Blind is Love

Blind is Love
Kerinduan



“Assalamualaikum,De!” sapa afzal saat video call. “Masih di sekolah ya?”


“Iya,Kak! Bentar lagi pulang kok! Selesai bimbel. Kakak sudah mau pulang juga?” tanyaku dengan nada suara yang manja.


“Maaf ya, kakak lupa kasih tahu, kalau minggu ini kakak ada jadwal praktek. Kayaknya ngga bisa pulang!”


“terus kakak tidur di mana? Asrama?”


“bisa di asrama, tapi paling ke apartemen kita. Kalau di asrama kasihan yang punya kamar kesempitan, lagian kebanyakan bercandanya, nanti kurang tidur ngga bisa mainin ade!”


“mainin? Maksudnya apa nih?”


Kami tertawa bersama, senyum-senyum penuh malu.


“ya udah, kamu pulang hati-hati ya! Nanti kakak telepon bunda buat kasih kabar juga.”


“iya, kakak juga! Semangat biar lulus dengan nilai terbaik!”


“Amin, muach!” afzal memajukan bibirnya, membuatku semakin tertawa geli.


Ah, rasanya nyaman sekali menjalani hubungan yang seperti ini.


Aku menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan tak ada orang di sampingku. Bisa heboh satu sekolah kalau tahu seorang Qay bisa bersikap seperti ini kepada seorang lelaki. Aku mulai melngkah keluar kelas. Ternyata teman-teman sudah banyak yang pulang. Hari ini arien tidak ikut bimbel karena harus menjemput papanya di bandara. Selain Ranum dan arien, aku memang memilih untuk menjaga jarak dengan yang lain. Sebenarnya sikapku ini kurang baik, tetapi aku merasa lebih nyaman seperti ini.


Sesampainya di rumah semua tampak sepi. Sepertinya bunda masih di luar rumah. Pintumkamar kubuka perlahan, hijab yang sejak tadi menutupi rambut kulepaskan. Saat akan menggantungnya di balik pintu, aku melihat kaos dan celana pendek yang dipakai Afzal tidur semalam. Hem... aku menarik napas panjang. Tiba-tiba ada rasa penyesalan tersirat di hati. Seharusnya aku bilang ke afzal kalau tamu bulananku sudah pergi. Mungkin karena mempersiapkan pernikahan dan aku kelelahan, si tamu datang lebih awal dan lebih cepat berhenti. Biasanya lebih dari tujuh hari, ini tiga hari sudah selesai.


Ah, Qay! Kenapa jadi kamu yang agresif? Memangnya kalau Afzal tahu, dia akan melakukan apa? Aku jadi tertawa sendiri. Setelah menikah, ketergantunganku atas kehadiran afzal semakin besar. Sekarang saja sudah merasa rindu. Menikah adalah sebuah perjanjian yang ajaib. Mengubah orang lain menjadi keluarga, mengubah yang semula dikerjakan sendiri menjadi bersama-sama, mengubah hal yang dianggap aneh atau tabu menjadi hal yang biasa.


Ingatanku berjalan mundur, ketika kami terbangun bersama-sama di hari pertama setelah menikah. Afzal tetap dalam posisi memelukku. Berkali-kali kening dan kepalaku diciumnya. Dia bilang bahwa semuanya adalah miliknya, maka aku tidak boleh menolak apapun yang dilakukannya. Dia juga memintaku untuk memanggilnya kakak sampai nanti kami memiliki anak. Tidak sopan kalau aku terus memanggil namanya. Aku menurut saja, toh dia sekarang adalah imamku. Selama itu baik dan benar, aku harus menurut padanya.


Tubuh afzal punya wangi yang khas. Aku suka. Kulitnya juga sangat putih, bahkan kulitku kalah putih darinya. Dadanya bidang dan lengannya kekar, nyaman sekali dalam dekapannya. Saat ia tertidur, aku sering memandanginya. Diam-diam aku makin mencintainya. Tuhan maha baik, lelaki sebaik dan setampan Afzal dikirim-Nya untukku. Ah, aku kecanduan. Kecanduan suamiku sendiri.


***


Sudah tiga hari Afzal tak pulang ke rumah. Beberapa kali kami telepon atau video call pun Ia tampak sibuk. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubunginya, sebelum ia menghubungiku. Perasaan rindu membuatku susah fokus. Padahal selama ini kami menjalani hubungan jarak jauh dan semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Aku bahkan lebih senang kalau dia tidak banyak menelepon atau mengirim pesan. Tapi sekarang berbeda, tiap waktu aku gelisah karena rindu, apalagi ketika malam tiba. Kamar terasa dingin dan hampa. Ah, suamiku.... kapan pulang????


