
Duarrrr..... duarrrr....
Bunyi petir membangunkanku. Jarum jam pada dinding menunjukkan pukul lima pagi. Ya Allah shalat subuh hampir ketinggalan. Ini yang membuatku kurang suka tinggal di apartemen. Tak mendengar kumandang azan dari masjid atau musola.
Saat akan membuka selimut, aku baru ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Tiba-tiba wajahku terasa panas. Aku menoleh ke sebelah kiri, laki-laki yang telah menghalalkanku pun masih tertidur. Ku pandangi wajahnya sesaat, dalam kondisi tidur pun ia masih sangat tampan. Hem... rasanya ingin kucium.
Pelan-pelan kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Sebelum matahari semakin tinggi. Kubiarkan afzal masih terbuai dengan mimpinya. Setelah bersihkan diri, barulah aku bangunkan. Malu rasanya jika ia melihatku semerawut seperti ini.
“Kak, ayo kita subuhan, sudah hampir setengah enam!” panggilku setelah selesai mandi.
Pelan-pelan, afzal membuka matanya. Ia mengucek matanya beberapa kali. Kemudian tersenyum sambil mengedipkan matanya dengan genit. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, melihat tingkah laku laki-laki yang menyempurnakan ibadahku dengan menjadi istrinya.
“Ayo bangun!”
Ketika afzal ingin memelukku, aku menghindarinya.
“aku sudah mandi, sudah wudhu! Ayo cepat mandi, kita shalat bareng!” ajakku dengan lembut.
Tingkah afzal saat ini seperti anak kecil. Langsung berajak dan berjalan dengan gontai ke kamar mandi. Tak selang beberapa menit, ia keluar dan segera berpakaian. Aku menunggunya sambil mengaji. Sejak menikah shalat berjamaah itu menyenangkan. Sebab jarang kami lakukan karena Afzal jarang di rumah.
“yuk langsung!” ajaknya, sudah berbaju kokoh putih dan sarung berwarna biru dongker, serta memakai peci, membuatnya tambah kelihatan lebih tampan.
“sunnah dulu kak! Cuma dua rakaat. Aku tadi sudah!”
“Rasul bersabda, shalat sunah dua rakaat sebelum subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya!”
Afzal lagi-lagi hanya tersenyum. Ia pun langsung melakukan shalat sunah. Setelah Shalat subuh selesai, afzal memelukku. Diciumi rambut dan pipiku sebelah kanan. Aku hanya mematung, seperti tersengat arus listrik.
“ mau berangkat jam berapa?” tanyaku mengalihkan perhatiannya.
“Hujan!”
“terus kalau hujan ngga berangkat?”
“malas, maunya sama kamu saja!”
“kalau ngga lulus-lulus, kapan punya anaknya?”
Pertanyaan terakhirku menghentikan ciumannya yang tak berhenti sejak tadi.
“siap, boss!” ucap afzal sambil bergaya seperti tentara memberi hormat pada komandannya.
Aku tersenyum melihatnya.
Cup.
Keningku dicium.
“aku siap-siap!” ucap afzal.
“buah atau roti?” tanyaku sebelum keluar kamar.
“dua-duanya! Aku lapar semalam habis berjuang menjebol gawang tuan rumah."
Aku hanya tersenyum lagi. Wajahku memerah karena malu. Ingatan semalam masih melekat kuat, setiap sentuhan masih terasa. Kemudian aku berjalan menuju dapur berwarna krem pastel dan bergaya minimalis. Mengambil sebuah melon dan apel fuji dari dalam kulkas. Memotongnya menjadi beberapa bagian, dan meletakkannya ke dalam kotak makan. Tak lupa empat potong roti kupanggang dan dioleskan selai coklat kesukaannya. Terakhir, aku membuatkan coklat panas kesukaannya, memasukkan ke dalam termos kecil dan gelas. Senyum puas merekah di wajahku, setidaknya ini akan jadi ladang ibadah, melayani suami dengan ikhlas.
