
Sepanjang perjalanan Qay tak bersuara sama sekali. Sial! Semua
ini gara-gara yudha ngga koordinasi dulu main sama cewek di kosan. Aku yakin
Qay sudah berpikir yang aneh-aneh tentangku. Dia bahkan tak mau melihat ke
arahku. Selama di bus, matanya selalu terarah keluar jendela. Saat aku ingin
memegang tangannya ia pun menepisnya. Dasar yudha sialan! Teriakku dalam hati.
Sesampainya kami di depan gang rumah Qay, Qay menghentikan
langkahnya. Ia berbalik ke arahku. Masih diam, tetapi kali ini menatap wajahku.
Dari matanya aku bisa menebak ada ribuan tanya yang ingin ia tanyakan padaku,
ada rasa penasaran dan marah denganku karena kejadian tadi.
“kali ini kamu boleh ke rumah, tapi ingat kamu aku kenalkan
ke bunda Cuma sebagai teman!”
Aku menjawabnya dengan anggukan. Kemudian kami melanjutkan
langkah menuju rumah Qay.
“assalamualaikum, bunda!” sapa Qay di depan pintu rumahnya.
Pintu rumah itu dibuka oleh seorang wanita yang memakai
hijab, bertubuh pendek seperti qay, namun agak gendut. Meskipun begitu, darp
wajahnya terlukis garis-garis tanda seorang wanita yang kuat, tegar, penyayang,
dan bijaksana.
“maaf bunda, agak malam, di jalan macet!” ucap Qay sambil
mencium tangan bundanya.
“alhamdulillah, yang penting sudah sampai ya nak! Ini siapa
Qay?” tanya bunda penasaran sambil menyambut uluran tanganku untuk bersalaman.
“saya Afzal bunda, teman Qay!” jawbku memperkenalkan diri.
“ayo masuk, pasti kamu capek juga kan?” ajak bunda.
“ngga usah bunda, nanti qay dan afzal mengobrolnya di teras
rumah aja! Ngga enak bunda, kan ngga ada laki-laki di rumah kita!” ucap qay memotong
ajakan bunda.
“kamu tunggu di teras ya zal, aku ambil minum dulu!”
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
Rumah qay sangat mungil. Halaman rumahnya dihiasi dengan
macam-macam tanaman yang indah dan membuat sejuk mata. Di sisi kiri ada kolam
ikan kecil yang suara aliran airnya juga memberi efek tenang bagi yang
mendengarnya.
“minum! Cuma ada ini!” ucap Qay sambil meletakkan segelas
teh hangat dan beberapa potong kue.
Aku meminumnya, kemudian melepas topi dan jaketku.
Aku menatapnya, tapi qay masih membuang pandangannya ke
depan, bukan ke arahku yang berada di sampingnya.
“ade marah ya? Di mobil diam aja!” tanyaku pelan.
“jadi, lingkungan macam apa tempat kamu hidup sekarang? Teman?
Begitu seorang teman memperlakukan temannya? Bau asap rokok, ciuman sana sini
sama banyak cewek, dan....arghhh!” jawab qay dengan kesal.
“kamu jangan bohong ya? Bilang aja kalau kamu sama kayak
mereka! Jangan coba-coba bego-begoin aku!”
“aku emang bukan perempuan baik-baik, aku ngga pintar
mengaji, aku biasa aja pokoknya, tapi aku ngga mau diperlakukan begitu!”
“emang kapan aku
“aku berusaha menjaga diri dari awal kita ngga ketemu. Ciuman
kamu di pipi aku waktu di tangga sekolah kita dulu, bikin aku ngga mau
berpaling ke cewek lain!”
Qay tiba-tiba menutup mulutku dengan tangannya. Matanya melotot
ke arahku, mengisyaratkan bahwa ada yang salah dengan kata-kataku.
“bisa ngga kamu ngga bahas itu, ada bunda di dalam”
Aku tersenyum dan memegang tangannya agar melepaskannya dari
bibirku. Aku lupa qay paling marah kalau membahas tentang masa lalu.
“aku ya aku, mereka ya mereka! Jangan samakan perilaku
teman-temanku dengan aku!”
“tapi lama-lama kamu juga bisa seperti mereka. Menganggap perempuan
Cuma objek pelampiasan nafsu! Setelah puas mereka buang kayak sampah!”
“terserah kalau kamu ngga percaya!” ucapku berusaha
meyakinkan qay.
Qay berdiri dari bangku dan hendak masuk ke dalam rumah. Aku
refleks mengikutinya. Qay menghentikan langkahnya saat tahu aku juga ikut ke
dalam rumah. Qay mendorongku. Menyuruhku untuk keluar. Entah setan apa yang
membisikkiku, aku justru berbalik mendrong Qay, dan menempelkan tubuh mungilnya
ke tembok.
Kedua tangan qay berada di atas karena aku mengenggamnya
dengan sangat keras. Napas kami terengah-engah karena saling mengeluarkan
tenaga untuk membuat posisi yang kami mau. Qay berusaha keras untuk melepaskan
diri. Sampai-sampai peniti dari hijabnya terlepas dan saat ini rambut qay
terlihat jelas. Dia semakin cantik. Membuatku semakin tak mau melepaskan
genggamanku.
“kamu mau apa!lepasin aku!” ucap qay marah tapi pelan agar
tidak terdengar oleh bundanya.
“aku mau kamu percaya sama aku!”
“gimana aku bisa percaya, kalau sekarang saja kamu
memperlakukan aku kayak gini!”
“kamu ngga bisa dikasih tau dengan cara halus. Aku begini
supaya kamu ngga pergi, kamu biasa pergi gitu aja ninggalin aku!”
“lepas! Atau aku akan teriak!”
“kalau kamu mau teriak, sudah kamu lakukan dari tadi!”
Ketika Qay akan membuka mulutnya untuk berteriak, aku tanpa
pikir panjang menahannya dengan bibirku. Qay masih berusaha mengelak, tetapi
kekuatan tubuhnya tak sebanding denganku. Saat ini dalam pikiranku aku hanya
ingin menandai dia adalah milikku. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi agar
Qay percaya dan paham bahwa aku sangat menyayanginya.
Tubuh Qay mulai melemah. Bibirnya yang sejak tadi diam dan
tidak meresponku pun mulai bergerak. Tanganku mulai melepaskan tangannya dan
berpindah ke pinggang kecilnya.
Plakk ....
Tamparan mendarat dipipiku, setelah Qay berhasil
mendorong tubuhku.