Blind is Love

Blind is Love
Bunda Kami Ingin Menikah



"sejak papa memutuskan untuk menikahi sekretaris papa


di saat mama berjuang keras melawan penyakit kanker, di saat itulah saya juga


memutuskan untuk tidak akan ikut campur segala urusan rumah. Kondisi saya


terlalu muda untuk kerja sambil sekolah. Maka selama ini,  selain urusan sekolah dan makan,  saya tidak pernah mau menerima apapun dari


papa! " ucapku penuh rasa percaya diri saat menemui papa setelah


menyelesaikan tugas lapangan dari sekolah.


"tapi kali ini semua rasa itu saya pendam jauh,  dan berharap papa mau membantu saya! "


"ngga usah bertele-tele!  Apa masalah kamu? " tanya papa dengan


tegas seperti biasa.


" saya butuh bantuan papa,  untuk melamar dan menikahi seseorang! "


Hahahaha.....


Papa tertawa terpingkal-pingkal dan aku memilih menahan diri


agar tidak merasa emosi melihat papa menganggap ini semua hanya lelucon.


"sorry! " ucap papa masih tertawa,  dan nadanya seperti mengejekku.


"papa! " ucap istri barunya sambil memegang bahu


papa.


"oke.....! "


Papa terdiam lagi.


"bawa dia ke sini,  setelah bertemu perempuan itu,  saya akan beri kamu jawaban! " ucap papa dengan tatapan mata yang


begitu tegas.


"oke,  ini


terakhir kalinya saya buat repot! Terima kasih! " ucapku dan beranjak


pergi dari hadapan mereka.


*


Aku bersandar pada kursi mobil.  semua kejadian antara aku dan papa terputar


ulang kembali di otakku.  Saat


Mengandalkan papa adalah cara terbaik yang dapat aku


pilih,  kondisiku yang masih sekolah dan


belum memiliki penghasilan tentu membutuhkan waktu jika harus mengumpulkan uang


untuk menikahi Qay.


Mataku melirik ke arah jam tangan


Sudah pukul 09.00 tetapi Qay belum juga keluar dari kamar


kos arien.  Apakah Qay sakit?  Atau sudah pergi?  Tapi ngga mungkin aku sudah ada di sini sejak


pukul 03.00 dini hari.


Rasa cemas membuatku kembali lebih cepat. Aku


menunggunya,  dan harus segera bertemu


bunda untuk menyampaikan niatku.


Seseorang keluar dari kamar kos arien,  perempuan yang aku cintai baru menampakkan


dirinya. Kubiarkan ia turun dari lantai dua dan berjalan ke arahku.


Brakk...


Suara pintu mobil yang kututup mengagetkannya.


"Afzal!" ucapnya.


"Assalamualaikum sayang! " sapaku dengan ceria.


"kamu sudah datang dari tadi?  Kok ngga kasih kabar? " tanyanya dengan


ekspresi bingung yang menggemaskan.


"kasih kejutan dong,  biar kayak film bollywood!"


"ayo Qay! " ajakku sambil membukakan pintu mobil.


"kemana?  Terus


kamu pinjam mobil siapa lagi? " tanya qay bingung.


Tanpa memberi jawaban. Aku langsung menariknya masuk ke


dalam mobil. Memastikan posisi duduknya nyaman,  dan memasang seat beltnya perlahan. Setelah itu aku masuk ke dalam mobil


dan membiarkan mobil ini melaju ke arah bunda Qay.


“Kamu boros banget deh! Kemarin sewa motor ke davin.


Sekarang sewa mobil! Sayang tahu uangnya, harusnya kita lebih hemat!” ucap Qay


memulai pembicaraan.


“Sekarangkan hari spesial, jadi harus ada yang berbeda!”


“memang kita mau kemana?” tanya Qay lagi.


“Ke Bunda, setelah itu ketemu papa aku!” jawabku sambil


mengedipkan satu mata dan senyuman genit kapada Qay.


“Jadi serius ya?”


Aku langsung membanting setir ke sebelah kiri dan


menghentikan mobil secara tiba-tiba. Qay kaget dengan tindakanku.


“AFZAL JANGAN BERCANDA,DEH!” teriaknya padaku.


“kamu yang jangan bercanda, aku itu serius. Kalau bunda dan


papa setuju, kita nikah!” jawabku dengan nada kesal.


“i...iya maaf!” ucapku dengan nada pelan.


Mobil yang aku kendarai  berhenti di depan pagar. Sepertinya sudah sepi


dari sisa acara semalam. Aku berharap naufal mendengar, agar dia berhenti


mengganggu Qay. Kami turun dari mobil dan melangkah masuk. Qay mengetuk pintu


dan mengucapkan salam. Tak berapa lama, bunda sendirilah yang membukakan pintu.


Kemudian kami duduk di ruang tamu.


“kak ghisa kemana, bun?” tanya Qay setelah celingukan di


rumahnya sendiri.


“baru saja pamit pulang ke rumah Naufal! Kalian tidak


bertemu ya?” jawab bunda.


Qay hanya menjawab dengan menggeleng.


Rasa gugup mulai menyelimutiku, aku takut apa yang aku


harapkan tidak sesuai kenyataan. Semoga saja bunda menyukai dan mengizinkankku


untuk meminang Qay.


“Terima kasih ya, nak! Sudah bantu bunda jaga Qay!” ucap


bunda lembut.


“itu tugas aku kok, bun! Aku justru khawatir kalau ngga ada


buat Qay!”


“Alhamdulillah!”


“Bunda!”


“Iya, Nak Afzal!


Semua terdiam cukup lama.


“Bunda, Izinkan Kami menikah!” ucapku dengan terbata.


Bunda masih terdiam dan kediamannya membuat jantungku seperti


akan loncat keluar dari kerangkaku.