
Rambutnya hanya sebahu, hitam, lurus dan tebal. Rambut itu
bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan tubuh yang asyik menari india.
Tubuhnya sangat mungil. Membuatku gemas ingin memeluknya. Sayangnya si mungil
ini sangat galak. Qay tidak mengubah selera musiknya. Dulu daat masih satu
sekolah, aku sering mendengar musik bollywood di eraphone yang tak sengaja
terlepas saat kami bersama. Kepalanya dengan lentur bergoyang mengikuti alunan
musik. Sesekali ia menggerakkan tangan mungilnya dengan cantik.
Cewek ini sangat unik. Dia mendengarkan alunan musik dengan
kencang sambil mengepel lantai. Qay tidak menyadari sejak 5 menit lalu aku
sudah berada dalam rumahnya. Jika tahu aku datang, dia pasti akan segera
memakai hijab, dan berpakaian longgar dan tak memberiku kesempatan untuk
melihat tubuhnya yang mungil dan menggemaskan ini.
“ehem...!”
Suaraku tetap tak didengarnya, karena memang musik yang ia
putar kencang sekali. Aku memilih diam dan tersenyum melihat kelincahan Qay
menari membelakangiku. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Qay ya? Semuanya bisa
dilakukan , sekalipun itu kegiatan yang biasa dilakukan laki-laki.
“Qay!” teriak bunda yang ternyata sudah kembali dari warung.
Kami bertemu di halaman saat baru datang.
Qay menoleh ke arah bunda dan terkejut saat tahu aku sudah
berada di samping bunda. Dia melempar gagang kain pel dan berlari ke dalam
kamar. Lagi-lagi tingkahnya membuatku tersenyum.
“maaf ya bunda, aku masuk soalnya sejak tadi aku panggil Qay
dia ngga dengar!” ucapku setelah mencium tangan bunda lagi.
“gitu tuh Zal, kerjaannya kalau di rumah! Menari-nari kayak
anak kecil!” ucap bunda seraya tersenyum.
“ngga apa-apa bun, lucu!”
“Heh Afzal selain preman kamu tuh maling ya, main masuk
rumah orang ngga pakai salam! Pelanggaran kamu sudah lihat aku ngga pakai
jilbab!” ucap Qay dengan nada marah setelah keluar dari kamarnya. Saat ini dia
sudah memakai baju pink panjang mirip
daster dilengkapi dengan jilbab pink juga.
“nanti juga tiap hari kita ketemu dan aku boleh lihat kamu
ngga berhijab!”
“buat apa ketemu tiap hari? dan aturan mana yang bolehkan
kamu lihat aku ngga berhijab!”
“aturan ijab qabul!”
Brugh .....
Qay memukul bahuku pelan, menyadarkanku kalau sejak tadi
bunda hanya diam dan tertawa melihat tingkah kami.
“maaf ya bunda!” ucapku malu-malu.
“iya ngga apa-apa, bunda senang kok ada Afzal yang mau
menjaga Qay! Bunda buatkan minum dulu ya!” ucap bunda, kemudian meninggalkan
kami berdua.
“terima kasih bunda!” ucapku masih malu.
Qay masih cemberut. Duduk di sofa yang berbeda denganku. Aku
mendekatinya, Qay bergeser menjauhiku, aku mendekatinya lagi, sampai akhirnya
Qay mencubit pinggangku. Aku hanya tersenyum dan meringis karena cubitannya.
“ayo nari lagi!” ajakku
“KANGEN!” jawabku sambil memencet hidung Qay.
Seperti biasa Qay menepis tanganku untuk melepaskan
sentuhanku padanya. Aku menatapnya, wajahnya yang polos tanpa make up
membuatnya lebih cantik. Kulitnya memang tak seputih kulitku, tetapi dia
terlihat sangat seksi dengan kulitnya. Qay, bohong kalau aku tak ingin
melakukan kontak fisik denganmu! Aku ini laki-laki normal!
“jangan lihat-lihat!” ucap Qay sambil mencubit pipiku,
kemudian ia berdiri dan mengganti lagunya.
Mohabbat Barsa Dena Tu, Sawan Aaya Hai
Tere Aur Mere Milne Ka, Mausam Aaya Hai
Mohabbat Barsa Dena Tu, Saawan Aaya Hai
Tere Aur Mere Milne Ka, Mausam Aaya Hai
Sabse Chhupa Ke Tujhe Seene Se Lagaana Hai
Pyar Mein Tere Hadd Se Guzar Jaana Hai
Itna Pyar Kisi Pe, Pehli Baar Aaya Hai
Musik bollywood itu mengalun begitu lembut, nada yang
terdengar juga lumayan enak ditelinga. Aku terdiam dan menikmatinya.
“enak juga Qay! Apa artinya? Kamu kayak ngerti aja dengar
lagu india terus?” ucapku pada Qay yang melanjutkan mengepel lantai.
“Mohabbat Barsa Dena Tu Sawan Aaya Hai (kau hujani aku dengan
cinta saat musim hujan tiba), Tere Aur Mere Milne Ka Mausam Aaya Hai (musim pertemuan
kau dan aku telah tiba), Sabse Chhupake Tujhe Seene Se Lagaana Hai(ingin
kusembunyikan dirimu dari semua orang dan kudekap kau di dadaku), Pyaar Mein
Tere Hadh Se Guzar Jaana Hai (ingin kulanggar semua batasan dalam buaian
cintamu), Itna Pyaar Kisi Pe Pehli Baar Aaya Hai(untuk kali pertamanya aku
merasa begitu mencintai seseorang)” jawab qay sambil menatapku.
Deg....
Ternyata makna lagunya romantis juga.
Aku semakin ingin memeluknya.
Ketika Qay berbalik badan dan akan melanjutkan mengepel
lantai aku menarik tangannya. Dan mengajaknya menari mengikuti alunan musik
bollywood yang sepertinya menjadi backsound yang tepat dengan perasaanku saat
ini pada Qay.
“Afzal, apa sih!”
Aku tak mempedulikan ocehan Qay, aku tarik tangannya, aku
paksa badannya berputar seperti orang berdansa. Akhirnya Qay bergerak bersamaku
mengikuti alunan musik dan kami tertawa bersama.
Heh .... aku rasa diri ini semakin gila. Kalau teman-teman
di asrama lihat kelakuanku mereka pasti sudah tertawa geli. Aku yang berbadan
tegap ini menari bollywood dengan lincahnya.
Aku tak peduli! Hanya dengan cara ini aku punya alasan untuk
menyentuh Qay. Aku begitu merindukannya. Jarak dan beda sekolah memaksaku untuk
tidak bisa bertemu Qay setiap hari, sebulan satu kali saja sudah untung.