
Sejak duduk di jok samping, Qay hanya bersandar dan memejamkan matanya. Aku tahu dia tidak tidur. Sebab napasnya belum terdengar teratur seperti biasanya dia tidur. Hem... mungkin dia menghindari pembicaraan denganku! Atau dia sedih berpisah dari si angga? Wajar saja aku bersikap begini, dia perempuanku, dia istriku, semua orang harus tahu. Apalagi si angga, jangan seenaknya pegang dan peluk. Cih...! Mana ada persahabatan antara mereka? Perempuan dan laki-laki itu diciptakan untuk menjadi pasangan.
Aku terus ngedumel dalam hati. Sesekali menengok ke arah Qay, memastikan dia sudah membuka matanya atau belum. Kenapa sekarang seperti aku yang buat salah? Padahal susah payah aku ke sini menemuinya. Meninggalkan tugas-tugas yang masih menumpuk. Ah, sudahlah! Nanti sampai rumah baru semuanya dibicarakan. Aku kembali fokus melintas setiap sisi jalan, agar selamat sampai di rumah.
Setibanya di rumah, tanpa dibangunkan Qay membuka mata. Dengan sigap turun dari mobil, tanpa menoleh ke arahku yang hanya terpaku memandanginya. Dia berjalan masuk tanpa sepatah kata pun. Aku menyusul masuk dengan membawa beberapa kantung plastik buah yang ku beli sebelum reuni.
“Assalamualaikum, bun! Afzal pulang!” ucapku saat masuk sudah disambut bunda di ruang tengah.
Kucium tangan ibu mertua, meletakan barang di atas meja.
“Qay kenapa nak? Kok masuk rumah ngga ada suaranya?” tanya bunda lembut sambil mengajakku duduk di sofa.
“tadi di depan teman-teman SMP aku cium Qay bun! Masalahnya dapat tantangan cium cewek, masa iya cium yang lain kalau ada Qay!”
Bunda tertawa. Kubiarkan ia tertawa, sebelum kusambung lagi ceritanya.
“jadi teman-teman sudah tahu kalian menikah?” tanya bunda sambil terkekeh.
Aku hanya menganggukan kepala, mengiyakan pertanyaan bunda.
“sudah tenang nak! Biar bunda yang urus!”
“Qay! Ini suami kamu belum dibuatkan minum loh, ngapain sih di kamar?”
Qay keluar dari kamar, rambut hitamnya terurai dengan indah. Ia sama sekali tidak menatap mataku. Ia berjalan menuju dapur.
“kamu harus sabar ya, zal! Qay itu kalau lagi ngga mood gitu, manyun!”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan bunda.
“Qay itu biar ngga marah diapain bun?”
“dulu sih diajak jalan-jalan langsung happy!”
“berarti aku ajak ke pulau kasur aja dulu ya, bun!”
Kami tertawa bersama, ketika Qay datang dari arah dapur dengan segelas coklat panas favoritku, aku dan bunda berusaha menahan tawa. Gelas itu diletakkan di atas meja masih dengan memalingkan pandangannya dariku.
“kalau lapar, sudah disiapkan di atas meja, makan saja aku ngga lapar!”
Aku memandangnya yang bicara tanpa melihatku.
“temani suami makan, Qay!” ucap bunda.
“ aku mau mandi bun! Bunda aja yang temani!” ucap Qay, kemudian berjalan meninggalkan kami.
Tinggallah aku dan bunda yang saling pandang dan tertawa lagi.
“pernikahan itu ikatan yang ajaib, zal! Ikatan yang membuat orang asing terasa seperti keluarga sendiri!” ucap bunda setelah menghentikan tawanya.
“kita bisa menjadi diri sendiri ketika bersama pasangan kita. Ngga harus selalu tampil cantik, buang gas di depannya, mengeluarkan kemarahan dan air mata tanpa takut pandangan jelek darinya. Itulah keajaiban ikatan pernikahan. Ada saatnya kamu merasa tak bisa hidup tanpanya, dan ada saatnya dimana kamu tidak ingin melihat wajahnya. Pernikahan itu perjanjian kita dengan Tuhan. Maka berusahalah hanya maut yang akhirnya membuat kita dengan pasangan terpisah sementara sampai dipertemukan lagi di surga!”
