Blind is Love

Blind is Love
Yuk Kita Kencan!



Seminggu telah berlalu. Afzal masih sibuk dengan segala tugas dan praktek akhir sekolah. Beberapa kali dia memintaku untuk datang ke apartemen dan menemaninya, namun tugas dan persiapan ujian yang padat pun menghalangi keinginan kami untuk bersama.


Arien bersikap normal kembali. Tak ada perubahan setelah kejadian itu. Bahkan kemarin dia bolos tak mengikuti bimbel untuk bertemu mangsa barunya. Tentu sebagai teman, aku berkewajiban untuk mengingatkannya tapi dia sudah dewasa, diam sepertinya menjadi pilihan tepat daripada harus berdebat.


"De!"


Kalimat yang muncul di layar HP.


Langsung kuambil gadget itu, dan dengan semangat membalas panggilan Afzal lewat WA.


"Kakak sudah selesai? Kapan pulang ke rumah?"


"Kenapa? Kangen?"


"Iya. Masa ngga kangen sama suami sendiri!"


"Kalau aku pulang dikasih apa?"


"Kasih susu coklat!"


"Maunya susu kamu, boleh?"


Wajahku memerah setelah membaca pesan terakhir yang baru saja dikirim afzal. Kubalas hanya dengan emoticon bergambar love.


"Besok kita pergi ya ke Bogor, dede dijemput sore ya, pakai gaun malam yang cantik, kita dinner. Bunda sudah kakak telepon tadi, katanya besok pagi bunda juga ada acara sama om dan tante di Bandung. Jadi kamu ngga usah khawatir!"


"Jauh banget dinner di Bogor?"


"Sekalian kita kencan. Mau ngga?"


"Siap Bos! Bawa baju ganti juga ya?"


"Iya, lingerie juga boleh!"


Aku hanya membalas chat-nya dengan emoticon tersenyum. Ah, besok kami akan bertemu dan jalan-jalan! Rutinitas seminggu ini memang butuh refreshing. Dengan hati yang gembira, akunsegera beranjak dari kasur dan mengambil sebuah tas untuk menyiapkan keperluan besok. Melihat sebuah lingerie berwarna merah terang membuatku jadi terkekeh. Sepertinya sekali-kali memakainya dan membahagiakan suami tak ada salahnya kan? Membayangkannya saja sudah membuat wajahku semakin merona.


***


Ketika afzal menjemput di rumah, aku sudah rapi mengenakan gaun panjang berbahan satin mengkilap, berwarna hitam dengan sedikit paduan burkat silver di bagian dada. Hijab yang kukenakan pun sangat simpel, berwarna senada dengan bros berwarna perak.


Mataku sedikit membesar saat memasuki mobil. Afzal menggunakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja berwarna biru muda. Tampak formal namun santai. Ia terlihat sangat tampan dengan dandanan seperti ini.


“maaf ya, ngga bukain pintu dan minta kamu cepat-cepat ke mobil! Makin sore makin macet soalnya!”


“ iya!” jawabku tanpa ekspresi.


“baju kita aman?”


“ehm!”


“oke, berangkat ya sayang!” ucap afzal dengan nada manja.


Sejak mobil melaju aku tak banyak bicara. Pikiran terpecah karena hari ini arien tidak masuk sekolah. Padahal masih ada satu mata pelajaran praktek lagi yang harus diselesaikan. Seharian ini HP nya aktif, tapi panggilan dan pesanku tak ditengoknya. Membuat pikiranku terpusat padanya.


“de! Sejak tadi sepi aja!” ucap afzal, menyadarkanku dari pikiran tentang arien.


“biasanya langsung putar lagu bollywood. Ada apa?”


“Arien hari ini ngga masuk sekolah. Kemarin dia ngga ikut bimbel. Aku takut dia salah kenal orang lagi!”


“de, it’s time for me! Seminggu loh kita ngga ketemu. Ngga kangen?”


“kakak bayangin deh, gimana kalo dia ketemu cowok yang hampir perkosa dia kayak kemarin! Ngerikan?”


“maaf! Aku Cuma panik!”


Afzal masih terdiam.


“kita mau ke mana, kak?” tanyaku ragu-ragu, melihat ekspresi afzal yang datar.


“bogor!” jawabnya singkat.


