Blind is Love

Blind is Love
Yang Terlupakan



"Kakak!”


Teriakan Qay membangunkanku. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Lagi-lagi, subuh hampir kesiangan. Tanpa peduli apapun bergegas lari ke kamar mandi, kemudian dilanjut shalat. Seusai shalat Qay sudah lebih dulu rapi dan duduk di tepi kasur dengan wajah yang gelisah. Saat aku ingin menciumnya, dadaku ditahan oleh kedua tangannya.


“Aduh, masih marah juga!” Gumamku dalam hati.


Wajahnya yang polos tanpa make up terlihat lebih segar. Kutatap setiap sisinya, semakin dilihat semakin cantik.


“kenapa sih?” tanyaku ketika ia belum juga bersuara.


“ semalam ada yang kita lupakan!” jawab Qay, kali ini kedua bola matanya yang coklat menatapku dengan serius.


“apa?”


“lupa kunci pagar”


Qay menggeleng.


“lupa telepon bunda”


Qay menggeleng lagi.


“terus apa dong? Geleng terus!”


“kakak semalam pakai pelindung?”


“k*ndom, maksud kamu?”


Kali ini Qay mengangguk, giliran aku yang terdiam.


“Ya Tuhan!” ucapku seraya menepuk jidat sendiri. Aku menatap Qay yang ikut khawatir dengan jawabanku, kemudian aku menggeleng.


“ya! Gimana kak kalo hamil?” tanya Qay panik.


“ya....ya...kita...sudah nikah ini!” jawabku masih kaget.


“kakak kok ngga pakai sih?”


“mana ingat? Kan terlalu semangat. Lagi pula semuanya tertinggal di apartemen!”


Qay masih terdiam, duduk di tepi kasur. Aku merangkulnya dan menepuk punggungnya perlahan. Berharap ia menjadi lebih tenang.


“de, kalau sudah waktunya semua pasti terjadi. Tapi kalau belum rezeki mau usaha seperti apapun ngga akan ada!” ucapku berusaha menenangkannya lagi.


Qay belum juga memberi komentar. Ia malah mengelus-mengelus perutnya yang rata.


“ade bayi, jangan ada dulu ya! Biar mama dan papa sekolah dulu.” Ucapnya sambil terus mengelus perut.


Aku yang duduk di sampingnya hanya bisa tersenyum.


“besok-besok ngga begini lagi ya, kita harus fokus lulus dulu!” ucapnya dengan wajah cemberut.


“itu hukuman, kalau perut kamu besar jadi ngga ada cowok yang mendekati. Aku bisa sekolah dan meyelesaikan tugas praktek dengan tenang!” jawabku sambil cengengesan.


“Afzal!!” teriak qay sambil melemparkan sebuah guling ke arahku, untung aku sempat menghindar dan lari keluar kamar.


***


Setelah insiden pelemparan guling, ada chat masuk dari yudha. Salah satu kapal pesiar yang menjadi tanggung jawab kami bermasalah. Menghabiskan seharian bersama istri sudah pasti batal. Padahal rasa rindu belum juga terlampiaskan. Hari ini Qay tidak ada jadwal sekolah atau kegiatan apapun. Ia memilih tidur di rumah. Tak ingin pergi ke mana pun. Tentu saja aku senang, kebiasaannya sebagai perempuan rumahan tak membuatku repot.


Kupacu kendaraan roda empat setelah berpamitan pada Qay. Aku tidak bisa berjanji bisa pulang hari ini. Sebenarnya aku juga kepikiran masalah kelupaan memakai pelindung. Meskipun memiliki anak sudah sering kukhayalkan tetap saja ini jadi tidak adil. Qay tetap harus fokus dulu dengan pendidikan. Meniti mimpi-mimpinya. Meskipun papa begitu mengharapkan kehadiran cucu, ini bukan saat yang tepat untuk itu.


“trouble-nya parah dha?” tanyaku ketika sudah berdiri di samping yudha yang sedang membaca laporan.


“lumayan! Coba lo cek deh!” jawab yudha sambil menyerahkan kertas laporan.


