Blind is Love

Blind is Love
Qay, Kamu Sakit?



Sepulangnya dari Bogor kami kembali sibuk dengan persiapan ujian. Untuk menghemat waktu dan tenaga afzal memilih pulang ke apartemen. Hal ini terpaksa kami jalani agar masa-masa akhir sekolah ini lebih efektif, afzal bertekad mendapat hasil yang terbaik agar lebih mudah mendapat kesempatan bekerja di sebuah kapal pesiar mewah dan mahal. Sebenarnya jika bicara materi, ia tak perlu berusaha sampai sekeras itu, sebab papanya pasti telah menyiapkan materi yang lebih dari cukup. Namun afzal adalah tipe orang yang sangat mandiri. Dia lebih suka berusaha dari nol.


Hubungan arien dan yudha semakin berjalan baik. Arien tidak lagi sibuk berkencan dengan berbagai macam laki-laki, ia mulai fokus dengan pendidikan. Rupanya hubungannya dengan yudha membawa dampak positif untuk arien. Kejadian antara mereka tak lagi kuhiraukan, mereka sudah dewasa. Lagipula jika itu membuat arien bahagia, tak perlu menjadi masalah. Semoga saja hubungan mereka awet dan selalu membuat mereka bahagia.


“Qay, lusa kita ujian! Lo sudah pastikan mau kuliah apa dan di mana?” tanya arien yang saat ini berencana menginap di rumah agar dapat belajar bersama.


“mungkin, tata boga aja, rien! Gue mau jadi chef dan buka restoran atu kafe sendiri!”


“wah, cocok tuh qay! Nanti lo sekalian buka jasa penyediaan bekal suami, lo kan hobi tuh menyiapkan bekal buat si afzal!”


“lo tuh memuji atau meledek sih!”


“eh, dikasih tau malah menuduh meledek!di kota-kota modern banyak perempuan yang merangkap jadi ibu rumah tangga dan perempuan pekerja. Kalau lo bisa buka penyediaan bekal suami, pasti banyak yang mau. Sehebat apapun seorang perempuan, dia pasti menginginkan menjadi istri dan ibu yang baik di rumah. Salah satunya dengan menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya! Kalau ada jasa itu kan dapat membantu mereka. Karier lancar, keluarga tertangani!”


Penjelasan panjang arien ada benarnya juga. Sebuah inovasi di zaman serba canggih ini memang penting. Butuh pemikiran yang kreatif dan inovatif.


“ iya juga ya rien! Mantap juga ide lo!”


“ ya iyalah, arien gitu loh!” ucapnya dengan berpose sok jagoan.


“ by the way rien, lo sendiri mau jurusan apa? Bukan KUA kan?”


“ rese lo, itu mah lo kali qay. Belum lulus udah punya suami.”


Mendengar itu membuatku tersenyum, karena semua kata-katanya memang benar.


“gue mau ambil tata busana Qay, mau jadi desainer! Atau kalau ngga jadi stylish baju, cocokkan?”


Aku hanya manggut- manggut. Karena memang benar selama ini penampilan arien sangat fashionable. Apapun yang digunakannya selalu tampak cocok.


“eh Qay, di UNJ kan dua jurusan itu ada! Bagaimana kalau kita ke sana biar bisa bareng terus!”


“iya juga kamu rien, oke besok aku sampaikan ke guru BK, biar dapat pengarahan dan pencerahan tentang dunia perkuliahan!”


Ketika selesai berbincang tentang perkuliahan aku dan arien sibuk dengan gadget masing-masing. Saat HP berdering dan di layarnya tertulis nama afzal, aku segera mengangkatnya dan memilih keluar kamar agar tidak mengganggu arien yang sepertinya juga sibuk dengan yudha.


“halo, kak!” ucapku setelah menekan tombol yes untuk menerima panggilan.


“ walaikumsalam, de!”


“eh, maaf! Assalamualaikum kak!” ucapku malu.


