
“cuma bilang sayang atau cinta kok susah banget sih, Qay?”
ucap Afzal saat meneleponku.
“apa sih, ngga usah ajak ribut di telepon deh! Buang pulsa
tau!”
“aku sayang kamu, zal! Bilang gitu aja ngga mau!”
“aku matiin ya, teleponnya!” ancamku
“ya udah, afzal sayang banget sama Qay, cinta pakai
banget...banget!” ucap afzal dengan nada suara yang dibuat imut.
Sebenarnya aku sudah menahan senyum sejak tadi, berusaha
bernada judes. Padahal wajahku sudah memerah karena malu dan senang. Tapi aku
harus bersikap tegas suapaya Afzal ngga minta yang aneh-aneh. Soal ungkapan
cinta dan sayang, aku merasa itu terlalu murah jika diucapkan sekarang. Biar perasaan
ini hati yang merasakan.
“beberapa bulan ke depan aku ngga bisa ke rumah ya!”
Kalimat yang diucapkan afzal tiba-tiba membuat wajahku yang
tersenyum berubah.
“kenapa?” tanyaku ragu-ragu.
“ada uji kompetensi dan uji lapangan. Aku berlayar, praktek
kerja lapangan.”
“kemana? Berapa lama?”
“kayaknya sih ke sekitaran sumatera, biasanya tiga bulan!”
Aku terdiam. Tiga bulan? Heh.....aku menarik napas panjang.
“kalau bisa telepon nanti aku telepon. Tapi ngga janji,
soalnya ngga tahu kondisinya!” ucapan Afzal semakin membuatku terdiam.
“Qay!” panggil afzal ketika aku masih saja diam.
“ya sudah hati-hati! Jangan lupa shalat!” ucapku mencairkan
suasana.
“zal!”
“iya”
“aku percaya kamu!”
Gantian afzal yang terdiam.
“qay!”
“iya”
“hati kamu jangan ke yang lain ya, selama aku ngga ada
jangan terlalu dekat sama cowok mana pun. Salam buat bunda, maaf ngga bisa
pamitan langsung!”
“iya, nanti aku kasih tau bunda!”
“aku sayang kamu, qay!”
Tut........
“aku sayang kamu juga, zal!” ucapku setelah sinyal telepon
telah terputus.
“terima kasih sudah ada di hidupku!”
Aku membaringkan tubuh di kasur. Sambil memeluk guling, aku
menutup mata. Membayangkan wajah Afzal lengkap dengan seragam sekolahnya, yang
membuatnya semakin tampan. Senyuman di wajahnya terkadang membuatku hampir
menyerah menjaga diri. Ingin sekali memeluk dan menciumnya. Aku ingin
menunjukkan bahwa laki-laki tampan ini juga mencintaiku.
Tiga bulan. Baru tiga bulan, dulu saja kuat enam bulan. Tapi
dulu bukannya belum ada rasa cinta? Heh, ayo Qay! Mulai cari kesibukan lagi. Fokus
sekolah. Fokus ke bunda. Jangan biarkan pikiran dan tubuhmu menjadi budak
cinta. Biarkan waktu berlalu, nikmati hidupmu untuk sementara tanpa Afzal. Bukannya
kami sudah terbiasa LDR? Waktu pasti cepat berlalu.