
Pelukan angga membuatku terpaku. Kaku. Kaget. Setelah sekian lama tak bertemu dan berkomunikasi. Bingung, sejak berhijab sebisa mungkin aku menjaga jarak dengan yang bukan muhrim. Apalagi sekarang sudah berstatus istri orang. Dekapan angga sangat erat. Melepaskan secara kasar juga tidak sopan. Beberapa detik kubiarkan saja begini.
“Angga!!” panggilku, berharap angga melepaskan dekapannya.
“eh, maaf Qay! Terlalu senang sampai lupa!” ucapnya sambil melepas dekapan, sekarang berganti kedua tangannya menjamah kedua pipiku.
“Ya, Tuhan! Kangen Qay!”
“kita kan belum liburan, kok kamu bisa hadir?” tanyaku sambil melepaskan tangannya dari pipi.
“ kebetulan aku ikut perlombaan di jakarta, sekalian mampir. Sore nanti baru balik ke yogyakarta dengan kereta!”
“Ayo, kita ketemu yang lain!” ajakku, tidak enak berdua saja dengan angga di luar.
Sepanjang jalan angga tak pernah melepaskan pandangannya dariku. Aku pura-pura tak melihatnya. Sekarang semua terasa canggung.
“sudah lama Qay, kamu berhijab?”
“ya, semenjak papa ngga ada!”
“maaf ya, aku ngga bisa menemani kamu waktu itu!”
“santai aja, semua baik-baik aja sekarang!”
“coba kamu berhijab dari dulu, Qay! Aku pasti.....!”
“woi, angga!”
Panggilan itu menghentikan kalimatnya. Kami menoleh bersama. Seorang lelaki menghampiri kami yang sudah berada di depan pintu masuk. Merasa tidak mengenal lelaki itu, aku melanjutkan masuk ke dalam aula sendirian.
“Qay! Kemana aja lo, acara udah mulai dari tadi baru datang!” tanya stella sambil merangkulku.
“iya maaf, tadi malah nostalgia keliling-keliling sekolah!”
“Qay benar ya, ranum udah ngga di sini?” tanya stella penuh selidik.
Aku hanya mengangguk.
“kasus dia sama dewa juga benar?”
Pertanyaan ini aku jawab hanya dengan mengangkat bahu dan kedua tangan, seolah tidak tahu apa-apa. Risih rasanya diintrogasi permasalahan orang lain. Itu adalah aib. Apalagi aib sahabat sendiri, bukan hak ku untuk memberikan klarifikasi.
“masa sih , lo ngga tau?”
Aku masih saja memberi jawaban kepada stella yang penasaran dengan sebuah senyuman.
“Qay, aku cariin!” ucap angga yang muncul dari belakangku.
“maaf, tadi aku ngga mau ganggu!”
“eh Qay, duluan ya!” ucap stella pamit setelah angga datang.
Aku hanya mengangguk.
Pandangan angga tertuju pada sekelompok orang yang berdansa di depan panggung. Mereka begitu menikmati alunan musik dari Padi, ‘kasih tak sampai’. Tubuh mereka saling mendekap, berdansa dengan lembut dan mengikuti alunan musik dari sound. Karena panggung tetap sepi tak ada pemain band.
“Qay!”
“Iya”
“kamu sudah punya pacar?”
Pertanyaan angga membuatku mengalihkan pandangan dan menatapnya.
“pacaran dalam islam itu ngga boleh!” ucapku.
Angga hanya manggut-manggut, matanya berbinar-binar, dan wajahnya langsung tersenyum lebar.
“berarti kamu jomblo dong? Kita dansa yuk!” ajaknya sambil menarik tangan kananku.
Tiba-tiba tangan kiriku ditahan seseorang. Aku menoleh ke belakang. Afzal???
“NGGA!” ucap angga kencang.
Angga menghentikan langkahnya. Dan membalikkan tubuh ke arah afzal.
“eh afzal, apa kabar lo? Datang-datang teriak ‘ngga’.”
“tadi lo tanya Qay, mau ngga dia dansa kan? Belum jawab kok main tarik aja!”
Angga melepaskan pegangan tanganku dan melangkah mendekati afzal.
Tanpa pikir panjang, aku menyela berdiri di tengah-tengah mereka. Tentu tubuhku yang pendek tak memberi efek apapun, justru aku terjepit di antara mereka. Tangan kiriku menahan afzal, dan tangan kananku menahan angga.
“lo ngga berubah Ya, zal! Masih ngeselin!” ucap angga yang semakin menyulut emosi afzal.
“emang!!!” jawab afzal dengan nada sok bertanya.
“eh, kalian berdua kenapa sih! Malu sama yang lain.” Teriakku, berharap mereka sadar bahwa sikap mereka kekanakan.
“Ya....hai genks! Selamat datang buat ketua OSIS kita Afzal! Kasih tepukan dong!” ucap seorang MC dari atas panggung. Suaranya berhasil menenangkan keadaan. Kini afzal dan angga mulai mengubah sikap menjadi lebih tenang.
“oke, sebagai penghormatan kita panggil, ketua OSIS kita tercinta, Afzal untuk bermain game bersama kita semua! Tepuk tangan lagi dong!” permintaan dari MC itu pun diikuti oleh yang hadir. Kami semua memberikan tepuk tangan.