“jadi arien tidur di rumah?”


“ jadi kak, itu lagi teleponan dengan yudha juga kayaknya!”


“ pengen cepat ujian, biar cepat ketemu kamu! Eh kita honeymoon dulu yuk! Kamu mau ke mana?”


“ngga ah, aku mau persipan untuk masuk universitas dulu!”


“oiya, btw, kamu jadinya mau kuliah jurusan apa, de?”


“tata boga, kak! Aku mau jadi chef dan buka kafe atau restoran gitu!”


“wah bagus juga tuh, kamu masih bisa melakukan kegiatan tapi tetap bisa jagain bunda!”


“iya kak, aku ambil di universitasnegeri jakarta aja ya, biar masih bisa pulang pergi! Jadi bunda ngga akan kesepian!”


“oke, mimpi indah ya! Muach!” ucapku genit.


“Afzal, Qay?” tanya arien, yang muncul di belakangku.


Aku menganggukkan kepala membenarkan pertanyaannya.


“tidur yuk!” ajak arien.


“yuk!” jawabku cepat. Namun, ketika kaki akan dilangkahkan aku merasa sangat mual.


Oe...oe....


Segera berlari menuju kamar mandi sebelum, isi perut keluar melewati kerongkongan. Arien menyusulku. Ia berdiri di belakangku tanpa melakukan apapun. Setelah berdiri cukup lama, namun tak ada hal apapun yang dimuntahkan, aku berdiri bersandar pada dinding kamar mandi. Mengatur napas yang sesak, karena rasa mual namun tak keluar apapun.


“ayo Qay, keluar dulu! Gue buatkan teh manis ya, biar enakkan perutnya!”


“ terimakasih ya, rien! Mungkin gue masuk angin!”


Arien tak membalas komentarku. Ia hanya berada di sisiku dan membantuku menenangkan diri. Setelah dirasa lebih baik, kami kembali ke kamar dan tidur karena malam semakin larut.


***


Ujian akhir sekolah dan ujian nasional telah kami lewati. Semua diselesaikan semaksimal mungkin. Tak ada yang tahu hasilnya, hanya doa dan harapan agar hasil yang didapat sesuai keinginan. Sore itu aku dan arien menghabiskan waktu di sebuah kafe. Kami di sana menunggu belahan jiwa. Mereka berjanji akan segera datang seusai ujian. Kami akan melepas penat setelah beberapa hari berjuang dengan puluhan bahkan ratusan pertanyaan dalam soal-soal ujian itu.


Melihatku yang memegang kepala, membuat arien semakin khawatir.


“kenapa, qay?”


“ngga apa-apa! Cuma agak pusing.”


Oe...oe....


Lagi-lagi akau merasa mual, untung lokasi kami duduk di luar ruangan. Sehingga tak ada pengunjung lain di sana. Ruangan di dalam kafe yang dipenuhi oleh pengunjung seusia kami, yang mungkin sedang melepas lelah setelah ujian.


Aku setengah berlari menuju kamar mandi, namun seperti biasa, tak ada yang keluar, hanya rasa mual. Setelah rasa mual sedikit menghilang. Aku kembali ke tempat kami duduk. Di sana arien sedang sibuk dengan gadgetnya. Mengetahui aku berjalan menujunya, arien menatapku hingga duduk di hadapannya.


“Qay, lo sakit?” tanya arien penasaran. “gue perhatiin, kondisi lo drop dari waktu itu gue nginep di rumah lo kan?”


“kayaknya iya rien, kemarin ngga dirasain sibuk belajar!”


“Qay!”


“iya, rien.”


“yakin, lo sakit?”


“apa sih rien? Kan gue bilang ngga tahu, mungkin!” jawabku agak bingung.


“Qay, kapan terakhir lo menstruasi?”


Glek.


Tiba-tiba aku menelan ludah. Mengingat kembali terakhir kali si tamu bulanan datang.