Blind is Love

Blind is Love
Istri atau Anak?



Kami terus memandangi pintu ruang operasi. Sudah empat jam


berlalu, namun tak satu pun tenaga medis keluar dari ruangan itu. Ghisa terus


berada di samping Bundanya Qay. Perempuan paruh baya itu terlihat sangat khawatir.


Pagi tadi, saat Ghisa memintaku untuk mengantarkannya ke


rumah Qay, tiba-tiba kami melihat banyak orang yang berkerumun. Saat ghisa


melihat apa yang telah terjadi, dia begitu terkejut karena telah terjadi sebuah


kecelakaan. Anak berseragam sekolah menegah pertama menabrak seorang ibu muda


yang sedang hamil besar.


Rasa terkejut semakin bertambah Ketika diketahui ibu muda


itu tak lain adalah, Qay. Tanpa banyak membuang waktu kami langsung pergi ke


rumah sakit, namun kondisi Qay saat kecelakaan memang sudah cukup parah.


“Apa Afzal sudah bisa dihubungi?” tanya Bunda pada Ghisa.


“Sudah Bun, mungkin sedang dalam perjalanan.”


“Harusnya bunda tidak memaksa Qay untuk keluar rumah. Ya,


Allah bagaimana ini Ghisa? Bunda sudah tidak punya siapa-siapa.”


Akhirnya bunda menangis. Sejak kecelakaan terjadi, bunda


berusaha tegar. Tak sebulir air mata pun menetes di pipinya. Tapi saat ini, ia


menumpahkan rasa khawatirnya lewat tangisan. Ghisa memeluknya, berusaha


menguatkan, meskipun kami tahu itu tidak banyak membantu tetapi setidaknya


bunda tidak sendirian.


Jarum jam terus berputar, tak satu pun tenaga medis keluar


dari ruang operasi. Kami begitu ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada


Qay dan bayinya?


“Bunda.” Suara Afzal bergema. “Mana Qay, Bun?” Tanyanya


dengan suara terengah-engah.


Bukannya menjawab, suara tangisan bunda malah semakin keras.


Aku memberanikan diri berjalan mendekati Afzal. Kupegang pundaknya, ia pun


menoleh ke arahku.


“Ada apa ini? Mana istri gue?” tanya Afzal setelah tahu yang


memegang pundaknya adalah aku. “Jawab Naufal!”


“Duduk dulu, Zal. Lo tenang dulu.” Pintaku sambil menariknya


ke sebuah kursi Panjang, berseberangan dengan kursi tempat bunda dan Ghisa


duduk.


“Tenang? Lo pikir gue bisa tenang? Untungnya saat lo telepon


gue, kapal sedang bersandar. Gue memilih buat kehilangan kerjaan untuk datang


ke sini.”


“Qay mengalami kecelakaan saat jalan pagi. Siswa SMP yang


menabraknya.” Ungkapku menjelaskan.


“Anak SMP? Kok bisa? Kondisi Qay gimana?”


“Masih di ruang operasi, dari tadi kami juga tidak diberitahu


apa-apa.”


“Maafin Bunda, Zal. Harusnya bunda aja yang mengalami ini


semua.” Ucapan bunda membuat Afzal bangun, dan berjalan mendekati bunda.


“Qay ngga apa-apa kan, Bun?” tanya Afzal sambil duduk


bersimpuh di hadapan bunda. Bunda menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Ia


berusaha menghentikan tangisnya, namun semakin besar karena kehadiran Afzal.


Seorang dokter keluar dari pintu ruang operasi, kami semua


bergegas menemuinya.


“Siapa wali dari pasien?” tanya dokter sambil menurunkan


masker di wajahnya.


“Saya, Suaminya, Dok.” Jawab Afzal. “Bagaimana isitri saya?”


“Ada patah tulang di bagian punggung. Beliau juga mengalami


trauma pasca kcelakaan yang sangat parah. Pendarahan yang sangat banyak juga


membuat kami harus segera mengeluarkkan bayi dalam kandungannya. Hanya saja…”


“Hanya apa dok?” tanya Afzal menimpali penjelasan dokter.


