudha.” Ucap yudha sambil mengulurkan tangannya.
Arien membalas uluran tangan dan menjabatnya dengan erat.
“Arien.” Ucapnya sambil tersenyum.
Senyuman arien membuat jantung yudha berdegup lebih kencang. Tanpa disadari yudha memegang dadanya, takut suara degup jantung terdengar oleh makhluk cantik di depannya ini.
“ehm....!” suara deheman arien kembali menyadarkan yudha yang masih memegang tangan arien.
“eh... maaf!” ucap yudha malu.
“ke kamar ya!” ucap arien.
“iya, boleh ikut!” ledek yudha.
Arien hanya tersenyum, dan berjalan menuju kamar. Meninggalkan yudha yang masih terpaku menatap punggungnya.
Kira-kira Yudha naksir Arien ngga ya? Readers penasaran ngga sama kelanjutan mereka? Terus kapan ya Qay dan Afzal punya bayi? Jangan lupa like dan komentarnya ya biar author semangat nulisnya 😍