“wah, gila! Ketua kok Jadi ganteng gini ya!” puji si MC. “ayo gue siapa?” tanya si MC lagi.
Afzal menatapnya lebih intens, gayanya sok sedang berpikir. Kemudian ia menggeleng.
“parah lo! Gue teman sekelas aja ngga diingat apalagi yang lain!”
“maaf meningkatnya ketampanan gue, membuat daya ingat gue menurun!”
Ucapan afzal membuat yang hadir di ruangan tertawa. Dia memang paling bisa mencairkan suasana. Sementara itu angga masih berdiri di sampingku, dan menatap kesal ke arah afzal. Aku tak berani bertanya atau sekadar menenangkannya. Untuk kesekian kalinya, Aku pura-pura tidak memperhatikannya.
“gue jibran, zal! Teman lo yang dulu gendut dan berkacamata!” ucap si MC.
“Gila, lo jibrandut! Kok bisa jadi ganteng gini, langsing juga!”
“jadi malu gue dipuji ganteng! Mana ngga ada gopean!”
Semua yang hadir pun tertawa lagi.
“oke, karena afzal, ngga bisa mengenali gue! Kita harus kasih dia hukuman, gimana yang lain, setuju??”
“setuju!!” kami menjawab kompak.
“hukuman buat lo itu simpel aja kok. Bisa pilih kagi, mau kejujuran atau tantangan?”
“tantangan aja deh, secara gue udah macho begini!” lagi-lagi Afzal berkata konyol, sehingga membuat yang hadir tersenyum.
“oke, yakin ya! Tantangannya adalah lo pilih salah satu teman cewek yang ada di sini dan lo kiss dia. Dan untuk semua cewek yang hadir siapapun yang afzal pilih harus rela ya dicium!” ucap si jibran.
Kedua bola mataku membulat. Siapa yang akan afzal pilih? Jika dia memilihku maka pernikahan ini akan terbongkar, tapi... aku ngga rela kalau afzal cium cewek lain. Hadeh, ngga ada yang lain ya tantangannya. Kenapa ngga pilih jujur saja sih! Aku ngedumel sendirian.
Afzal mulai turun dari panggung. Ia berjalan mengelilingi kami semua yang berdiri. Gayanya seperti sedang memilih seorang perempuan. Aku memilih menunduk saja. Jika afzal memilih perempuan lain, tentu akan membuatku marah. Tapi kalau dia cium aku....ll
Cup.
Pipi kiriku di cium dari belakang. Aku refleks menoleh ke arah kiri.
Cup.
Kali ini bibirku yang menjadi sasaran.
Aku masih mematung. Kaget bukan kepalang.
Bukk.....
Sebuah bogem mentah melayang ke wajah afzal, tepukan dan teriakan hore yang semula terdengar tiba-tiba terhenti melihat angga memukul afzal. Tanpa perintah akunlangsung mendorong angga dan berlari mendekati afzal. Aku tahu afzalnbisa melawan, makanya aku segera berlari menujunya agar tidak terjadi perkelahian.
“bangke emang lo ya, zal! Jangan cari kesempatan lo cium bibir orang!” teriak angga penuh emosi.
“awas Qay, biar gue hajar lagi nih orang!” ucap angga lagi saat aku berdiri di depan afzal.
Afzal memutar tubuhku hingga berhadapan denganya. Kedua tangannya memegang tengkukku dan ....
Cup.
Bibirku diciumnya lagi, kali ini lebih lama. Aku yang kaget tak membalasnya tapi juga tak menolaknya.
Angga refleks maju, untung ditahan oleh teman-teman yang lain. Ada dua orang yang menahannya agar tak melakukan kekerasan lagi.
“ngga, please jangan kayak anak kecil!” pintaku setelah mendorong afzal perlahan.
“Sinting dia Qay! Jauh-jauh kamu dari dia!” pinta angga masih dengan emosi yang meledak-ledak.
Kami jadi bahan tontonan. Suara musik terhenti. Semua orang berkerumun mengelilingi kami.
“Sinting? Lo kalau bicara dipikir dulu. Lo pikir Qay ini perempuan apa, masa dia gue cium diam aja?” ucap afzal sambil tertawa sinis.
Sebenarnya aku marah, karena afzal menciumku di depan umum. Tetapi dia suamiku, dan itu hak-nya menyentuhku.
“maksud lo apa? Qay maksud dia apa?” tanya angga padaku dan afzal.
“emm....e....!” mulutku sesaat sulit bicara.
“de, kasih tau dia, kakak ini siapa kamu!” ucap afzal sambil merangkulku.
Aku diam. Kesal. Afzal semakin semaunya.
“oke, biar aku yang kasih tahu mereka ya!”
“teman-teman, mohon maaf atas kekacauan ini, dan juga sebagai permintaan maaf kami karena merahasiakan ini semua, maka kalian akan gue berikan voucher makan di restoran bebek keseleo sebesar seratus ribu per orang!”
Suasana yang hening tiba-tiba ramai kembali oleh suara tepukan senang karena taktiran yang diberikan afzal.
“Apa rahasinya, zal?” tanya seorang teman.
“ hampir tiga bulan yang lalu, kami berdua telah menikah!”
Aula kembali hening. Semua mata tertuju pada kami.
“ NIKAH????” angga begitu kaget sampai berteriak.