Blind is Love

Blind is Love
Antara Aku, Naufal, dan Ghisa



Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 saat kami tiba di rumah. Ada sebuah mobil di halaman rumah. Sepertinya Bunda sedang kedatangan tamu. Aku dan afzal turun dan memasuki rumah. Saat itu aku melihat kak Ghisa sedang duduk bersama bunda.


“Qay!” panggil kak ghisa yang menyadari kehadiranku.


“Ya, Allah Kak, sehat?” ucapku sambil memeluknya.


“Qay!” suara yang ku kenal memamanggilku.


“Oh... Iya!” jawabku datar setelah melihat si pemanggil itu Kak Naufal. Sepertinya dia dari dapur karena membawa secangkir gelas.


“ini pasti Afzal!” ucap kak ghisa setelah melihat afzal yang sejak tadi berdiri di depan pintu.


“iya! Hai ghisa!” ucap afzal dengan tersenyum manis ciri khasnya.


Afzal melangkah masuk dan mencium tangan bunda.


“selamat ya kalian berdua, aku ikut senang. Tapi sayangnya, aku tidak bisa hadir. Maaf ya!” ucap kak ghisa.


“loh kakak mau ke mana?” tanyaku.


“alhamdulillah Qay, Ghisa diajak tinggal di singapura bersama orang tua Naufal. Mereka masih harus menyelesaikan tugas di sana sampai Ghisa melahirkan!” ucap bunda.


“oh, alhamdulillah kak! Harus sehat ya kak!” ucapku semangat.


“malam ini aku menginap di sini ya, Qay!” ucap kak Ghisa.


Aku terdiam dan menoleh ke arah afzal yang sejak tadi hanya menjadi pendengar kami.


“Cuma aku saja kok, naufal pulang, iya kan?” ucap kak ghisa.


“ya, terserah kamu aja!” jawab naufal yang sejak tadi juga hanya diam dan memperhatikan kami.


“sayang, sudah malam aku pulang, ya!” ucap afzal sambil merangkulku.


Aku sedikit kaget dan aneh mendengar dia memanggilku dengan kata sayang.


Aku menoleh ke arahnya yang berada di sampingku. Mataku agak melebar dan bibirku maju memberi isyarat agar dia menghentikan sikapnya. Tetapi bukannya melepaskan rangkulan, ia malah mencium keningku. Aku mati kutu. Tak bisa menghindarinya. Aku tahu afzal melakukannya karena ingin memperlihatkannya pada Kak naufal.


“afzal, belum sah!” ucap bunda.


“maaf bun, si Qay itu suka marah kalau ngga dicium!” ucap afzal dengan nada suara yang manja.


Aku mendorong pelan afzal.


“ih, bohong bunda!” teriakku sambil menjewer telinga afzal.


“aduh!” teriak afzal pura-pura kesakitan.


Kami saling tersenyum. Sementara kak naufal hanya menatap tajam ke arah kami.


“aku juga pamit ya, bun!” ucap kak naufal yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami.


“oh iya nak, hati-hati!” jawab bunda.


Kak Naufal hanya menatapku tanpa berkedip, memberikan senyuman namun aku tak membalasnya. Aku membuang pandanganku ke arah lain dan berjalan masuk ke rumah tanpa menoleh sedikit pun kepadanya. Hal ini adalah cara terbaik yang bisa kulakukan karena aku tak ingin dia salah paham jika sikapku baik padanya.


***


Mataku fokus ke arah spion yang menunjukkan bahwa ada sebuah mobil yang mengikuti. Dengan sengaja aku membanting setir ke arah kiri jalan yang lebih sepi. Aku tahu, siapa pemilik mobil di belakang itu. Bertemu dengannya sudah aku nantikan, sayang jika kesempatan ini di sia- siakan. Seperti tahu maksudku, mobil itu menyalip dan berhenti tepat di depanku. Terlihat tubuh naufal yang kurus keluar dari mobil.


“Ada masalah, bro? Sampai repot-repot ngejar mobil gue!” ucapku sinis setelah turun dari mobil.


Tanpa menjawab ucapanku, naufal berjalan mendekati dan langsung menarik kerah bajuku. Aku membiarkan saja gayanya yang sok jagoan, sambil terus waspada, bersiap- siap jika dia tiba- tiba akan menyerang.


“jangan merasa lo jadi pemenang! Kali ini lo bisa berbangga diri karena Qay memilih lo, tapi...!”


“Tapi apa?” tanyaku memotong ucapan naufal.


“Suatu saat lo sampai sakiti Qay, gue ngga akan tinggal diam!” ucsp naufal dengan lantang. Ia melepaskan kerah bajuku dan berjalan meninggalkanku.


“jangan Pernah mimpi buat bisa sama qay, bro! Selamanya dia milik gue!” teriakku dengan sengaja.


Tanpa menoleh, naufal hanya mengangkat jari tengahnya ke arahku.


Aku hanya tersenyum sinis. Miris, aku tahu bagaimana perasaannya. Mencintai seseorang tetapi harus menikah dengan orang lain.


***


“Kak, belum tidur?” tanyaku pada kak ghisa yang masih duduk manis di atas kasur sambil bersandar ke dinding.


“nunggu Qay selesai mandi!” jawabnya diiringi dengan sebiah senyuman.


“Si dede bayi sehatkan? Lucu perut kakak makin besar. Sudah mulai terlihat!” ucapku mencairkan kecanggungan.


“sehat Qay! Tanpa bantuan kamu dan bunda aku ngga tahu nasib kami bagaimana!”


“jangan gitu, kak! Ini semua kehendak Allah. Lagipula sudah seharusnya sesama perempuan harus saling bantukan!”


Kak ghisa memelukku, kami berpelukan. Air mata terlihat mengalir di wajahnya. Aku tahu, kak ghisa adalah perempuan baik-baik. Kondisinya tanpa orang tua menjadi pemicu utama hidupnya harus ia jalani dengan cara ini. Tetapi masuk menjadi bagian keluarga kak naufal, semoga akan menjadi awal yang baik untuknya.


“ Tentang Qay dan naufal, aku minta maaf!” ucap kak ghisa.


“Tidak ada yang salah kak! Sejak awal, kami hanya berteman, ngga lebih. Hal seperti ini jangan dipikirin kak! Fokus pada kehamilan kakak saja.”


“iya qay, semoga kamu dan afzal juga bahagia. Sekali lagi terima kasih, ya!”