Blind is Love

Blind is Love
Tips Ala Afzal



“sumringah amat, bro! Ini pasti karena lo ngga datang ke sini kan beberapa hari?” tanya davin ketika kami bertemu di lorong sekolah.


Yudha tak berkomentar, ia sibuk dengan tumpukan kertas laporan yang sedari tadi ada di sampingnya.


“kenapa, dha?” tanyaku


“Yudha stres, lo ngga datang!” jawab davin.


“gimana qay? Kandungannya sehatkan?” ucap yudha, balik bertanya.


“Hamil!!!” teriak davin.


“lebay lo!” ucap yudha sambil melempar pulpen ke arah davin yang berada tepat di depannya.


Davin tak peduli dengan lemparan yang tepat mengenai kepalanya. Ia malah memasang ekspresi serius, menunggu jawabanku.


“apa sih lo? Istri gue hamil, lo heboh gitu?”


“lah....lah bukan gitu zal! Lo kawin di saat status lo pelajar aja aneh, dan sekarang kita belum selesai uji kompetensi, lo dah berhasil bikin anak! Ini gue yang ketinggalan atau lo yang kecepetan?”


“ya, kemujuran orang itu beda bro! Mungkin ini karena amal gue lebih banyak dari lo, jadi Allah kasih gue duluan!” ucapku sambil meledeknya.


“sial lo!” ucap davin sambil memukul pelan pundakku.


“emang lo ngga pakai pelindung zal?” tanya davin lagi, masih belum hilang rasa penasarannya.


“pakai lah, Cuma pernah beberapa kali gue ngga pakai karena penasaran rasanya beda atau sama! Untung bini gue ngga tahu, kalau tau bisa ngamuk dia!”


“maksud lo? Si Qay ngga tahu bedanya pakai dan ngga pakai gitu?”


Pertanyaan davin aku jawab dengan anggukan kepala saja.


“sumpah ya, bini lo polos banget! Gila! Mau dong gue bini kayak Qay gitu, dia punya ade ngga sih?”


Kali ini giliran aku yang melempar davin dengan sebuah buku yang aku pegang.


“Gue serius zal, jarang loh cewek yang kayak qay! Orang-orang kayak kita tuh butuh pendamping kayak qay gitu. Biar kalau kita berlayar tenang, karena istri kita sholeha, polos, dan .... ibu rumah tangga banget deh!”


“jodoh dan selera orang beda-beda bro!” yudha yang sejak tadi diam, baru mengeluarkan suaranya.


“iya sih! Gue aja ekspetasinya cewek itu harus liar di ranjang, biar ngga ngebosenin!” ucap davin sambil meluk tiang yang menjadi sandarannya.


“eh, kalau Qay liar ngga zal di ranjang?”


Kali ini aku hampir melemparnya dengan kursi yang aku duduki. Tanpa rasa bersalah davin hanya cengengesan sambil mendekap tangan di depan dada meminta maaf.


“sorry, sorry! Mestinya gue ngga nanya ya! Kalau sampai hamil pastilah permainan sudah teruji!”


“itu rahasia gue! Makin pengen lo kalau gue jawab pertanyaan lo yang ngga penting itu!”


“oke...oke! Tapi zal, kalau Qay punya saudara atau teman bolehlah gue dikenali. Kayaknya dapat cewek berhijab, hidup gue bakalan lebih damai.” Ucap davin sambil merangkulku.


“ngga ada, stok temannya qay udah diambil sama yudha!”


“waduh, grecep lo dha diam-diam!”


Yudha tak memedulikan ucapan davin, kali ini dia sibuk dengan HP nya.


Setelah davin pergi, aku pun beranjak dari tempat kami tadi. Namun, tiba-tiba yudha menghalanginya dan memintaku untuk duduk kembali.


“kenapa sih lo? Gue perhatiin dari tadi ruwet banget.” Tanyaku setelah duduk lebih mendekat ke yudha.


“gue bingung, zal! Belakangan ini gue perhatiin arien makin agresif!”


“lah, si arien bukannya dari zaman perang diponogoro emang begitu!”


Yudha melihatku dengan melotot, mengisyaratkan bahwa ia tak suka kalimatku.


“o..oke! Sorry.” Ucapku refleks.


“beberapa kali kami ketemuan, dia selalu pakai baju yang seksi. Apalagi kalau di kos nya, super seksi, zal! Gue tuh bingung kenapa dia begitu.? Sikapnya pun seolah menggoda gue banget, zal!”


“nah, gue sekarang yang bingung nih! Bukannya lo senang yang begitu dha! Lo dah biasa kan dengan cewek kayak arien!”


“tapi ini beda zal, gue benaran sayang dia! Justru gue takut kalau hasratnya sudah terpenuhi, dia pergi ninggalin gue!”


Melihat ekspresi yudha, aku tahu kali ini dia serius.


“dha, sebenarnya perempuan itu ngga ribet kok! Ya, emang sih, kadang kita harus jadi orang yang super pengertian. Karena perempuan itu Cuma butuh dipahami.”


Yudha mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk.


“ lo kan tau hampir semuanya tentang gue dan qay! Wajar kalau lo masih belum paham tentang arien, gue aja yang sudah bertahun-tahun bareng qay, terkadang masih bingung. Kita itu jangan jadi hakim , yang bisanya Cuma bilang kamu salah, kamu benar, kamu harus begini, kamu harus begitu. Perempuan itu lebih suka kalau kita jadi psikiater. Meluangkan waktu buat mendengarkannya dan memerintahnya melalui saran. Mereka itu butuh didengarkan aja kok!”


“maksud lo, gue harus tanya kenapa dia begitu?” tanya yudha mulai bersemangat.


“iyalah, karena perempuan itu punya gengsi yang tinggi untuk mengungkapkan duluan. Kita yang harus inisiatif duluan. Ya, minimal tanya. Mereka itu kenapa? Maunya apa? Kita harus bagaimana?”


“ribet ya zal!”


“ya, kalau lo mau sesuatu butuh usahakan? Butuh ada yang dikorbankan, sekalipun itu prinsip!”


Yudha menganggukan kepala. Dia terdiam. Aku pun ikut terdiam. Hari ini bisa bilang begitu ke yudha, karena semenjak qay hamil, keegoisan sebagai seorang laki-laki harus diredam dalam-dalam kalau mau semuanya berjalan nyaman.


Tring....tring......


Suara panggilan dari HP yudha.


“halo, rien!” ucap yudha setelah dengan cepat mengangkat panggilan.


“rien.... sayang....rien!” ucap yudha dengan wajah panik.


“kenapa, dha?” tanyaku ikut panik dan bangun dari duduk.


“sorry zal, kayaknya gantian kali ini lo yang harus bantu kerjain tugas ini! Gue harus ke tempat arien. Takut dia ada apa-apa!”


“arien kenapa, dha?”


“ngga tahu, tadi Dia teriak minta tolong! Gue harus ke sana!”


Belum sempat aku bertanya lagi, yudha langsung ngeloyor pergi. Meninggalkan aku dengan kebingungan.