Blind is Love

Blind is Love
Pesan dari Qay



“Mengapa sayang dan cinta perlu diucapkan? Jika itu dapat


dirasakan. Hubungan ini belum butuh sentuhan, biarkan waktu yang


menyempurnakan. Tapi jika rasa sabar tak lagi ada dalam hubungan ini, maka


apapun pilihanmu, aku terima!”


Begitulah pesan yang tertulis dari cewek paling keras kepala


dan egois yang pernah kukenal.


Setelah kemarin meninggalkan aku tanpa peduli teriakkanku


memanggilnya. Cewek yang tak pernah bosan mengajakku berdebat. Namun, aku tetap


luluh dan bahagia meskipun kalimat yang dikirimnya tidak seperti yang aku


inginkan.


“si Qay itu ribet banget sih, Zal!” ucap yudha yang


diam-diam membaca pesan dari HP-ku.


“Cewek baik-baik mah, emang ribet bro!” ucapku sambil


membaringkan diri di kasur.


“dari kalimatnya gue ambil kesimpulan dia akan mau lo


macem-macemin kalau lo dan dia sudah nikah!” ucap yudha.


“terus masalahnya apa dha? Bagus dong berarti bisa jaga


diri!”


“zaman sekarang, ngga dicoba ngga seru, Zal! Jangan sampai


menyesal ya!”


Aku terdiam, mataku tertuju pada gambar cewek berhijab yang


menjadi walpaper HP-ku.


“Zal, nanti malam lo ikut gue! Di sana kita bakal banyak


ketemu cewek bispak! Lo coba dulu, kalau menjalani hubungan terlalu serius, gue


takut lo nanti menyesal!”


“bispak?”


“ya ampun zal, lo kebanyakan gaul sama Qay sampai ngga tahu


bispak! Cewek bispak tuh, bisa pakai, maksudnya dia ngga akan minta


pertanggungjawaban walau sudah kita pakai. Ya, paling lo kasih dia barang atau


uang supaya dia happy!”


“maksudnya pelacur gitu?”


“ngga juga sih, mereka ngga jual diri sih! Cuma sukarela


menyumbangkan tubuhnya, usianya aja seumuran kita dan masih sekolah!”


“serius ada cewek begitu?” tanyaku kaget dan penasaran.


“makanya ikut nanti malam, oke bro!”


Rasa penasaran membuatku menganggukkan kepala. Selama ini


duniaku hanya berputar pada Qay. Jika bicara kehidupan malam. Teman-teman sudah


berada jauh di depan, aku ketinggalan.


Pukul 22.00 kami berhasil keluar asrama lewat pintu


belakang. Berbekal 3 bungkus rokok untuk Mang Imun, penjaga sekolah yang bisa


disuap. Dengan motor Yudha kami melaju dengan kencang. Yudha memakirkan motor


di depan sebuah ruko. Suasana sepi tak terlalu ramai karena memang bukan malam


minggu. Setelah masuk, yudha mengajakku turun melalui tangga kecil. Ternyata di


dalam ruko ini ada ruangan yang dibangun di bawah tanah. Bau asap rokok


menyergap hidungku. Udaranya sangat lembab, cahayanya juga remang-remang.


Suasana di dalam ruangan ini cukup ramai tidak sepi seperti


di luar tadi. Yudha mengajakku duduk di sebuah sofa panjang. Di depan kami ada


sepasang manusia yang sedang bergulat dengan panas, saling memautkan bibir, dan


tangan mereka saling meraba, sekilas baju si perempuan sudah terangkat, aku pun


dapat melihat lekukan pinggangnya yang ramping. Mereka seperti binatang tak


peduli ada orang lain di sekitar mereka.


Sebagai laki-laki normal tentu pemandangan ini membangkitkan


hasratku. Tetapi entah mengapa, wajah Qay yang berlalu lalang di pelupuk


mataku. Sebuah tangan meraba dadaku dengan tiba-tiba, aku kaget dan tidak dapat


menghindar karena posisi dudukku yang sudah menempel ke tembok.


