
Krekkk....
Pintu kamar pun terbuka. Bola-bola mataku membesar. Takjub dengan apa yang kutatap saat ini. Hanya dengan lampu kamar yang menyala, cahaya begitu redup, namun masih terlihat jelas. Di atas badcover berwarna putih tulang dihiasi kelopak-kelopak bunga mawar merah yang dibentuk gambar hati. Ada lilin yang menyala di atas meja lampu tidur, baik di sisi kiri maupun di sisi kanan. Selain itu dari jendela aku dapat melihat beberapa lilin yang menyala di luar balkon, uh... romantisnya!
Perempuan yang aku cintai keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan langkah kaki ke dalam kamar. Ia memberiku sebuah senyuman, wajahnya terlihat sangat cantik. Tubuh mungilnya yang berbalut baju tidur dengan leher dan dada yang terbuka, celana pendek ketat sehingga memperlihatkan bagian paha dan bokongnya yang tak pernah kulihat sebelumnya, sangat sexy.
Aku mendekatinya, mataku tak pernah sedikit pun berpaling dari wajahnya. Rambutnya yang sebahu tergerai indah melengkapi kekagumanku malam ini padanya. Saat tanganku menyentuh pinggangnya, ia tak menghindar sedikitpun, membuat Ku semakin bergairah untuk memeluknya. Ku tarik istriku tercinta ke dalam dekapan. Hem... harum seperti buah stroberi menyergam indera penciumanku!
“Ganti baju dulu, biar nyaman tidurnya!” pinta Qay sambil mencoba melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya.
“emm....ngga mau! Bentar aja begini!” jawabku manja.
Entah apa yang merasuki Qay malam ini! Dia begitu berbeda, begitu penurut. Permintaanku pun tak ditolaknya. Ku eratkan lagi pelukanku, bibirku mulai menyentuh setiapjengkal kepalanya. Harum rambutnya pun tak membuat kumerasa bosan. Ingin rasanya waktu terhenti, dan membiarkan kondisi ini terus terjadi.
Sambil memeluk aku langkahkan kaki agar Qay mengikutinya. Kubawa tubuh mungilnya mendekati kasur tidur kami yang masih rapi dan cantik dengan hiasan. Di tepi kasur bibirku mencium setiap sisi wajahnya, dari kening, pipi, dan bibir. Qay begitu penurut. Berbeda saat malam pertama pernikahan kami.
Denyut jantung berpacu dengan cepat, setiap sentuhan membuat tubuh mengejang seperti tersengat aliran listrik. Hanya desah napas yang terdengar. Ya Tuhan, inilah kenikmatan dunia yang telah Kau berikan setelah sekian lama aku menahan diri! Berusaha mempertahankan diri di antara vulgarnya perilaku teman-teman menikmati kebahagian semu dengan pacar-pacar mereka.
Kau begitu sempurna.....
Di mataku kau selalu indah.
Kau membuat diriku, akan selalu memujamu.
Suara dering dari Andra and the backbone, ‘sempurna’ berbunyi tak berhenti. Membuat si pemilik Hp mendorongku pelan agar melepaskan bibirnya yang sedang kulumat. Ah, siapa tengah malam begini telepon! Dalam hati aku mengumpat.
“aku angkat dulu, takut dari bunda!” pinta Qay padaku.
Ya Tuhan, aku malu sendiri, jika itu bunda. Kenapa sulit sekali mengendalikan diri jika sudah bersama Qay?
“Halo, iya rien!”
Kalimat sapaan Qay membuatku tahu siapa si pengganggu itu. Hatiku yang semula tenang, kesal lagi.
“Udah ya, ada Afzal!”
Setelah Qay menutup panggilan, aku berjalan menghampirinya. Tanpa izin, aku langsung memeluknya lagi. Tapi kali ini dari belakang. Dari bahasa tubuhnya, aku tahu Qay agak kaget.
“siapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“a....arien!” jawab Qay agak gugup, karena aku mulai menciumi telinganya.
“Arien bilang.....e....katanya....ehm....biar aman pakai pelindung!” ucap Qay ragu-ragu. Aku menghentikan ciuman, dan berbisik di telinganya.
“pelindung? K*ndom maksudnya?”
Sedikit bergidik, mungkin karena geli, qay hanya mengangguk. Kemudian, ia berjalan ke arah meja rias di sisi kiri tempat tidur. Dibukanya laci dan diambilnya suatu barang. Dalam keadaan cahaya yang redup aku tak terlalu jelas apa yang diambil olehnya.
Aku menghampirinya, kemudian Qay memberikan benda yang baru saja diambilnya dari dalam laci.
“kamu sudah siapin ini segala?” tanyaku setengah meledeknya setelah aku tahu bahwa benda itu adalah k*ndom.
“Arien yang kasih, kita masih harus selesaikan dulu sekolah kan? Lagi pula arien bilang perempuan kalau hanis menstruasi itu lebih subur!” jawab Qay dengan sikap malu-malu.
“De, coba buka laci yang sebelahnya!”
Tanpa banyak tanya, qay melakukan apa yang kupinta. Setelah membuka laci, qay malah tertawa.
“itu yudha yang kasih, katanya cukup buat tiga bulan!” ucapku sambil mengambil pelindung yang diberikan yudha dalam jumlah banyak itu.
Kami pun tertawa bersama. Rupanya, arien dan yudha memiliki kecocokan pikiran.
“jangan sampai mereka ketemu, Kak! Bisa gawat!”
“kakak juga pikir begitu!” ucapku sambil tertawa dan memeluknya lagi.
“sudah, sekarang waktu untuk kita! Jangan pikirin orang lain.” Ucapku lagi.
Qay tetap diam. Menikmati setiap sentuhan yang kuberikan. Dan malam ini waktu berjalan terasa lebih singkat. Setiap menit yang berlalu menjadi kenangan yang tak akan kami lupakan. Semua terasa indah di waktu yang tepat.