“oke, kita senang-senang ya hari ini! Seminggu kita sudah LDR-an!” ucapku dengan nada ceria untuk mencairkan suasana.


“cek deh laci depan kamu!” pinta afzal, sikap datarnya mulai mencair.


Tanpa menyia-nyiakan waktu aku langsung membukanya. Bola mataku membesar dan mulutku menganga. Spontan menoleh ke arah afzal yang kini sudah berubah ekspresi jahil dan tersenyum genit.


“Kond*m sebanyak itu buat apa coba?” teriakku setengah malu.


“ya, buat dipakailah!” jawab afzal tanpa rasa malu.


“banyak banget!”


“iyalah, selama kita di sana kita habiskan. Kalau belum habis jangan pulang!”


Biji mataku semakin membesar, dan wajahku semakin bersemu merah. Kucubit pinggang afzal dengan keras. Dia hanya berteriak kesakitan tanpa bisa menghindar.


“otaknya mesum banget sih!”


“ mesum sama istri mah ngga akan dosa malah dapat pahala!” ucap afzal dengan tersenyum lebar. Aku hanya diam, tak membalas lagi jawabannya.


Perjalanan sangat ramai. Mungkin karena hari jumat sore adalah waktu yang sering banyak digunakan orang untuk menghabiskan weekend bersama keluarga di luar kota. Meskipun ramai, untungnya tidak terhalang kemacetan panjang, apalagi daerah yang kami tuju di daerah ramai pengunjung, mega mendung, bogor.


Mobil mulai memasuki kawasan seperti perumahan, hari menjelang isya sehingga hanya lampu-lampu penerangan jalan yang menerangi kota hujan ini dengan cahaya sedikit remang-remang. Namun aku dapat melihat, rumah- rumah ini bergaya minimalis modern, elit, dan semakin lengkap karena letaknya di daerah yang cuacanya menyejukkan.


Afzal membukakan pintu mobil di sebuah rumah yang terlihat megah di antar rumah yang lain. Nuansa putih menjadi warna dominan dari rumah atau villa ini. Tanpa bertanya aku berjalan mengekor di belakangnya. Tangan kananku erat digenggamnya. Dari luar sangat sepi, tak ada orang yang menyambut kami saat afzal menarik gagang pintu untuk masuk ke dalam rumah.


Suasana rumah cukup nyaman, tidak banyak perabot namun segala hiasannya tampak sederhana dan cantik. Wangi bunga-bunga pun menusuk indera penciumanku. Ehm, menyegarkan kepala.


Afzal masih terdiam dan menuntunku ke arah samping villa. Terhampar kolam renang berwarna biru yang diberi kelopak mawar merah dan lilin- lilin di atasnya. Mataku tentu saja terpukau. Tak berkedip. Aku menyukainya. Afzal menoleh ke arahku yang masih berdiri di belakangnya. Kuanggukkan kepala sebagai isyarat bahwa aku menyukai kejutannya. Ia menarikku agar aku lebih dekat dengannya.


Cup.


Sebuah kecupan hangat mendarat di dahiku.


Wajahku seketika merona. Namun mataku terpaku pada bayangan tak jauh dari hadapanku. Ada seseorang, oh bukan, dua orang berada di seberang kolam sedang duduk berhadapan. Mereka tampak sedang menikmati percakapan dengan makanan yang terhidang penuh di atas meja bundar yang mereka jadikan tumpuan.


Perempuan itu menggunakan gaun berwarna hitam yang elegan. Namun lehernya yang jenjang dan pundaknya yang proposional terekspos dengan sexy di pelupuk mataku. Wajahnya meskipun belum terlalu jelas, kupastikan sangat cantik. Siluet bayangannya saja sudah sangat cantik.


Tuk....


Namun tiba-tiba langkahku terhenti. Setelah mataku memastikan bahwa wajah perempuan itu dapat kukenali. Wajah yang begitu familiar. Wajah yang seharian ini telah membuatku merasakan khawatir yang teramat sangat.


“Arien!!” ucapku setengah berteriak


Si punya nama pun menoleh. Tapi tak ada ekspresi terkejut di wajahnya. Seperti tahu kedatangan kami.


Lalu seorang pria dihadapannya pun menoleh ke arahku. Dan mataku semakin terbuka lebar.


“YUDHA???”


Kedua kakiku mendadak lemas. Tanpa aba-aba afzal langsung menopangnya.