Petuah bunda begitu menenangkan hati. Semua yang disampaikan berdasarkan pengalamannya. Ah, pernikahan ini sungguh membuatku merasa sempurna! Sosok seorang ibu yang kurasakan telah lama hilang, kini hadir kembali bersama bunda. Aku hanya menjawab semua nasihatnya dengan menggenggam erat tangan tuanya. Mataku menatap dan berkata, ‘aku janji akan menjaga kalian seumur hidup!’
“ayo kita makan, sebelum tante dan om menjemput!” ajak bunda.
“loh, memang bunda mau ke mana?”
“mau aku yang antar bun?”
“afzal istirahat aja, pasti cape. Lagipula bunda baru pulang lusa, mau silahturahmi ke salah satu saudara di sana!”
“oh, oke!” ucapku sambil manggut-manggut.
***
Setelah mengantar bunda, om dan tante pergi. Aku dan Qay kembali ke dalam rumah. Ia sudah mandi dan menggunakan baju tidur mirip daster hanya berwarna biru muda yang polos. Aku masuk ke kamar mandi, dan membersihkan diri. Saat keluar, kulihat Qay duduk bersandar di tepi kasur sambil membaca sebuah novel. Sengaja aku melepas handuk dan memakai baju di depannya.
Sekilas wajahnya semakin tertunduk lebih dalam dan menutup wajahnya dengan novel yang dipegangnya. Bibirku menyunggingkan senyum licik.
Setelah memakai sebuah celana boxer di atas lutut, aku ikut duduk disampingnya. Qay masih berpura-pura tidak terusik. Membuatku semakin gemas untuk menggodanya. Saat kepala kutaruh dengan sengaja ke pahanya, qay langsung meletakkan bukunya dan memandangku dengan sinis. Aku membalasnya dengan tersenyum selebar mungkin.
“bangun ngga?” ucapnya kesal.
“sudah kok....sudah bangun dari tadi!”
Mendengar jawabanku, wajah Qay memerah secara tiba-tiba.
“Kak, ngga lucu! Maksud aku kepala kamu yang bangun!”
Aku tertawa meledek.
“ngga mau!” ucapku sambil menarik kepalanya perlahan agar wajahnya mendekat ke wajahku. Qay berusaha agar tak tertarik. Tapi tenaganya masih kalah denganku dan akhirnya dia menjerit.
“auwww....sakit!”
Aku menghentikan tarikanku dan beranjak dari pahanya. Begitu sudah dalam posisi duduk, sebelum Qay menjauh, aku kembali menarik tubuhnya dan mendekapnya dalam pelukanku. Lagi-lagi dia meronta menolakku.
“Dosa loh menolak suami!”
Ucapanku menghentikan reaksi penolakannya. Ia mulai tenang, dan membiarkan aku memeluknya.
“aku ngga suka cara kamu tadi! Angga itu sahabatku dari kecil. Aku kenal dia jauh sebelum bersama kamu!”
Aku melepaskan pelukan saat mendengar ucapan Qay.
“de, kamu anggap dia sahabat, tapi dia belum tentu! Terbuktikan dia marah saat tahu kita nikah. Di antara lelaki dan perempuan sulit untuk bisa bersahabat, sebab kita ini lawan jenis yang pasti memiliki ketertarikan satu sama lain!”
“tapi buat aku selamanya sahabat ya udah sahabat saja, ngga akan lebih!”
“oke, kita berhenti debat ini ya!sekarang kamu mau nurut kata-kata aku atau melawan?”
“aku Cuma....!”
“Qay!” panggilku menghentikan kalimat Qay.
Aku memeluknya lagi. Kali ini semua menjadi hening. Qay mengubah sikapnya menjadi lebih penurut.
Cup.
Cup.
Seluruh tubuhnya kujelajahi, kami terhanyut dengan kenikmatan dunia dan membiarkannya menyatu secara alamiah. Tak ada kenikmatan yang dapat melampaui masa-masa ini, sekali melakukan, ingin lagi, lagi dan lagi.