Blind is Love

Blind is Love
Aku Peluk Kamu Boleh, Kamu Peluk aku Ngga Boleh



“Afzal, ranum terkena masalah dengan Dewa. Kamu pasti kenal


dewa, kalian satu SMP. Qay marah dan menendang meja hingga terkena Dewa. Dewa


ngga terima dan menampar Qay. Aku kasihan lihat Qay, makanya aku kasih tahu


kamu.”


Membaca isi chat dari Arien, darahku mendidih hingga ke


ubun-ubun, gigiku saling beradu karena amarah. Aku segera keluar dari kelas dan


mencari davin. Kalau harus naik angkutan umum membutuhkan waktu yang lebih


lama. Naik motor davin adalah solusi yang tepat.


Sepenjang perjalanan aku berusaha mengingat si Dewa, hanya


ada satu dewa di SMP, anak basket yang mulutnya ngga jauh dari cerita seks. Aku


tak tahu berapa kilometer yang aku tempuh untuk menemuinya, ingin rasanya mematahkan


tangan si brengsek yang telah berani menyentuh kekasihku.


Entah takdir atau Tuhan memang mendukungku. Ketika roda-roda


motor sampai di depan sekolah Qay, mataku langsung menemukan wajah si brengsek


dewa. Tanpa basa-basi aku langsung loncat dari motor dan menghampirinya.


Bukkk....


Bukkk ......


Aku layangkan pukulan tanpa henti, hingga dewa jatuh


tersungkur. Tiba-tiba tanganku di pegang oleh dua orang yang tak kukenal,  dewa berdiri dan membalas memukulku, entah


kekuatan dari mana kedua orang yang menahanku berhasil kusingkirkan. Kali ini


kakiku mendarat di perut dewa. Aku duduk di atas tubuhnya, kupukuli si brengsek


ini tanpa peduli semua orang berteriak.


“AFZAL BERHENTI!!!”


“AFZAL!!”


Rupanya Qay berdiri di sampingku, entah sejak kapan Ia


datang. Aku semakin semangat untuk menghabisi si mesum ini.


“AFZAL STOP ATAU KITA PUTUS!”


Aku langsung menghentikan pukulan. Kata-kata terakhirnya


membuatku takut. Sekaligus kesal. Bagaiman bisa dia berkata seperti itu di saat


aku membelanya. Kuludahi wajah dewa sebelum melepasnya. Aku raih tangan Qay dan


membawanya pergi dari kerumunan itu. Semua orang memandangi kami. Getaran tangan


Qay yang gemetar aku bisa rasakan. Genggaman tanganku semakin kuperkuat. Aku menaikkan


Qay ke atas motor. Segera motor melaju dengan kencang. Aku menarik tangan Qay


dengan paksa agar memegang pinggangku. Berkali-kali Ia mengelak. Namun akhirnya


mengalah karena aku terus memaksanya.


Qay membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Sepertinya bunda


tak ada di rumah. Kini gantian dia yang menarik tanganku dan memintaku untuk di


sofa dengan isyarat tangannya. Sial, tonjokan si mesum baru terasa sekarang!


Qay membawa es batu dan salep. Tanpa kata ia menempelkan es


batu di wajahku, entah bagaimana bentuk wajahku saat ini. Tapi sebulan tak


melihat Qay dan saat ini dia tepat ada di depanku, membuat rasa sakit ini


hilang seketika.


“Arien bilang apa sampai kamu ke sini dan jadi preman kayak


gini?”


“Kalau kamu kena masalah sama polisi bagaimana? Kamu bolos


sekolahkan? Aku ngga suka kamu begini? Jangan berantem lagi!”


Mata Qay terlihat berkaca-kaca. Aku memegang pipinya. Bekas tamparannya


tidak ada. Aku membelai pipinya lembut. Mata Qay bertemu pandang dengan mataku.


Kami hanya saling menatap beberapa saat.


“kamu pikir aku rela ada orang yang tega pukul kamu? Seharusnya


kamu yang kabari aku, bukan arien! Apa susahnya cerita ke pacar sendiri? Kamu itu


punya aku, aku ngga rela kamu dipukul!”


“memangnya aku juga ngga boleh memebela pacar aku? Kamu itu


pacar aku!”


“aku sering ditampar senior di ekskul pecinta alam saat


pendidikan dasar dan pelantikan anggota baru, apa kamu juga akan tampar balik


mereka?”


“iyalah tentu kalau kamu mau, aku bisa!”


“sok.....!” ucap Qay sambil mendorongku pelan.


“janji Qay, kamu ngga akan ambil tindakan apapun sendiri


tanpa aku, sakit tahu kalau kamu kenapa-napa!”


“sudah tidak usah gombal!lebay!”


Saat Qay akan pergi, aku menarik tangannya. Ia jatuh duduk


di sampingku.


“soal yang kemarin aku minta maaf. Janji, aku ngga akan


begitu lagi!”


“JANJI YA!” pinta Qay sambil mengangkat kelingkingnya.


“Janji!” balasku sambil mengaitkan kelingkingku kepadanya.


“tapi qay, peluk atau pegangan tangan bolehkan?”


Qay mencubit lenganku dengan keras.


“Auww!” teriakku.


“aku sekarang berhijab zal, aku harus jaga hijab ini! Kalau kamu


ngga mau bantu untuk jaga hijab aku, ya mendingan kita .....!”


Aku menempelkan jari telunjuk pada bibirnya, agar Qay tidak


melanjutkan kata-kata yang aku takutkan.


“kamu cantik berhijab. Justru aku semakin sayang sama kamu. Aku


Cuma butuh keyakinan bahwa kamu juga sayang aku. Makanya tanpa sadar kemarin


aku begitu!”


Qay terdiam. Matanya seolah menyelidiki apakah aku jujur


atau berbohong.


Brukk......


Qay memelukku. Tangannya melingkar di leherku. Seluruh tubuhku


gemetar seperti tersengat listrik. Aku buru-buru mendekap Qay, tapi dengan


cepat Qay melepas dekapanku. Membuatku salah tingkah.


“itu pelukan terima kasih, ngga lebih!” ucapnya dengan nada


malu-malu dan menggeser posisi duduknya lebih jauh dariku.


“aku juga mau peluk kamu karena mau terimakasih sudah peluk


aku!”


Qay kembali mencubitku dan dia tersenyum.


“jadi peraturannya, semuanya kamu boleh lakukan, aku ngga


boleh. Kamu cium dan peluk aku di tangga SMP, boleh! Kamu barusan peluk aku,


boleh! Kamu....!”


“AFZAL JANGAN BAHAS DULU-DULU!” teriak Qay memotong


ucapanku.


Aku tersenyum melihat wajahnya yang memerah. Ah, Qay! Perempuan


kayak kamu ngga akan membuat aku menyesal kehilangan wajah tampanku ini karena


dipukuli orang. Jangan sendiri lagi Qay, ada aku! Aku yang setengah mati


mencintai dan menyayangi kamu!