“Qay!” panggil arien dan membuatku tersadar dari lamunan.


“semenjak jadi bini orang, lo loyo melulu!”


“loyo bagaimana? Ini gue lagi ngerjain tugas Bahasa Indonesia buat cerpen!”


“biasanya lo aktif, latihan panjat atau apa kek, sekarang banyak bengong! Si afzal hot banget ya? Sampai lo kewalahan!”


Ucapan arien membuatku melotot, suaranya sangat kencang. Untung di sekitar kami cukup banyak yang mengobrol sehingga mereka konsentrasi dengan urusan masing-masing.


“Rien, kenapa sih otak lo mesum banget? begituan mulu yang dibahas!”


“lo sudah coba gaya apa aja!”


Arien malah melanjutkan pertanyaan yang sejak tadi membuatku malu. Kami seperti dua orang yang ngga sinkron, antara pertanyaan dan jawaban selalu berbeda.


Aku tetap diam tak merespon, fokus dengan tugas sekolah yang harus dikirim via Email hari ini juga.


“o... berarti benarkan! Diam berarti iya!” arien kesal dan menjawab sendiri.


Dia pergi meninggalkan aku yang masih berkutat dengan tugas, kupikir dia menyerah. Tetapi dugaanku itu salah. Arien kembali dengan membawa Hp-nya, kemudian menyodorkan sebuah gambar dari dalam layar hp-nya.


“Ih... Arien eror!” ucapku spontan dan mendorong tangan arien, hampir saja HP barunya itu jatuh.


Arien tak membalasku, hanya tersenyum meledekku.


“Tinggal pilih, nanti malam sama abang ojek online tinggal diantar!”


“ya Allah, ya Tuhan! Itu buat apa, rien? Gue belum butuh begituan!”


Arien menawarkan sebuah lingerie berwarna merah marun yang sangat sexy. Siapapun yang melihatnya pasti akan meneteskan air liur. Aku bukannya tidak mau memakai, hanya saja merasa tidak percaya diri. Lagipula apa yang akan dipikirkan afzal kalau sampai aku memakai pakaian sexy itu.


“oke Qay, bagaimana kalau yang ini!” kali ini ia memperlihatkan pakain tidur dengan model yang sangat pendek dan terbuka, Berwarna hitam.


Kali ini aku tertarik dengan baju itu. Lagi pula bunda mengatakan bahwa di tempat tidur aku harus tampil cantik dan wangi.


“Rien, harus ya pakai-pakai yang sexy kayak begini?” tanyaku ragu-ragu.


“salah satu tugas perempuan sholeha itu harus membahagiakan suami. Lo mau suami lo bahahia, ngga?”


Aku hanya mengangguk.


“pakai ini kalau malam, biar mata suami bahagia lihat kemolekan istri. Lelaki itu ngga pernah puas, selalu punya seribu alasan untuk selingkuh! Lo lihat ahmad dhani dan maya estianty kan? Cantik begitu aja diselingkuhin! Apa kabar kita?”


Kali ini kalimat yang dilontarkan Arien ada benarnya juga. Aku dan afzal sudah sah. Tentu aku akan dapat pahala kalau membahagiakan suamikan.


“oke, gue mau yang ini saja! Jangan lingerie! Bertahap aja rien.”


Arien mengacungkan kedua jempolnya. Dia tersenyum puas.


“sip, nanti malam setelah diantar tukang ojek, lo coba aja! Afzal pasti klepek-klepek kayak ayam keselek karet gelang!”


“Afzal sudah beberapa hari ngga pulang, rien! Banyak praktek di sekolah!” ucapku murung.


“oh pantes, lo loyo! Btw, bukannya kalian ada apartemen ya? Kenapa ngga di sana aja Qay!”


Aku masih diam. Cemberut.


“jumat kita libur Qay, karena akan ada acara olimpiade sains, sekolah kita tuan rumahnya!”


Mataku seketika berbinar. Seolah menemukan setumpukan uang.


“iya ya rien, kasih kejutan buat Afzal!”


Tubuhku yang awalnya lemas karena kelelahan mengerjakan tugas, tiba-tiba semangat. Ide arien bagus juga. Aku sudah sangat merindukan Afzal. Hampir gila rasanya. Suamiku, aku datang......!