Blind is Love

Blind is Love
Kumohon, Jangan Pergi!



Helaian sajadah itu membentang di atas lantai hotel. Berada di sudut kanan dekat dengan mendeka yang kubiarkan terbuka. Pemandangan pinggir laut membuat rasa nyaman menyeruak ke palung hati. Wangi laut yang kusuka dan hempasan angin yang membuatku semakin merindukannya. Sebuah kitab suci ukuran saku kubaca perlahan, ayat-ayatnya mampu mengusir kegundahan kala kuucapkan. Bersamaan itu ada barisan doa yang kupanjatkan agar dia dan calon anak kami selalu dalam lindungan Tuhan.


Bekerja sebagai petarung di atas sebuah kapal yang mengarungi lautan, singgah dari satu negara ke negara lain memang menjadi impianku sejak lama. Ya, lama saat aku masih percaya bahwa hidup sendiri tanpa mencintai dan menyayangi orang lain dalam sebuah ikatan keluarga itu jauh lebih menyenangkan. Tapi kini semua berbeda, berada jauh dari dia terasa begitu menyiksa. Ada perang batin di dalam diri, saling ego mempertahankan keinginan, rasa penasaran akan kehidupan pelayaran dan rasa sulit berjauhan dari orang tercinta.


Setiap kapal bersandar, aku memilih untuk lebih beribadah dengan khusyu, mendoakannya menjadi pilihan yang paling tepat agar hatiku menjadi lebih nyaman. Untungnya tiga bulan pertama masa tugasku hampir selesai, dan seminggu lagi aku bisa kembali bersama Qay dan calon anak kami yang akan segera lahir. Aku berharap masih bisa mendampinginya saat melahirkan nanti.


Krekkkk....


Pintu kamar terbuka. Kudapati sosok Haris di sana. Senyum bibir tebalnya terlontar, dengan santai ia berjalan mendekatiku.


Haris adalah rekan kerja yang baru kutemui. Kami satu tim, dan dia adalah tipe orang yang mudah akrab dengan siapapun. Kejahilannya sebelas dua belas dengan yudha, mungkin itulah salah satu alasan kami bisa mudah akrab dibanding awak kapal lainnya dalam tim.


"Sorry ganggu!" Ucap Haris sambil duduk di tepi tempat tidur.


"Gue ngga ikut!" Jawabku sebelum haris mengajukan pertanyaan.


"Sok tahu lo, emang gue mau ngajak lo!"


"Hampir jam 8 malam, pakaian lo rapi, wangi lo udah kayak berendem di tong parfum, ngga mungkin kan lo mau tidur? "


He... he.... he....


Suara kekeh tawa haris.


"Gue tau lo pasti nolak upeti yang udah disiapin buat kita. Waktu di malaysia dan singapura, lo lebih milih di dalam kamar hotel dan sekarang di thailand lo juga sama. Awalnya gue kesel, kok ada ya cowok rumahan kayak lo kerja jadi pelaut, ngga solidaritas, dan menghargai kebersamaan. Lo diomongin rekan yang lain, tapi gue ngga tahu telinga lo terbuat dari apa sampai kuat banget dengar bully-an!"


Aku tak menjawab kalimat yang dilontarkan haris, hanya sebuah senyuman yang kuberikan sebagai tanda aku merespon kata-katanya.


"Sampai akhirnya gue dengar, lo sudah punya istri dan istri lo lagi hamil. Gila, kita kan baru lulus, usia juga masih di bawah 20 tahun, masih muda banget untuk jadi suami, apalagi calon ayah. Gue pikir lo nikah karena hamil duluan, tapi setelah gue lihat IG lo, kayaknya dugaan gue salah!"


"Jadi sekarang lo stalker, ris?"


" ya, apalah namanya. Gue kepo. Ada makhluk aneh kayak lo!"


" nikah muda kok dibilang makhluk aneh! Terus si alvin anaknya alm. Ustaz arifin ilham aneh dong?"


