
Krekkk....
Pintu kamar terbuka. Vila ini memiliki dua kamar saja. Otomatis satu milik aku dan qay, dan satu lagi milik Yudha dan arien. Sejak makan qay tidak banyak bicara. Hanya matanya sesekali menatap kesal pada arien dan yudha yang sering bercanda dan saling menyentuh satu sama lain. Jika orang lain melihat dan tidak mengenal kami, mungkin akan berpikiran bahwa qay adalah seorang wanita yang sedang cemburu pacarnya bermesraan dengan wanita lain.
Setelah makan ia langsung meminta arien untuk memberitahukan kamar sebelah mana yang bisa ditempatinya. Aku memilih tak banyak tanya dan bicara, karena sikap qay sekarang sulit diartikan. Apakah aku sudah bebas dari rasa kesalnya atau belum?
“Duduk sini!” pinta Qay sambil menepuk sebuah sofa di sisi kiri tempat tidur.
“oh oke!” ucapku sambil berjalan dan duduk di sofa yang ditunjukkan qay.
“Karena kakak sudah ngga jujur sama aku, maka kakak harus terima hukuman!”
“e...Qay...e....kamu jangan salah paham! Aku sudah memperingatkan arien kok! Kamu tanya deh ke dia. Arien yang minta duluan nomornya yudha!”
“ssstttt....no reason! Ikuti semua yang aku pinta sebagai hukuman! Oke?”
Aku hanya manggut-manggut. Melihat sikap qay, lebih baik aku mengalah daripada dicuekin semalaman.
Qay berjalan menuju tas yang berisi pakaian kami. Kemudian ia mengambil beberapa helai hijab segi empatnya, dan kembali berjalan ke arahku. Jilbab panjang berwarna hitam,ia ikatkan di kedua kakiku. Saat mulutku terbuka dan ingin berkata, qay langsung menatapku dengan tajam. Aku bukannya takut, tapi jika melawan dia pasti akan semakin marah. Akhirnya aku pasrah saja termasuk ketika ia mengikat tanganku dengan jilbabnya yang lain.
Kini semua tangan dan kakiku terikat, entah ada rencana apa yang ada dalam benak istriku ini. Meskipun ikatannya tidak kencang namun membuatku risih karena keterbatasan bergerak.
“mata kakak juga aku tutup, yang berhak membukanya Cuma aku. Jadi selama belum dibuka,ngga usah pinta atau berusaha melepasnya sendiri. Ikuti kata aku kalau kakak masih mau tidur di kamar ini!”
Kalimat terakhirnya yang mengancam membuatku mengurungkan niat protes. Kata-katanya tercekat di tengah- tengah kerongkongan. Berada di vila yang dingin dan harus tidur terpisah dari istri, dunia akan terasa neraka sepertinya. Maka aku memilih mengikuti perintahnya, menuruti permaianannya.
Setelah menutup mataku juga, entah apa yang dia lakukan. Aku hanya mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Kusandarkan punggung pada sofa, meluruskan kaki dan tangan yang sudah terikat. Sebenarnya, ikatannya tidak terlalu kuat, namun ancamannya itu yang menakutkan. Cukup lama aku menunggu, yang terdengar hanya bunyi detak jam dinding dan para jangkrik yang berlomba-lomba menyuarakan suaranya hingga saling bersahutan. Terkadang aku berpikir, sekuat apapun seorang laki-laki jika sudah jatuh cinta bisa mengalah kepada perempuan yang dicintainya. Jika yudha dan yang lain melihat kondisi ini, merekavakan tertawa sampai jungkir balik, dan Raja Bucin akan tersemat abadi padaku.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, keheningan malam pun memudahkanku mendengar suara langkah kakinya. Dengan mata tertutup indera penciuman menjadi lebih tajam, tercium wangi parfum khas qay yang sering dipakainya saatbakan tidur. Sejak menikah aku mengetahui bahwa qay suka memakai parfum sebelum tidur. Awalnya agak aneh, tapi lama kelamaan jadi suka dan terbiasa. Suatu hari aku pernah bertanya tentang kebiasaan itu, lalu qay menjawab bahwa bunda yang mengajarkan, bunda bilang sewaktu papa masih ada, bunda terbiasa melakukannya. Itu adalah salah satu cara bunda membahagiakan papa dengan merapikan dan mempercantik diri sebelum tidur.
Ketika tangan qay menyentuh bahu, aku sedikit terkejut. Tetapi tetap memilih diam, dan membiarkan qay melakukan keinginannya.
“ngantuk?” tanya Qay memulai pembicaraan.
“sedikit. Kamu dari mana, de?”
“mandi, ngga suka tidur badannya lengket!” jawab qay dengan suara yang mendesah di telingaku, membuat seketika tubuhku mengejang dan bergidik.
“oh!” ucapku sambil berusaha menstabilkan seluruh bulu yang merinding akibat desahan qay di telinga.
Tangan qay menyentuh bagian belakang kepalaku, sepertinya ia akan membuka ikatan yang menutup mata. Benar saja, perlahan penutup pun terlepas. Saat aku membuka mata, rasanya bola mataku akan loncat keluar dari kerangkanya.