Aku membacanya, memperhatikan tiap bagian dengan teliti.


“oke, kita coba! Kalau gagal coba lagi!”


Saat akan melangkah, tiba-tiba suara teriakan seorang perempuan menghentikan langkah kami.


Aku dan yudha memasang telinga dengan seksama. Memastikan bahwa pendengaran kami tidak salah.


“Auwww....tolong!!”


Suara teriakan semakin terdengar. Aku dan yudha bergegas berlari, mencari sumber suara. Lokasi saat ini lumayan sepi, karena mungkin siang hari, orang-orang malas berada di dekat pantai.


Ada sebuah kapal di ujung letaknya menyendiri dari kapal yang lain. Di situlah suara teriakan itu terdengar. Yudha berlari di depan, suara semakin terdengar, suara perempuan meminta tolong. Semakin dekat, terlihat seorang lelaki yang sedang menindih seseorang. Yudha berlari dengan gagah, menarik kerah belakang baju si lelaki hingga perempuan itu terlihat. Rambutnya berantakan, make up di wajahnya berantakan karena air mata. Eh, wajahnya tidak asing!


Arien!!!


Setelah tahu, aku segera berlari untuk membantunya.


“Arien!!” ucapku agak keras, supaya arien menyadari kehadiranku.


Arien menatapku kaget, namun ia sigap mengikuti ajakan untuk segera bangkit dan pergi dari kapal. Sementara yudha asyik memukuli si lelaki. Setelah arien berada di tempat aman. Aku berlari menuju yudha dan menghentikan tindakannya. Sebelum lelaki itu kehilangan napas dan denyut jantungnya.


“lo kenal cewek itu, zal?” tanya yudha sambil berjalan di belakangku meninggalkan si lelaki yang babak belur tak berdaya.


“temannya Qay, lo pegang ya, gue nyetir!”


Yudha membantu memapah arien yang pucat dan lemas. Ia tak berbicara. Hanya menunduk dan sesekali melirik ke arahku yang fokus menyetir dan sesekali melihatnya dari balik kaca spion.


“lo perlu dibawa ke rumah sakit ngga?” tanya yudha lembut.


Arien hanya menggeleng.


Kami pun memilih diam, sampai roda mobil berhenti di depan rumah bunda Qay.


“kenapa kita ke sini?” tanya arien .


“sorry rien, gue dan yudha laki-laki. Takut ada salah paham kalau gue antar lo langsung ke rumah. Jadi biar Qay bantu lo ya! Minimal bersih-bersih dan ganti baju lo yang udah amburadul begitu!” jawabku memberikan alasan.


Arien menganggukkan kepala. Tanpa diminta dengan hati-hati yudha memapah arien masuk ke dalam rumah. Saat arien sudah duduk di dalam ruang tamu,qay keluar dari kamar dan terkejut dengan kehadiran kami.


“Arien!”


Arien yang semula terdiam, tangisnya meledak ketika Qay memeluknya. Aku dan yudha hanya saling bertukar pandang. Inilah keajaiban persahabatan antar perempuan. Tanpa bertanya, semua permasalahan bisa disampaikan. Mata qay menatapku penuh tanya. Aku hanya menggeleng dan mengangkat bahu, pertanda bahwa aku pun tidak tahu penyebab yang membuat arien seperti ini.


“dia brengsek Qay! ****!” ucap arien di sela tangisnya.


“gue mau diperkosa, dia ****, Qay!”


“mending gue mati!”


Qay semakin mengeratkan pelukannya. Menepuk-nepuk lembut punggung arien, berusaha menenangkan sahabatnya itu.


“Sabar, rien! Sekarang yang penting lo ngga apa-apakan! Ada gue, ada afzal dan yudha yang sekarang bersama lo!”


Arien masih menangis. Kami membiarkannya menangis, untuk melepaskan ketakutannya. Tanpa disadari yudha, aku melihatnya yang tak mengalihkan pandangan dari arien. Raut wajahnya penuh rasa kesal. Tapi matanya begitu lembut memandang arien.