
Brugh ....
Bunyi sepatuku saat menyentuh jalan yang beraspal. Hari ini
aku beralasan untuk tidak ikut kelas. Aku bilang pada pembimbing kelas bahwa
kakekku meninggal. Terpaksa aku berbohong agar bisa keluar asrama. Taruna tingkat
1 sepertiku harus banyak mengikuti kegiatan fisik yang ketat. Dengan seragam
sekolah aku naik angkutan umum jurusan Bekasi, karena terlalu buru-buru sampai
lupa membawa baju ganti. Semoga penampilanku tak menjadi pusat perhatian
di acara pentas seni itu.
Aku berjalan dengan semangat, lokasi sekolah yang kutuju tak
jauh dari jalan raya. Hasil latihan fisik selama menjadi taruna membuatku jadi
tambah kuat dan bugar untuk sekadar jalan kaki. Sekitar 30 meter aku sudah
melihat nama pada plang sekolah itu. SMAN SAKURA 1.
Aku berdiri di depan gerbang, suasana sangat ramai karena
ada acara. Aku belum bisa masuk karena tidak memiliki tiket. Arien yang
berjanji akan memberiku tiket belum muncul di hadapanku. Dari gerbang di sisi
sebelah kiri, aku melihat ada beberapa orang yang sibuk berlatih di papan
panjat tebing atau wall climbing. Ada sosok yang menarik perhatianku. Seorang gadis
berjilbab biru muda dengan lincahnya menggapai satu demi satu pointer dengan
lincah. Tak ada keraguan saat kaki dan tangannya meloncat dari point ke point
itu.
“masih ada cewek keren kayak gitu di zaman begini!” ucapku
dalam hati.
Mataku tak beralih menatap kelincahan si gadis berjilbab
biru muda itu. Sampai suara panggilan arien pun tak terdengar.
“hai ganteng, dipanggil kok ngga nengok!” sapa arien sambil
merangkul pundakku.
“eh maaf, lagi serius lihat orang-orang di papan panjat!”
balasku sambil berusaha memindahkan tangan arien dari pundakku.
“ayo ah masuk, nanti aku kenalkan kamu ke teman-teman!”
Aku mengikuti arien melewati gerbang sekolah, namun langkah
kami berhenti ketika arien dipanggil beberapa temannya di meja registrasi. Pandangan
mata ku arahkan lagi ke seberang. Rupanya si cewek berjilbab biru itu sudah
turun dari wall climbing. Dari kejauhan aku melihat dia sedang menggulung tali
karamantel sambil berbicara dengan salah satu cowok di sana. Aku penasaran
laki-laki. Kebanyakan dari mereka lebih suka belanja di mall, ngerumpi, atau menghabiskan
uang orang tua pergi ke salon kecantikkan.
Tanpa sadar aku melangkahkan kaki. Perlahan mendekati
sekelompok orang yang berlatih di wall climbing.
Arien menepuk pundakku, membuat langkahku terhenti.
“mau kemana sih, zal?” tanyanya dengan napas terdengar
kelelahan karena mengejarku.
“itu, melihat anak-anak yang lagi asyik panjat. Kok mereka
malah sibuk beginian, kan lagi ada acara?”
“oh...iya itu anak-anak dari ekskul pecinta alam, besok
mereka ada pertandingan wall climbing. Jadi harus terus latihan. Yang ikut
lomba salah satunya sahabat aku kok, zal! Nanti aku kenalin juga kamu sama dia.”
“woi, afzal!” sapa ranum di depanku. “gila, lo keren banget
pakai baju begini. Mirip pilot ya!”
“biasa aja kali,num! Maaf ya, gue terpaksa pakai seragam,
lupa bawa baju ganti!” ucapku sambil tersenyum.
Mataku berputar ke sekeliling ranum, namun Qayyana belum
juga terlihat. Ingin bertanya tapi takutnya terlihat sekali aku mencarinya. Sementara
arien sibuk memanggil teman-temannya, tangannya tak lepas memegangi lenganku
bagian atas. Aku ingin menolak tapi takut arien malu di depan teman-temannya.
“Afzal sudah ketemu Qay?” pertanyaan yang kutungu-tunggu
keluar dari mulut ranum.
“belum!” ucapku cepat. “dia ada di mana?” tanyaku semangat.
“sudah gue duga, lo pasti ngga kenalin dia!tuh, cewek
berjilbab biru muda, itu si Qay, tahu!”
Penjelasan Ranum sambil menunjuk ke arah cewek berjilbab
biru muda yang sejak tadi kuperhatikan membuat detakkan jantungku tiba-tiba berdegup
cepat. Ya Tuhan, sejak awal hatiku sudah mengenalinya. Cewek itu Qay. Perempuan yang
sudah membuat aku jatuh cinta. Meskipun kami tidak pernah bertemu selama enam
bulan. Dia berubah. Berubah yang membuat aku semakin jatuh cinta. MAMA, PAPA DATANG!!!
ADE, KAKAK DATANG!!!
QAY, PACARMU DATANG!!!