Blind is Love

Blind is Love
Terpaksa Aku Cium



Sepanjang perjalanan Qay tak bersuara sama sekali. Sial! Semua


ini gara-gara yudha ngga koordinasi dulu main sama cewek di kosan. Aku yakin


Qay sudah berpikir yang aneh-aneh tentangku. Dia bahkan tak mau melihat ke


arahku. Selama di bus, matanya selalu terarah keluar jendela. Saat aku ingin


memegang tangannya ia pun menepisnya. Dasar yudha sialan! Teriakku dalam hati.


Sesampainya kami di depan gang rumah Qay, Qay menghentikan


langkahnya. Ia berbalik ke arahku. Masih diam, tetapi kali ini menatap wajahku.


Dari matanya aku bisa menebak ada ribuan tanya yang ingin ia tanyakan padaku,


ada rasa penasaran dan marah denganku karena kejadian tadi.


“kali ini kamu boleh ke rumah, tapi ingat kamu aku kenalkan


ke bunda Cuma sebagai teman!”


Aku menjawabnya dengan anggukan. Kemudian kami melanjutkan


langkah menuju rumah Qay.


“assalamualaikum, bunda!” sapa Qay di depan pintu rumahnya.


Pintu rumah itu dibuka oleh seorang wanita yang memakai


hijab, bertubuh pendek seperti qay, namun agak gendut. Meskipun begitu, darp


wajahnya terlukis garis-garis tanda seorang wanita yang kuat, tegar, penyayang,


dan bijaksana.


“maaf bunda, agak malam, di jalan macet!” ucap Qay sambil


mencium tangan bundanya.


“alhamdulillah, yang penting sudah sampai ya nak! Ini siapa


Qay?” tanya bunda penasaran sambil menyambut uluran tanganku untuk bersalaman.


“saya Afzal bunda, teman Qay!” jawbku memperkenalkan diri.


“ayo masuk, pasti kamu capek juga kan?” ajak bunda.


“ngga usah bunda, nanti qay dan afzal mengobrolnya di teras


rumah aja! Ngga enak bunda, kan ngga ada laki-laki di rumah kita!” ucap qay memotong


ajakan bunda.


“kamu tunggu di teras ya zal, aku ambil minum dulu!”


Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.


Rumah qay sangat mungil. Halaman rumahnya dihiasi dengan


macam-macam tanaman yang indah dan membuat sejuk mata. Di sisi kiri ada kolam


ikan kecil yang suara aliran airnya juga memberi efek tenang bagi yang


mendengarnya.


“minum! Cuma ada ini!” ucap Qay sambil meletakkan segelas


teh hangat dan beberapa potong kue.


Aku meminumnya, kemudian melepas topi dan jaketku.


Aku menatapnya, tapi qay masih membuang pandangannya ke


depan, bukan ke arahku yang berada di sampingnya.


“ade marah ya? Di mobil diam aja!” tanyaku pelan.


“jadi, lingkungan macam apa tempat kamu hidup sekarang? Teman?


Begitu seorang teman memperlakukan temannya? Bau asap rokok, ciuman sana sini


sama banyak cewek, dan....arghhh!” jawab qay dengan kesal.


“kamu jangan bohong ya? Bilang aja kalau kamu sama kayak


mereka! Jangan coba-coba bego-begoin aku!”


“aku emang bukan perempuan baik-baik, aku ngga pintar


mengaji, aku biasa aja pokoknya, tapi aku ngga mau diperlakukan begitu!”


“emang  kapan aku


“aku berusaha menjaga diri dari awal kita ngga ketemu. Ciuman


kamu di pipi aku waktu di tangga sekolah kita dulu, bikin aku ngga mau


berpaling ke cewek lain!”


Qay tiba-tiba menutup mulutku dengan tangannya. Matanya melotot


ke arahku, mengisyaratkan bahwa ada yang salah dengan kata-kataku.


“bisa ngga kamu ngga bahas itu, ada bunda di dalam”


Aku tersenyum dan memegang tangannya agar melepaskannya dari


bibirku. Aku lupa qay paling marah kalau membahas tentang masa lalu.


“aku ya aku, mereka ya mereka! Jangan samakan perilaku


teman-temanku dengan aku!”


“tapi lama-lama kamu juga bisa seperti mereka. Menganggap perempuan


Cuma objek pelampiasan nafsu! Setelah puas mereka buang kayak sampah!”


“terserah kalau kamu ngga percaya!” ucapku berusaha


meyakinkan qay.


Qay berdiri dari bangku dan hendak masuk ke dalam rumah. Aku


refleks mengikutinya. Qay menghentikan langkahnya saat tahu aku juga ikut ke


dalam rumah. Qay mendorongku. Menyuruhku untuk keluar. Entah setan apa yang


membisikkiku, aku justru berbalik mendrong Qay, dan menempelkan tubuh mungilnya


ke tembok.


Kedua tangan qay berada di atas karena aku mengenggamnya


dengan sangat keras. Napas kami terengah-engah karena saling mengeluarkan


tenaga untuk membuat posisi yang kami mau. Qay berusaha keras untuk melepaskan


diri. Sampai-sampai peniti dari hijabnya terlepas dan saat ini rambut qay


terlihat jelas. Dia semakin cantik. Membuatku semakin tak mau melepaskan


genggamanku.


“kamu mau apa!lepasin aku!” ucap qay marah tapi pelan agar


tidak terdengar oleh bundanya.


“aku mau kamu percaya sama aku!”


“gimana aku bisa percaya, kalau sekarang saja kamu


memperlakukan aku kayak gini!”


“kamu ngga bisa dikasih tau dengan cara halus. Aku begini


supaya kamu ngga pergi, kamu biasa pergi gitu aja ninggalin aku!”


“lepas! Atau aku akan teriak!”


“kalau kamu mau teriak, sudah kamu lakukan dari tadi!”


Ketika Qay akan membuka mulutnya untuk berteriak, aku tanpa


pikir panjang menahannya dengan bibirku. Qay masih berusaha mengelak, tetapi


kekuatan tubuhnya tak sebanding denganku. Saat ini dalam pikiranku aku hanya


ingin menandai dia adalah milikku. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi agar


Qay percaya dan paham bahwa aku sangat menyayanginya.


Tubuh Qay mulai melemah. Bibirnya yang sejak tadi diam dan


tidak meresponku pun mulai bergerak. Tanganku mulai melepaskan tangannya dan


berpindah ke pinggang kecilnya.


Plakk ....


Tamparan  mendarat dipipiku, setelah Qay berhasil


mendorong tubuhku.