“Hanya saja risiko keselamatan keduanya tidak bisa saya


jamin. Usia kandungannya baru masuk 30 minggu. Sangat rentan untuk lahir. Namun


Afzal hampir terjatuh ke lantai. Ia menunduk. Tangannya


tanpa sadar memegang erat lenganku. Berusaha untuk tidak jatuh ke lantai.


***


Aku berusaha menguatkan diri. Namun kejadian ini sungguh


membuatku tak bertenaga. Dokter mengabarkan bahwa kondisi istri dan anakku


sama-sama mengkhawatirkan. Kemungkinan selamat pun hanya 60%.


Tuhan, apakah aku tidak boleh Bahagia? Apakah kau tidak bisa


berbaik hati dan menyelamatkan keduanya.


“Saya harus bagaimana dok? Apa bisa anak dan istri saya


selamat?”


“Kami para tim medis akan berusaha semaksimal mungkin. Namun,


kami tidak mampu menjanjikan apapun.” Ungkap dokter kemudian menaikkan


kacamatanya yang turun. “Anak Bapak akan segera kami lakukan Tindakan, semoga


sesuai harapan, setelah itu kita bawa ke incubator untuk menyiapkan organ


tubuhnya yang masih belum matang. Sedangkan istri bapak mengalami trauma


sehingga kondisi tubuhnya tidak stabil.”


“Saya Mohon Dok, apapun lakukan untuk mereka berdua.”


“Baik, silakan bapak menuju ruang administrasi untuk


melengkapi surat persetujuan.”


“Baik dok, terima kasih.”


Aku segera menuju tempat yang disampaikan oleh dokter.  Secarik kertas harus aku tandatangani. Setelah


kutandatangani kertas ini, itu artinya aku harus siap dengan segala hal yang


akan terjadi. Namun, tidak ada pilihan lain. Ini semua demi keselamatan


orang-orang yang kucintai.


“Silakan di sini pak.” Ucap seorang perawat yang sejak tadi


menungguku untuk menandatangi surat itu.


“Ya. Bismillah.”


Setelah mendapat apa yang ditugaskan padanya, perawat itu


pergi. Aku masih terdiam di sudut rumah sakit yang didominasi warna putih. Terbayang


pembicaraan aku dan Qay saat anak kami hadir nanti. Ya, Tuhan! Tukarlah sakit


mereka denganku. Aku sungguh kesulitan tanpa mereka.


Bulir-bulir air mata itu akhirnya berjatuhan. Aku menangis


tak mempedulikan orang-orang yang berlalu Lalang. Menyesal pun tak ada guna, aku


merasa gagal melindungi mereka.


“Zal, Ayo.” Ajakan Naufal membuatku tersadar. “Anak lo sudah


lahir.”


Aku langsung berdiri, lalu berjalan ke ruang tempat istri


dan anakku sedang berjuang.


Belum sampai ruang operasi, Bunda dan ghaisa berdiri di


depan sebuah jendela dengan kaca ukuran besar. Perlahan kudekati bunda. Ia sedang


menatap seorang bayi mugil di dalam incubator.


“Anak kalian laki-laki, Zal. Ia sangat kecil. Tadi dokter


bilang kalau terlambat sedikit lagi, dia tidak akan selamat.” Ucap bunda sambil


menoleh kepadaku. “Dokter bilang kondisinya tidak terlalu buruk. Namun beratnya


hanya 1,8 kg. jika nanti semuanya sudah normal anakmu bisa keluar dari incubator


ini.”


Aku terdiam. Mataku tak berhenti berurai air mata. Senyuman Qay


yang melintas di pikiran membuatku merasa pilu.


“Bayi kecil itu anak kita Qay. Kalian janji ya berjuang Bersama


dan tidak akan meninggalkanku.” Gumamku lirih.


“Qay….Qay bagaimana Bunda?” tanyaku, tersadar belum


mengetahui kondisi Qay.


“Dia…” Bunda tidak melanjutkan kata-katanya. Ia larut dalam


isak tangis.


Qay!


Aku berlari menuju ruang operasi.