Blind is Love

Blind is Love
Karena Buta Jadinya Cinta



Setelah dewa pergi, kami berdua berhadapan. Cukup lama saling terdiam. Menatap, kemudian tersenyum Bersama.


"de, kakak tunggu di lantai 2 ruang kelas kakak ya nanti setelah semua pulang sekolah. Ada yang ingin disampaikan! " pinta AFzal padaku.


Walau agak sedikit geli dengan kata kakak ade, aku menjawab dengan anggukan kepala saja. Entah mengapa perasaan senang menjalar ke seluruh tubuh.


Setelah waktu yang kami sepakati tiba. Aku bergegas ke lantai 2 . Ke tempat yang menjadi saksi kegilaanku meminta Afzal untuk menjadi pacar. Sampai di ujung tangga aku melihatnya sudah berdiri di sana. Bersandar pada tembok dengan celana levis berwarna biru yang hampir pudar, kaos hitam dan topi hitam. Kalau dipikir-pikir AFzal tidak memiliki kekurangan fisik. Dia masuk kategori cowok tampan. Tapi selama kami satu sekolah memang tidak pernah ada gosip yang berembus bahwa dia pernah berpacaran. Cowok unik dan aneh.


Kami berdiri berdampingan. Bersandar pada tembok dan melihat ke depan gedung sekolah kami. Tak langsung memulai pembicaraan. Dalam diam kami nikmati tiupan angin yang membuat sejuk wajah kami di siang itu.


" maaf buat seminggu ini! Maaf juga selama ujian kemarin kakak ngga datang ke ade! " ucap afzal memulai pembicaraan.


"ngga apa-apa! Lebih enak kok begini. Ngga lebay. Pacaran ngga harus terus ketemukan? " jawabku santai masih terus memandang ke depan.


"kok agak aneh ya kamu, biasanya cewek itu kalau sudah jadi pacar ribet. Wajib sms, telepon, antar jemput, datang ke rumah saat malam minggu, ajak nonton, dan hal-hal lain. Tapi kamu malah santai begini. Kakak jadi penasaran, kok ade bisa ngajak kakak jadian? "


Deg....


Pertanyaan afzal membuatku bingung. Bingung untuk mencari jawaban agar perasaanku tidak ketahuan. Aku tidak ingin dia menganggap aku cewek yang ngga benar. Karena pernyataan itu sebenarnya hanya keisengan.


"mimpi! Aku melakukan itu karena mimpi. " ucapan itu keluar begitu saja dari otakku ke mulut. Semoga Afzal tidak menganggapku aneh.


"mimpi? Kayak dapat wangsit (petunjuk) gitu? " tanya Afzal penasaran.


Aku menganggukan kepala. Ini cara yang paling tepat dari pada aku bicara. Takut tambah ngawur. Biarkan afzal mempersepsikan dengan caranya. Dari ekspresi wajah sepertinya dia Percaya.


" baru ketemu kakak sama perempuan macam ade! Selama ini yang nembak alasannya klise. jatuh cinta pandangan pertama. Suka karena kakak orangnya ganteng, lucu, baik, perhatian dan rajin menabung. " ucapnya sambil senyam-senyum.


Aku melirik ke arahnya. Melihat senyumnya, membuatku ikut tersenyum juga.


"kamu masuk mana, de? " tanya afzal melanjutkan percakapan.


"SMA negeri Sakura 1." jawabku


"wih, keren. pasti ngga pakai tes ya? Langsung diterima. "


"iya, Alhamdulillah! Kalau kamu? " tanyaku sambil mengarahkan badan hingga berhadapan dengan afzal.


"SMK Pelayaran Dewaruci di jakarta"


Aku baru sadar afzal menutupi kepalanya yang sudah tidak berambut dengan topi. Oh, mungkin ini salah satu persyaratan untuk dia masuk ke sana.


"seminggu ini aku ngga ada kabar, karena harus ikut beberapa tes di sana. Alhamdulillah diterima?!" katanya lagi.


"ade ngga keberatankan kalau harus LDR? "


Pertanyaannya tak terpikir lagi olehku. Kenapa harus LDR? Kenapa dia ngga ajak aku putus saja? Jadi bingung mau jawab apa. Kalau aku yang ngajak putus nanti malah aneh. Aku yang minta untuk jadian, masa aku Juga yang bilang putus.


"ya bagus dong! Kita ngga perlu sering ketemu jadi ngga cepat bosan dan jauh dari dosa karena pacarannya jarak jauh! " ucapku asal.


Sekarang afzal yang berbalik diam, hanya menatapku dan aku taK cukup hebat untuk tahu apa yang ada dalam hati dan pikirannya.


Afzal berjalan ke arah tangga turun tanpa mengucapkan apa-apa. Di anak Tangga yang kedua, tiba-tiba aku memeluk pundaknya yang Menjadi sejajar denganku karena posisiku berada di belakangnya. Tanganku melilit di lehernya.


"jangan nengok! " kataku sedikit keras ketika afzal ingin membalikkan tubuhnya ke arahku.


" kayak gini aja!" pintaku Pada AFzal.


Entah setan apa yang merasuki sampai berani berbuat begini. Aku hanya diam tak berani berkata apapun. Aku sendiri bingung dengan apa yang aku lakukan dan lagi-lagi tubuhku berbuat sesuatu yang tidak sesUai dengan akal pikiran.


Cup.


Aku mencium pipi afzal. tanpa menoleh ke arahnya, gantian aku yang berjalan turun mendahuluinya. Afzal masih tetap terdiam. Sepertinya dia terkejut dengan ulahku barusan. Ya Tuhan, sepertinya aku sudah gila. Aku hanya iseng, kenapa berani begini?


"Qayyana berhenti!" teriakan Afzal menghentikanku tanpa menoleh kepadanya. Posisi kami saling Membelakangi.


"Orang tidak butuh alasan untuk menyayangi, terkadang kita tanpa sadar menjadi buta, sehingga semua terlihat sempurna dan itulah penyebab timbulnya kata cinta di antara Kita" ucap Afzal sambil berteriak.


Aku tak menoleh, aku diam sejadi-sejadinya, kalimat yang Afzal sampaikan seperti lemparan batu besar yang menohok hatiku. Apakah dia benar-benar jatuh cinta padaku? Hingga kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ah, jadi pusing!


Aku lanjutkan langkah lagi, rasa malu membuatku tak berani untuk menatap wajahnya. Kabur dan menghilang dari hadapannya adalah cara yang paling tepat untukku saat ini.


Afzal juga tak memanggilku. Mungkin dia memahami mengapa aku berbuat seperti itu.


Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah mereka akan putus? Atau melanjutkan hubungan tetapi harus LDR? Ditunggu ya episode berikutnya!