
AFZAL!!!
Suara cewek itu menyebutkan namaku. Aku melihat ke sumber
suara itu datang. Seorang cewek berdiri kira-kira 50 meter tepat di depanku.
Wajahnya tidak asing, tapi aku tidak begitu mengenali.
“afzal, ya Tuhan, dunia sempit ya!” ucap cewek itu. Aku masih diam, mencoba mengenali wajahnya.
“lo kenal Qayyana- kan? Cewek yang sering lo panggil “mama”!”
Deg.....
Nama itu disebut. Jantungku tiba-tiba berdegup tak
beraturan. Semesteran tinggal dua minggu lagi. Aku masih memikirkannya setelah
hampir enam bulan tak bertemu.
“gue ranum, sahabatnya Qay. Kita sempat kontakan lewat FB,
tapi abis itu lo ngga ada kabar!”
“oh, iya maaf! Waktu itu FB gue di hack, terus sibuk di
sekolah jadi kita ngga komunikasi lagi, ya! Lo sendiri ke sini?” ucapku sambil
melirik kanan kiri mencari seseorang.
“ya ngga-lah! Jalan-jalan ke Mall sendirian mah ngga seru!
Gue ke sini sama sahabat gue!” jawaban Ranum membuat jantungkku semakin
berdebar kencang. Qay, kamu ada di sini!
“Ranum!!!”
Aku menoleh ke belakang, tapi hatiku tiba-tiba lemas. Suara
itu bukan milik Qay. Seorang cewek berpakaian sangat minim menghampiri kami.
Wajahnya cantik karena dilukis oleh bedak, lipstik, dan seperangkat alat perang
perempuan lainnya.
“hai!” sapa cewek itu centil. Matanya tak berkedip
melihatku. Setelah melihat lebih dekat, aku bisa melihat belahan dadanya.
Pakaiannya terlalu seksi untuk sekadar jalan-jalan di Mall.
“Arien! Kamu?” ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke
arahku.
“Afzal” ucapku dan terpaksa membalas uluran tangannya.
“bukan, ini teman SMP gue!” Jawab ranum.
“bareng yuk, sudah makan belum?” tanya arien kepadaku.
“boleh”
Aku menerima ajakan mereka untuk mengambil kesempatan untuk
tahu kabar tentang qayyana.
Kami berjalan mencari restoran yang tidak terlalu ramai
namun menyajikan makanan yang enak.
“sejak ayah Qay meninggal, qay jadi susah diajak Hangout ya,
num! Eh kalau kalian satu SMP, berarti Afzal kenal Qay dong?”
Mendengarkan Arien aku malah memikirkan Qay. Jadi ayahnya
sudah meninggal. Qay pasti sedih. Sayangnya saat momen itu aku tak ada di
dekatnya. Kamu pasti sedih ya, de!
“Afzal!” panggil ranum, menyadarkan aku dari lamunan.
“eh sorry, kenapa num, rien?” ucapku tergagap
“afzal kenal Qay?” tanya arien lagi.
“Iya!” jawabku.
“Qay itu terpukul banget waktu....!”
“Arien, kita ganti topik aja ya! Takut qay kupingnya panas
kita omongin.” Dengan cepat ranum memotong kalimat arien. Padahal aku mengikuti
mereka karena ingin tahu info tentang Qay.
Arien berjalan beriringan denganku. Dia lebih suka
meninggalkan ranum di belakang kami. Ketika dia berbicara. Sesekali memegang
lengan atau dadaku. Agak risih sebenarnya, tapi aku tetap bertahan demi
informasi tentang Qay.
Sepanjang obrolan mereka tak pernah membicarakan Qay. Tapi sedikit banyak aku tahu bahwa Qay telah
kehilangan ayahnya. Angga dan Qay juga tidak satu sekolah lagi dan yang paling
penting adalah Qay belum memiliki pacar.
Dengan kabar itu saja sudah cukup membuatku tersenyum.