Blind is Love

Blind is Love
Waktu Kita Kembali



"maksudnya apa ya? Pacaran? Bukannya kalian baru ketemu lagi? Afzal kok ngga cerita apa-apa sih! " tanya arien memecah keheningan karena rasa terkejut yang disebabkan pernyataan Afzal.


"sejak kapan Qay? " tanya ranum mengalihkan pertanyaan arien, dari ekspresi ranum, aku tahu dia marah.


"maaf ranum, arien. Aku bisa jelaskan. Kalian tunggu aku di kantin ya, peralatan ini harus dirapiKan dulu.! " jawabku sambil mengangkat tali karmantel.


"sudah ngga usah basa-basi, lama-lama bikin gue mual! Heh, Afzal sampai teman gue nangis gara-gara lo, gue bikin lo ngga punya kaki! " ucap arien lalu pergi meninggalkan kami.


Ranum tak berbicara lagi, hanya menatapku seolah memberi isyarat bahwa dia masih menungguku untuk menjelaskan semua ini.


Setelah ranum pergi, afzal masih berdiri di sampingku. Mengikuti ke mana pun aku bergerak.


"kenapa sih kamu harus bilang tentang hubungan ini secara mendadak? Kasihankan arien!"


"akan lebih kasihan lagi, kalau kakak tidak cepat-cepat bilang, nanti dia yang malu! "


"kenapa mesti malu? "


"kamu ngga melihat cara dia memperlakukan kakak, sebelum dia mengakui kakak sebagai pacarnya kemudian kakak bantah, lebih baik sekarangkan? "


Tiba-tiba kami terdiam. Saling tatap. Kemudian tertawa keras bersama. Bagaimana kami bisa berdebat? sedangkan kami baru saja bertemu setelah sekian bulan.


"ayo kita ke belakang sekolah. Di sana ada tempat duduk di bawah pohon rindang. Kamu pasti lelah!"


"apa rencana awal kamu, qay? Kakak dengar besok kamu akan lomba. "


"mau pulang istirahat, aku latihan dari pagi!"


"oke, ayo aku antar kamu pulang! Kali ini ngga bisa menolak! "


Kami saling tertawa, sekali lagi, masa putih biru itu seolah kembali.


Sepertinya gosip telah menyebar, semuanya melihat ke arah kami. Apalagi Afzal datang dengan seragamnya, terlihat sangat gagah dan dilengkapi dengan wajah tampannya, siapa yang tidak memperhatikan.


Kami memilih jalan kaki menuju jalan raya. Aku berjalan di sebelahnya. Tinggi badanku tak bertambah hanya sedada Afzal.


"kenapa ngga menghubungi, de? Ngga kasih kabar juga? "


"kamu kenapa juga ngga menghubungi? "


"kakak ngga tau nomor kamu! "


"aku juga ngga tahu, masa harus aku yang cari tahu duluan. Aku kan cewek! "


"tapi dulu Ade yang mengajak jadian duluan! "


Aku berhenti mendengar ucapan Afzal. Menengok ke arahnya dengan wajah kesal. Afzal membalas dengan senyuman.


"ngga usah antar aku! " ucapku seraya berjalan kembali.


"sekali lagi kamu bahas masa lalu, ngga usah ketemu aku! "


Afzal terkekeh. Aku malu. Kejadian dulu hanya keisengan. Mungkin wajahku sudah memerah karena malu. Afzal malah tertawa melihatku. Aku tutup telinga dan berusaha jalan lebih cepat meninggalkan Afzal, namun tetap saja dapat dikejar olehnya, dua langkah kakiku sama dengan satu langkahnya.


"maaf ya de, kakak ngga ada saat ayah pergi!" ucap Afzal saat kami sudah duduk berdampingan di dalam angkutan umum.


"iya, santai aja! I'm OK now"


"karena ayah ya, kamu berhijab? "


"iya, tapi lebih tepatnya karena Allah!"


"kehilangan ayah membuat aku rapuh, rasanya percuma hidup. Bunda, angga, ngga mampu membuat aku bangkit lagi! "


"Allah mengundang aku ke pengajian dan kajian bunda, dari situ semua berangsur membaik. Allah lah tempat terbaik untuk berserah diri. Seperti yang kamu lihat sekarang! "


Tiba-tiba aku tertegun, entah sejak kapan afzal memandangku. Matanya tak berkedip membuat aku jadi gugup dan malu. Aku salah tingkah, sampai-sampai kaca mobil angkutan aku ketuk dan minta diberhentikan. Padahal letak gang rumahku masih jauh.


Afzal mengikutiku turun, kami kembali berjalan berdampingan. Ia tak berkata apapun hanya sesekali melihat ke arahku, membuatku mati gaya.


"kita kok turun di sini? Bukannya masih bisa naik angkot?" tanya afzal mencairkan suasana.


"iya tadi aku salah berhenti! "


"gugup ya? " tanya afzal sambil cengengesan.


"pede! " jawabku sok galak.


Aku menghentikan langkah. Dari depan gang aku memberitahu afzal sebuah rumah dipaling ujung yang bercat biru tua.


"sampai sini saja! " pintaku pada afzal


"aku belum bilang bunda, lain kali baru kamu mampir!"


"oke, siap! " jawab afzal dengan senyuman khasnya.


Ia membalikkan badan dan melangkah meninggalkanku, tapi kemudian berbalik arah.


"qay, kita masih pacarankan? " tanya afzal setengah berteriak.


Aku senyum.


"kok masih tanya? 6 bulan itu bukan waktu yang sebentar loh buat menunggu orang yang ngga memberi kabar! " jawabku dengan agak kencang.


"makasih ya, de! "


Afzal berjalan lagi meninggalkan aku yang masih terdiam di depan gang. Bingung, senang, kaget bercampur menjadi satu. Mengapa? Ada apa? Bagaimana? Ribuan tanya menyeruak ke dalam hati. Ah, biar saja rasa ini kunikmati. Kisah putih biruku kembali 😊