
Kalau diingat-ingat dia cowok yang sama saat aku melihat Qay
kemarin di sekolahnya. Cowok yang membelai kepala Qay. Sekarang mereka
mengobrol dengan sangat intim, saling tertawa dan memandang satu sama lain. Qay
sampai tidak tahu bahwa aku sudah ada di belakangnya sejak tadi.
Mereka sedang membicarakanku. Kenapa Qay tidak mengiyakan
saat cowok itu bertanya, apa aku ini pacarnya! Rasanya tubuhku memanas,
tanganku mengepal, dan gigiku saling beradu karena rasa kesal. Oke, aku mulai
tidak bisa memahami diri sendiri! Aku menepis tangan cowok itu ketika dia
memegang dagu Qay, iya Qay, perempuan yang telah membuat aku tidak mempedulikan
perempuan lain selain dia, sekalipun perempuan lain itu lebih cantik dan seksi.
“Jangan pegang-pegang!cewek ini pacar gue!” ucapku pada
cowok itu.
“Afzal!!!” ucap Qay, setengah berteriak karena kaget.
Aku tak mempedulikan hal lain, segera kutarik tangan Qay
agar lebih mendekat kepadaku. Cowok itu menatapku dengan tajam. Dari matanya
aku tahu dia juga tidak menyukaiku. Untuk beberapa detik kami saling menatap. Kemudian
cowok itu melangkah maju hendak pergi. Dengan sengaja dia menyenggol pundakku.
Brugh ....
“siap-siap qay, 5 menit lagi lo harus tanding. Omongan gue
tadi bukan bercandaan Qay!” ucap cowok itu kemudian pergi.
Qay masih terdiam. Mungkin terkejut dengan kehadiranku.
“dia bicara apa sama kamu, de? Sampai ngga tahu kalau kakak
sudah dari tadi di belakang kamu!” ucapku sambil memegang kedua pundaknya.
Qay tidak menjawab, masih terdiam dan menatapku.
“Qay!” panggilku.
“kita bicara lagi nanti ya, aku harus tanding lagi!” ucap
qay
“kamu hati-hati ya, semoga berhasil, aku tunggu kamu!”
Qay setengah berlari ke lokasi pertandingan. Kemudian aku
mengikutinya untuk melihat. Qay begitu keren. Semua point dicapainya dengan
lincah. Kaki tangannya seolah memiliki lem sehingga lengket menempel pada
point-point di papan climbing itu. Hijab hitamnya seolah tak menganggu setiap
gerakannya. Diantara semua peserta perempuan, hanya Qay yang berhijab. Aku semakin
bangga memiliki perempuan seperti dia.
Akhirnya, qay keluar sebagai juara pertama di kategori
perempuan. Ia berhasil membawa piala dan sejumlah uang. setelah acara serah
terima hadiah dan berpamitan dengan teman-teman sekolahnya, Qay berjalan ke
arahku. Wajahnya memang tak begitu cantik, tapi bagiku semuanya tampak cantik. Tak
ada hal yang tak membuatku tertarik pada Qay.
“selamat ya!” ucapku kepada Qay
“terima kasih, aku ganti pakaian dulu ya!”
Saat melihat qay dari belakang, ia terlihat begitu mungil. Tapi
dia bukan perempuan biasa, dan sampai kapanpun Qay dan aku harus bersama.
“ayo!” ajak qay setelah ia mengganti pakaiannya.
Hari ini dia tampak cantik dengan menggunakan sweater pink
yang ada tutup kepalanya, dipadukan dengan rok berbahan jeans. Sangat sederhana,
tidak kelihatan ribet, tetapi membuatnya terlihat tambah manis. Ia menggunakan
tas ransel Eiger-nya yang berukuran sedang dan sepatu kats yang selaras dengan
warna bajunya. Rupanya selera warna pink-nya tak berubah sejak SMP.
“Kok kamu ke sini?” tanya Qay saat kami duduk di kantin
“pacar lagi bertanding, masa aku ngga datang!” jawabku
sambil menatap Qay.
“sekolah kamu?”
“lagi libur, makanya bisa keluar dari asrama!”
“cowok tadi siapa, de?”
“namanya kak naufal, senior aku di ekskul. Dia yang bantu
aku latihan dan diberi tanggung jawab sama sekolah untuk mengurus event ini!”
“kamu ada hubungan apa sama dia?” tanyaku lagi.
“ya, hubungan pertemanan aja! Lagian zal, dia itu punya
banyak pacar yang cantik-cantik!”
“KAKAK!!”
“Iya kakak afzal!”
Kami tertawa bersama. Mataku tak berpaling sedikitpun
darinya. Rasanya waktu ingin kusetting menjadi lebih lambat saat bersamanya. Banyak
hal yang kami ceritakan. Bercanda, atau sekadar memberikan kata-kata gombal.
“kita naik ini?” tanya Qay saat aku mengajaknya ke parkiran
motor dan berhenti di depan sebuah motor ninja.
“ngga mau?” tanyaku.
“kenapa ngga naik angkutan umum aja! Jakarta – bekasi jauh
loh, lagian kamu kan belum punya SIM?”
“iya nanti ke bekasi kita naik mobil angkutan umum. Sekarang
mumpung kamu lagi di jakarta, dan waktu juga belum terlalu sore, aku mau ajak
kamu main dan kenal sama teman-teman aku!”
“jangan lama-lama ya, aku ngga mau bunda khawatir!”
“siap boss!”
Tubuh qay yang mungil dan rok yang dipakainya agak
menyulitkan Qay untuk naik ke atas motor. Tapi bukan Qay namanya kalau tidak
bisa. Dia sama sekali tidak manja, tidak mengeluh, dia malah berusaha
menyamankan diri agar tidak membuatku repot.
“ngga mau pegangan Qay?” tanyaku saat kami sudah mulai
berjalan.
“kamu sengaja ya, bawa motor model begini?”
Pertanyaan qay justru membuat aku terkekeh. Dia memang
perempuan yang cerdas dan terlalu ceplas-ceplos.
“modus sama pacar sendiri mah boleh kali, de!”
Qay memukul punggungku pelan. Kami tertawa bersama lagi. Motor
ku gas dengan pelan. Agar kami berdua dapat lebih lama menikmati perjalanan di
atas motor ini. Jarak kami begitu dekat. Membuat darahku seakan naik turun
dengan cepat. Aku begitu gugup. Senang. Berharap Qay memelukku. Namun sayang,
perempuan ini hanya memegang punggungku saja. Ia tetap berusaha menjaga jarak
denganku. Tetapi, semua yang dia lakukan membuatku semakin jatuh hati padanya. Dia
pandai menjaga diri, kalau dengan aku saja yang sudah jelas berstatus sebagai
pacarnya, tentu dia juga akan lebih menjaga sikap ketika bersama laki-laki lain
yang hanay berstatus temannya.
Hanya saja, Qay terlalu ramah dan menyenangkan. Aku takut
hal inilah yang akan membuat laki-laki di sekitarnya salah paham. Karena aku
merasa, semakin aku mengenal Qay, aku semakin menyayanginya. Dia begitu
spesial.