Blind is Love

Blind is Love
Adegan Panas



Hari ini Afzal datang lebih awal. Sebelum zuhur dia sudah


duduk cantik di sofa tanpa memberi kabar. Bahkan dengan senangnya melihatku


bernyanyi dan menari india tanpa menggunakan hijab. Malu, tapi tidak bisa marah


karena dia selalu punya cara untuk membuatku tertawa. bagaimana seorang cowok berbadan atletis sepertinya bisa menari bollywood?


Setelah menyelesaikan segala pekerjaan rumah, kami berangkat


ke sebuah mall yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sudah menjadi


rutinitas bagi kami untuk sekadar menonton atau duduk di kafe mall. Sejak di


dalam gedung bioskop Afzal selalu mencuri kesempatan untuk mengenggam tanganku.


Sekeras apapun aku berusaha menghindar tetap kalah oleh usahanya yang tanpa


lelah mencoba menggenggamku.


Akhirnya aku membiarkannya mengandeng tanganku sampai keluar


dari bioskop. Aku sebenarnya risih, sebab aku kurang suka melihat perempuan


yang  berhijab bermesraan dengan lelaki


yang belum jadi mahramnya. Tetapi, Afzal itu tipe lelaki yang pantang menyerah


kalau sudah punya keinginan.


“Kamu kenapa bawa motor sih dari jakarta ke sini?” tanyaku


ketika kami duduk di sebuah kafe sambil menunggu pesanan datang.


“biar bisa dekat kamu!”jawab Afzal sambil mengedipkan satu


matanya dengan genit.


“memangnya Davin ngga pakai motor ini, kayaknya kamu sering


pinjam?”


“Pinjamnya ngga gratis tahu! Aku sewa 100 ribu ke dia. Kadang


davin tanya kalau ngga aku pinjam, soalnya kalau dipakai yang lain dia ngga dapat


uang. kebetulan dia sekarang jomblo jadi ngga terlalu butuh motor!”


“Kalau gitu kamu lebih banyak keluar uang dong, sudah


besok-besok naik angkutan umum aja! Lagian motornya terlalu tinggi bagian


belakang, aku jadi kurang nyaman!”


“memang itu yang dicari!”


“Apa Zal?” tanyaku karena suara afzal terlalu pelan.


“Ngga! Besok beli korek kuping biar ngga bolot ya!” jawab


Afzal sambil mengusap kepalaku dengan lembut.


Aku pura-pura mengelak, padahal aku sangat suka ketika Afzal


mengelus kepalaku, entah mengapa aku merasa itu adalah cara orang menyatakan


perasaan sayang.


“Nanti mampir sebentar ya, aku mau ambil buku tugas di


tempat kos arien!”


Afzal hanya menganggukkan kepala dan mengangkat jempol


kanannya, pertanda Ia setuju dengan permintaanku.


Selesai menghabiskan dua gelas jus dan sepiring kentang


goreng, kami bergegas keluar dari Mall dan melanjutkan ke tempat kos Arien. Inilah


yang membuatku malas naik motor dengan afzal. Motor sport selalu memposisikan


bagian jok  belakang lebih tinggi,


sehingga membuat yang dibonceng mau tidak mau menempelkan badan ke depan.


Sejak memutuskan berhijab, aku sudah tidak bisa lagi


bersikap sembarangan. Aku paling tidak suka mendengar celetukkan nyinyir “percuma


pakai hijab kalau masih maksiat” padahal ketika seseorang mengambil keputusan


untuk berhijab, dia butuh proses untuk berubah menjadi lebih baik dan


hijabnyalah yang akan membantu mengingatkan ketika Ia akan berbuat hal yang


kurang pantas.


ke bunda!” ucap Afzal ketika kami berada di atas motor.


“iya ini pegangan, tapi jangan pikir aneh-aneh ya! Besok kalau


pergi pakai motor begini lagi mending naik angkot!” ucapku ketus.


Tanpa menjawab, tiba-tiba Afzal menarik gas dengan kencang


sehingga membuatku refleks memeluknya. Terdengar suara terkekeh Afzal. Aku mencubit


pinggangnya dengan keras.


“AUWWW! Oke maaf, maaf ....!” teriak afzal.


Kami memasuki sebuah perumahan tak jauh dari sekolah. Sebenarnya


Arien berasal dari keluarga kaya. Mama dan papanya punya perusahaan di bidang


pertambangan. Tapi selama kami berteman, aku belum pernah bertemu dengan


mereka. Arien bercerita bahwa orang tuanya sangat sibuk dan jarang di rumah. Hal


itulah yang membuat arien lebih sering menghabiskan waktu di tempat kos yang


letaknya tak jauh dari sekolah.


Roda motor berhenti didepan sebuah rumah. Rumah ini didesain


menjadi rumah kos, tidak ada banyak kamar. Hanya tiga kamar di lantai atas dan


tiga kamar di lantai bawah. Arien, aku dan ranum sering menghabiskan waktu


untuk sekadar istirahat atau mengerjakan tugas bersama. Maka itu, arien


memberiku satu kunci cadangan agar aku bisa leluasa masuk jika ia sedang tidak


ada.


Meskipun hanya kamar kos, fasilitas di sini cukup lengkap. Kamar


mandi di dalam, ada AC, TV, dan kulkas kecil. Aku pikir Afzal menunggu di


bawah, ternyata dia menyusulku ke lantai atas.


“Arien kok pilih nge-kos? Bebas banget ya hidupnya?”


“maksud kamu Zal?”


“ini aku bisa ikut kamu masuk ke kamar, tanpa ada yang jaga


di bawah!”


“kamu......!”


Aku tak melanjutkan kata-kata ketika mendengar suara orang


berlari di tangga. Tanganku refleks menarik Afzal masuk ke kamar mandi. Saat afzal


akan bicara aku membekap mulutnya dengan telapak tanganku.


Brukkk .....


Pintu terbuka.


Cup....sehhh.....


Cup.


Cup.....!


Suara yang timbul dari orang yang berciuman. Ragu-ragu aku


mengintip dari celah pintu kamar mandi. Arien dan seorang cowok sedang


bertarung bibir. Tangan mereka saling menjelajah tanpa batas.


Ketika Afzal akan menolehkan kepala, aku dengan sigap


memegang kepalanya dengan kedua tanganku. menahan agar Afzal tak melihat adegan panas yang diperankan oleh arien. Sesaat kami terdiam. Saling menatap.


Deg.


Deg.


Suara jantung kami seperti bersautan. Wajah kami memerah,


setelah sadar tubuh kami saling merapat begitu dekat.