“eh, maaf mba!” ucapku sambil berusaha menghentikan


tangannya yang terus bergentayangan tak terkendali.


“hahahahaha!”


Si cewek ini menghentikan tangannya dan tertawa dengan keras


cukup lama. Aku bangun dan berpindah tempat duduk agar tidak terhimpit tembok.


“lo temannya yudha kan?”


“kata yudha lo butuh ditemani, oh iya, gue kirana bukan mba!


Lo pikir gue tukang pecel lo panggil mba!” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Aku


membalas menjabat tangannya.


“yudhanya kemana ya, kirana?” ucapku berusaha sopan padanya.


“tuh, di dalam lagi main! Jangan ganggu, ayo kita fokus aja!”


ucap kirana sambil bergeser maju mendekatiku.


“oke, kita ngobrol dulu gimana?” ucapku berusaha mengalihkan


ajakkannya.


“Afzal ya nama lo? Yudha bilang lo masih perjaka ya? Memangnya


pacar lo ngga pernah lo ajakin?”


Pertanyaan kirana membuatku semakin gugup. Biasanya aku yang


selalu agresif menghadapi Qay, sekarang di depan cewek asing ini aku seperti


mati kutu. Dia terlalu blak-blakan.


“maaf ya kir, eh ran, eh enaknya panggil lo apa ya?”


“rara!”


“iya ra, lo masih sekolah?”


“masih, gue di sini Cuma menyalurkan hobi!”


“hobi?”


“iya hobi. Hobi gue beramal buat cowok-cowok yang butuh


melampiaskan nafsunya.”


Aku jadi makin gelisah mendengar kata-kata kirana. Tanpa sadar


aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak terasa gatal.


“lo dibayar?” tanyaku bingung.


“tergantung, kalau gue suka orangnya, ngga dibayar juga ngga


apa-apa!” jawabnya santai sambil menyandarkan dadanya di lenganku.


Glekk.


Terasa kenyal dan besar.


“Aduh, gila si Yudha ajak aku ke tempat begini. Iman sih


kuat, tapi si imin? Ayo Afzal berpikir bagaimana caranya keluar dari sini!”


gumamku dalam hati.


“eh kirana, lo ngga masalah kalau nanti lo menikah suami lo


tahu kalau lo sudah ngga virgin!” ucapku sambil bergeser lagi melepaskan diri


dari kirana.


“perawan? Belum tentu suami gue juga masih perjaka! Gue mau


happy-happy sebelum maried. Lagipula cewek kayak gue pasti ngga akan dapat


cowok yang masih perjaka untuk jadi suami. Karena cowok yang masih perjaka itu


pasti cowok baik-baik. Sedangkan gue, bukan cewek baik-baik!”


Deg.


Kalimat ini pernah aku dengar dari Qay. Lelaki baik hanya


untuk perempuan yang baik juga.


“Sorry ya, Ra! Kalau kita ngobrol aja lo ngga akan marahkan?”


tanyaku ragu-ragu.


“kenapa? Lo ingat cewek lo, ya?”


“ngga, gue rasa lo terlalu baik, Ra! Gue takut jatuh cinta


sama lo!”


“hahahaha!”


Kirana kembali tertawa.


“lo tuh baik banget sih, zal! Bilang aja lo ngga mau


keperjakaan lo gue ambil. Tapi cara nolak lo itu, bikin gue jadi tambah suka lo


tau ngga?” ucap kirana kemudian menyubit pelan dadaku.


“oke, karena lo baik, ganteng, dan tubuh lo sexy, gue maafin


penolakkan lo ini! Tapi kalau lo berubah pikiran, tolong cari gue di sini ya,


jangan dikasih ke yang lain!” ucap kirana lagi kemudian meninggalkan aku yang


bingung duduk di sofa.


Heh....


Satu tarikan napas, melegakkan tubuhku. Jangan sampai aku


membuat Qay kecewa. Ya, harus lebih tahan diri.


 “Sabar ya adik kecil!


Nanti kita ketemunya sama Qay saja, kalau sudah ijab qabul!” ucapku pelan


sambil bergerak keluar dari ruangan itu.