“de, hari ini kamu di rumah saja, kan?” tanya afzal setelah keluar kamar dan memakai sepatunya sambil duduk di salah satu kursi makan.
“aku ke rumah bunda, janji mau temani bunda pengajian. Tapi tunggu hujan agak reda!”
Cup.
Lagi diciumnya pipiku.
Cup.
Kali ini bibir kami berpautan.
Setelah terasa mulai hot lagi, aku berusaha melepaskannya. Dengan sedikit dorongan pelan, akhirnya afzal melepaskan pelukannya.
Dia tersenyum menatapku.
“kenapa ngga dari dulu aja ya nikah?” ucapnya masih dengan menatapku.
“maksudnya?” ucapku sambil memperhatikan kerapihan seragam afzal.
“kabari aku ya, kalau sudah sampai rumah bunda. Kalau bisa nanti malam kamu ke sini lagi!”
“bunda sendiri dong?”
“ya, sama bunda ke sininya!”
“kamu masih sibuk sampai kapan sih? Ngga bisa kita bobo di rumah bunda saja!”
“sabar ya sayang, kakak lagi berusaha supaya lulus dengan nilai terbaik supaya dapat kesempatan untuk magang di perusahaan bagus. Supaya bisa beli susu anak kita nanti!”
Aku hanya menjawab dengan senyuman.
Setelah memasukkan sarapan ke dalam tas dan memberikan kecupan di seluruh bagian wajah. Afzal pun berangkat. Hujan masih belum berhenti. Suasananya mendukung untuk bermalas-malasan.
***
Sepanjang perjalanan ke pelabuhan, selalu memandang tas di jok sampingku. Seolah Qay yang berada di sana. Bibirku selalu menyunggingkan senyum tanpa henti. Hatiku saat ini sedang membuncahkan kebahagiaan yang tak terbendung. Sesekali kulihat spion, bayangan semalam masih nyata, dan memang nyata.
Akhirnya jiwa dan raga kami menyatu. Semua terasa sempurna. Qayyana Aqila, perempuan sholeha, istri yang hebat, teman yang menyenangkan. Menikah di usia 17 tahun tak membuatku menyesal. Hidupku semakin bermakna. Kini aku lebih punya tujuan. Dia begitu lengkap. Tak ada cacat di mataku. Bahkan dia lebih dari harapan yang aku pinta dari Tuhan selama ini. Aku begitu senang, mendengar Qay akan menemani bunda pengajian, di usianya yang sangat muda, ia telah menjadi perempuan sholeha. Di saat perempuan lain di usia yang sama sibuk dengan hal-hal tak berguna, tetapi istriku berbeda.
Hujan mereda, tepat ketika aku tiba di pelabuhan. Yudha, davin, dan teman-teman yang lain telah sampai. Ku hampiri mereka dengan sedikit berlari kecil, karena masih ada sisa-sisa gerimis.
“waduh, ada yang indehoi nih kayaknya nih semalam!” ledek yudha saat aku tiba di hadapannya.
“ehem....sampai telat, dha!” tambah davin.
“apa sih! Kalian kan sudah master, gue mah apa atuh, masih pemula!” ucapku tak kalah konyol.
“bagaimana pak, mau lagi atau kapok?” tanya davin dengan menyodorkan Hp nya ke dekat mulutku seperti seorang reporter yang sedang mewawancarai narasumber.
“kapok gue! Kapok, kenapa ngga dari dulu Qay gue nikahi!”
“Bucin lo!” teriak yudha. Aku dan yudha pun tertawa bersama.
“bucin, apaan dah?” tanya davin bingung.
“ya Tuhan, bego jangan kebangetan kali! Bucin, budak cinta!” ucap yudha sambil mengeplak kepala davin.
Si punya kepala hanya angguk-angguk baru paham.
Kami pun tertawa lagi.