"Lah, dia mah anak ustaz, ilmu agama udah tinggi!"


"Terus?"


"Ya, lo memilih pekerjaan sebagai pelaut jelas bertolak belakang lah!"


"Maksud lo, orang yang bekerja sebagai pelaut itu bajingan semua?"


"Ya, ngga begitu Zal! Ah, pokoknya aneh aja kalau lo mah!"


"Jadi lo sekarang ketemu gue mau apa ris? Mau ngasih tau kalau gue ini makhluk aneh?"


"Bukan, gue jadi penasaran dan semakin penasaran setelah lihat feed di instagram lo. Caption-caption lo, terlihat banget kebucinannya. Jadi pengen tahu, lo sama istri bisa nikah di usia yang sangat muda ini tuh apa alasannya?"


"Sialan lo!"


"Istri gue namanya Qay, teman gue dari SMP. Karena beda sekolah saat SMA kami sempet lost kontak. Dari SMP, gue suka dia, makanya saat SMA ketemu lagi gue ngajak pacaran, tapi dia emang cewek spesial, dia maunya nikah. Ya, karena keluarga kami saling setuju, kenapa ngga nikah aja?"


"Gue pikir cerita kayak gitu cuma ada di drama atau sinetron aja! Terus apa yang lo rasain setelah menjalankan pernikahan muda ini?"


"Kenapa ngga dari lahir ya gue nikah?"


"Nah...nah ini, ini kenapa gue bilang lo aneh! Masa bayi baru lahir langsung ijab qabul!"


Kami tertawa bersama.


"Oke deh, besok lanjut lagi ceritanya, masih banyak yang bikin gue penasaran! Gue gabung dulu sama yang lain."


"Oke, hati- hati dompet lo ya, jangan lupa bawa k*ndom, perlindungan itu penting. Terus lo harus teliti sama upetinya, takutnya transgender, ini thailand banyak tipu-tipu!"


"****** emang lo, Zal!" Ucap haris sambil menepuk punggungku dengan cukup keras.


Setelah Haris keluar dan menutup pintu kamar, aku melipat sajadah dan menaruhnya di atas meja yang ada di samping tempat tidur.


Pelaut memang identik dengan kehidupan malam yang seperti ini ketika singgah di sebuah tempat. Tapi itu pilihan, bukan kewajiban. Minuman beralkhohol dan deretan wanita penghibur yang biasa kami sebut upeti. Bukan hal ini yang menjadikan alasan bagiku untuk bergelut dengan lautan, sejak dulu air laut selalu membawa ketenangan, hingga membuatku jatuh cinta dengan profesi ini. Meskipun cinta ini mulai terbagi setelah ada Qay dalam hidupku.


Suara Ari Lasso dengan cinta terakhir mengalun dari ponselku. Pertanda ada panggilan masuk, tetapi nomor yang tertulis tidak kukenal. Dengan perasaan kurang semangat kuangkat.


"Halo Afzal!" Suara lelaki yang samar-samar kukenal.


"Iya. Siapa nih?" Tanyaku datar.


"Naufal. Kalau malam ini lo bisa balik ke indonesia, sekarang juga lo balik!"


" Maksud lo? Kenapa lo bisa tahu nomor gue?"


"Balik aja sekarang ke indo, ini soal Qay dan anak lo, jangan sampai lo nyesel!"


"Tunggu, maksudnya gimana?"


"Afzal, ini saya Ghisa!" Gantian suara perempuan yang kudengar. " Qay ada di rumah sakit, karena kecelakaan, jangan panik, tapi kamu cepat pulang ya!"


Deg.


Deg.


Sesaat kaki menjadi lemah, terbayang senyuman Qay di kepalaku. Jantung berdegup tak beraturan, pikiran melayang tak bertujuan. Koper kecil di dalam lemari segera kuturunkan. Semuanya kulakukan dengan serabutan, jangan panik, bagaimana bisa tidak panik, istriku? Anakku? Ah... kutepis pikiran-pikiran buruk itu.


Kumohon, jangan pergi!