Waah.... apa maksudnya ini? Gila! Mulutku menganga, jika tidak dikontrol, mungkin air liur pun akan meluncur keluar. Kepalaku menggeleng ke kiri dan ke kanan perlahan, seolah tidak percaya hal yang kulihat saat ini.
“ini hukuman buat kamu karena sudah ngga jujur soal arien dan yudha!”
“ta..tapi kan....”
“ssstttt.....” desis qay dengan meletakkan jari telunjuk ke bibirku.
“malam ini, kakak akan duduk di sofa dengan kaki dan tangan yang terikat. Kalau sampai ikatan ini lepas, kakak ngga akan dapat jatah sampai bulan depan!”
“Ya Allah, kok jadi gini sih! Kan kakak ngga salah!”
Qay seperti tidak peduli dengan penjelasanku. Ia malah berjalan mundur beberapa langkah hingga kini kami tidak terlalu dekat. Dengan lampu kamar yang dimatikan dan hanya menggunakan lampu tidur di kedua sisi kasur membuat cahaya kamar remang-remang. Namun aku masih dapat melihat bahwa perempuan yang kunikahi hanya menggunakan lingerie berwarna biru muda. Seluruh lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas. Mungil, namun padat dan berisi. Perhiasan dadanya begitu menggoda, pinggulnya besar dan pinggangnya terpahat seperti bodi biola.
Ah...aku bisa gila! Qay berdiri tepat di depanku. Tangan kirinya menyentuh pinggang dan bergaya layaknya model bikini di atas catwalk. Ia tersenyum manja, sesekali bibirnya digigit sedikit kemudian lidahnya sibuk membasahi bibir. Aku semakin gelisah tak menentu. Rasanya ingin berlari dan mendekapnya dengan panas. Namun ikatan pada kaki dan tangan tak boleh terlepas, membuatku semakin tak karuan.
“Qay!” panggilku dengan memelas.
Bukannya menjawab, qay malah mengubah posenya. Kini ia berbalik, tubuhnya membelakangiku, hingga kedua b*kongnya seolah menatapku dan mengajakku untuk menyentuhnya. Ia kembali beraksi dengan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan, seperti para member girl band korea yang menari-nari di atas panggung.
Dengan lingerie itu tentu membuat semuanya menjadi menarik. Surga duniaku sedang bergoyang, membuat jakunku hanya bisa naik turun karena menahan air liur yang hampir tumpah. Setelah asyik menari, qay berjalan ke arahku, ia masih tersenyum, senyum yang menggoda. Malam ini sikapnya seperti bukan dia yang biasa. Tanpa izin ia duduk di atas pangkuanku, tanganku pun tepat berada di bawah b*kongnya.
Sssseerrrr.....
Darahku seakan naik turun tak beraturan. Tubuhku kaku, mengejang tak berdaya.
“malam ini kakak hanga bisa melihat, ngga boleh menyentuh, meskipun hanya seujung kuku!” ucap qay sambil memainkan jari-jarinya di dadaku. Membuatku seperti tersengat listrik.
Wajah kami begitu dekat, sesekali ia berbicara dengan sengaja mendekatkan bibirnya padaku namun tidak menciumku. Ya Tuhan, aku benar-benar tersiksa. Yudha dan Arien sialan! Kalau bukan karena kalian malam ini sudah pasti menjadi malam yang hot dan menggairahkan. Aduh, kasihan itu sejanta pelindung surgawi, tergeletak belum terpakai!
“de, hukumannya jangan begini ya! Yang lain saja, kakak suruh push up, lari, sit up 1000 kali deh, ngga apa-apa! Jangan begini kasihan si kecil!” pintaku dengan nada memelas sambil melihat ke arah perhiasan dada istriku yang begitu menggoda.
“aku bukan pasar. Ngga ada tawar menawar! Terima aja, oke!” ucapnya sambil berdiri dan dengan sengaja menyentuh si kecil yang sejak tadi menegang minta dikeluarkan.
Dengan gaya berjalan yang genit, ia berjalan ke arah kasur. Matanya sesekali melirik ke arahku dan mengedipkannya. Ia sengaja membaringkan dirinya di atas kasur dengan pose yang menantang. Membuatku semakin kepanasan. Tetapi qay adalah perempuan yang teguh dengan ucapannya. Aku tidak berani membantah, sebab ia pasti akan lebih nekat dan kreatif lagi mengerjaiku.
Oke, malam ini dia berhasil menghukumku. Hukuman yang lebih berat dari pada latihan fisik sewaktu awal jadi taruna. Tubuhku hanya bisa duduk tak berdaya di sofa. Memandangi lekukan demi lekukan indah milik perempuan yang sangat aku cintai. Membiarkannya lama kelamaan tertidur di atas kasur.
Setelah aku merasa yakin qay telah tertidur, aku membuka ikatan pada kaki dan tanganku yang sebenarnya sejak tadi dapat terlepas. Aku berjalan ke arah qay. Dengan tubuh yang memanas dan seperti tersetrum, aku berusaha menahan diri. Kubiarkan tanganku mengambil selimut dan menutup tubuh indah berbalut lingerie itu agar tak kedinginan. Kemudian aku kembali duduk di sofa, dan mengikat kaki dan tanganku seadanya. Merebahkan diri di sofa dan berusaha memejamkan mata.
“awas kamu, de! Besok ngga ada ampun buat kamu!” gumamku dalam hati.