
Arien berlari di belakangku. Sepanjang koridor sekolah yang
kujejaki tak kutemukan orang yang brengsek itu. Bagaimana bisa Ranum terlibat
dengannya? Bagaimana Ranum bisa sebodoh itu? Aku menangis. Menyesal karena tak
menjaga ranum dengan baik. Selama ini aku sibuk dengan urusan Afzal sampai lupa
sahabat sendiri.
Begitu aku melihat papan petunjuk kelas X MIA 5, aku
langsung memasukinya, mataku mencari dia, ketika kudapati wajah bajingan itu,
aku langsung menendang mejanya hingga roboh mengenai si bajingan yang sedang
mengobrol dengan teman-teman kelasnya.
“Gila lo ya! Sok jago banget sih Qay!” ucapnya tak kalah
marahnya dengan tindakanku.
“LO YANG GILA DEWA!LO SUDAH KENAL RANUM DARI SMP!LO TAHU
RANUM ITU ANAK YATIM PIATU!LO BAJINGAN!”
“gue ngga maksa dia! LO DENGAR YA, TEMAN LO YANG MAU, BUKAN
GUE PAKSA! LO YANG NGGA KENAL SAHABAT LO SENDIRI, YANG NGGA BENAR!”
Plakkk
Aku melayangkan tamparan ke laki-laki berengsek itu.
Plakkk
Kini jemari dewa yang kotor juga mengenai pipi kananku. Ketika
ia ingin melakukannya lagi tangan kak naufal menghalanginya. Aku tidak tahu
berapa orang dan siapa saja yang menahan kami. Saat itu aku hanya ingin
menghajar laki-laki maniak yang sudah kukenal sejak SMP ini. Air mataku
mengalir deras, membayangkan kondisi ranum saat ini.
Beberapa anak perempuan menarikku dari kelas dewa. Aku masih
saja berusaha untuk menghajarnya.
“Qay, PLEASE TENANG!” pinta arien padaku, yang membuatku
tersadar untuk lebih mengendalikan emosi.
“lo tau dari mana, ada video itu? Lo dah melihatnya , rien?”
tanyaku khawatir.
“gebetan gue yang kirim, katanya itu sudah tersebar luas di
SMA Mawar!”
Mendengar penjelasan arien otot-otot kakiku melemah, aku
terduduk di lantai tak peduli kondisinya yang kotor. Sakit di dada tak juga
hilang meskipun tanganku menepuk-nepuknya. Air mataku tak juga mengering.
Ranum. Aku mengambil HP dalam kantong. Segera kuhubungi nomor Ranum. Namun nomor
yang aku tuju tidak dapat dihubungi. Aku semakin kalut.
“kenapa ranum begini ya, Qay?”
“harusnya gue aja yang jadi cewek jalang!”
Arien pun menangis di sampingku, kami berpelukan, kami tidak
tahu apa yang harus kami lakukan, sementara ranum tidak bisa dihubungi.
MAAF RANUM, SEHARUSNYA AKU LEBIH PEDULI SAMA KAMU!
Guru masuk kelas hanya di dua jam terakhir pelajaran. Itu pun
aku tak bisa mengikutinya dengan baik. Seluruh isi kepalaku penuh dengan ranum.
Sepertinya rapat dadakan itu karena adanya kasus ini. Ketika bel pulang
berbunyi, Aku bergegas menuju kelas dewa lagi. Namun orang yang aku cari sudah
meninggalkan kelas.
“Qay, qay!” teriak Fadia salah satu teman kelasku.
“arien bilang lo sekarang ke depan, di luar gerbang dewa
ditonjokin orang!” ucap fadia dengan napas yang tersengal-sengal.
Tanpa berpikir panjang aku segera berlari menuju gerbang. Semua
sudah ramai di sana. Aku tembus keramaian itu, dan mataku terbelalak.
AFZAL, iya afzal sedang **** dewa dan memukulnya dengan
membabi buta!