Blind is Love

Blind is Love
Gara-gara Arien dan Yudha



Brukk


Terdengar orang yang terjatuh di kasur. Aku memejamkan mata.


Tanpa sadar aku menggigit bibirku. Tanganku mulai berkeringat. Bingung harus


bagaimana dengan kondisi ini? Seketika aku merasa bodoh, mengapa malah menarik


Afzal ke dalam kamar mandi. Jika arien tahu aku dan afzal ada di dalam kamar,


adegan panas ini tidak akan terjadi.


Aduh, arien! Mau sampai kapan sih ciumannya? Sekarang malah


lanjut di kasur! Aku mau menegurnya tapi aku dan afzal juga berada di dalam


kamar mandi. Tidak mungkin kalau mereka tidak berpikir aku dan Afzal melakukan


perbuatan mesum juga.


Afzal mencubit pipiku keras, hampir saja aku berteriak.


“sakit!” ucapku pelan.


“Ayo!” ajak afzal.


“Nanti, kasihan Arien takut malu!”


Tanganku di pundak afzal, sementara tangan afzal berada


dipinggangku. Ukuran kamar mandi yang kecil memaksaku untuk membiarkan afzal


mendekatkan tubuhnya.


“Ayo rien, lanjut!” pinta si cowok.


“Lanjutnya besok-besok aja ya, masih sore!” jawab arien.


“tanggung, gue sudah ON nih!” ucap si cowok.


“oke, gue ke toilet dulu!” ucap arien.


Saat arien akan masuk. Aku sengaja membuka pintu dan


mengisyaratkan arien untuk tidak kaget. Arien agak mundur sedikit setelah


melihat aku dan Afzal di dalam. Wajahnya memerah. Namun ia segera mengambil HP,


dalam saku celananya dan berpur-pura mengangkat telepon.


“oh iya ma, oke arien pulang sekarang ma!” ucapnya sambil


berputar menjauh dari tempat aku dan afzal berdiri.


“Kenapa rien?” tanya si cowok.


“Nyokap gue pulang, ayo kita pergi!”


“Tapi kita....!”


“Lo mau nurut, atau ngga akan ada lanjutannya?” ucap arien


memotong ucapan si cowok.


Brukkk.


Setelah pintu tertutup. Aku dan afzal keluar dari kamar


mandi. Aku berjalan ke jendela dan mengintip, memastikan bahwa arien dan cowok


itu sudah pergi.


“jadi ini lingkungan kamu, Qay?” tanya Afzal dengan ketus.


“dulu kamu bilang, Yudha brengsek, ngga benar! Terus apa


bedanya sama ini?” tambahnya lagi.


tak kalah ketus. Aku tahu Afzal berusaha membalikkan kata-kataku saat dulu aku


memergoki Yudha sedang berbuat asusila di tempat kos.


“jauhi arien! Aku ngga mau kamu berteman dengan dia!”


“aku bukan tipe orang yang menjauhkan diri ketika temannya


bermasalah atau punya cacat! Dengan kejadian ini aku bisa minta arien untuk


lebih bisa menghargai dirinya!”


“Arien itu maniak, Qay! Kamu ngga paham?”


“Maniak? Tahu dari mana, kamu? Atau jangan-jangan....”


“jangan-jangan apa? Hati-hati Qay kalau bicara. Selama ini


aku banyak tahan diri karena kamu, aku banyak ngalah....!”


“Oh, kamu merasa banyak berkorban gitu? CAPE? Ya udah,


jangan dipaksa!” ucapku dan berjalan keluar kamar meninggalkan Afzal.


Afzal berlari dan menghadang aku saat akan turun tangga.


“minggir!” ucapku kasar dan setengah mendorong Afzal yang berada


di depanku.


“kamu selalu pergi setiap kita berdebat!”


“KAMU CAPE KAN? AKU ITU NGGA BISA KASIH APA YANG KAMU MAU!


JADI BUAT APA KAMU PAKSAIN DIRI?”


Aku berteriak dengan napas yang terengah-engah menahan


marah.


“kamu pikir aku nih mesum atau brengsek banget ya, Qay? Aku Cuma


mau kamu menunjukkan kalau kamu sayang aku, itu aja!”


“dengan apa? Nunggu kamu yang ngga kasih kabar 6 bulan lebih


belum cukup? Tiap bulan kita nonton dan jalan kayak gini belum cukup juga? Kalau


pembuktian rasa sayang kamu dengan ciuman, pelukan, atau hal lainnya. Maaf aku


ngga bisa!”


“KAMU NGGA PERNAH BILANG KALAU KAMU CINTA DAN SAYANG AKU


QAY?”


Aku mendorong Afzal hingga berhasil berjalan


meninggalkannya. Aku tak mengatakan apapun. Kalimat sayang dan cinta hanya


alasan Afzal saja. Selama ini dia pasti butuh perempuan hanya untuk


melampiaskan hasratnya. Bergaul dengan yudha tidak mungkin tidak


mempengaruhinya untuk memiliki keinginan menjelajahi perempuan.


Semua lelaki sama, otaknya kalah sama hawa nafsu. Membuat perempuan


percaya akan cinta, padahal tujuannya hanya agar bisa menikmati perempuan


secara gratis. Tanpa peduli teriakkan Afzal. Aku berjalan cepat, mencari


kendaraan untuk bisa lari darinya.