
Semakin hari itu dekat, semakin aku terus memikirkannya. Rasanya ingin waktu kuputar lebih cepat agar segera bertemu Qay. Aku rindu ekspresi kesalnya ketika aku memanggilnya mama, aku rindu senyumnya, wajah marahnya, semua hal tentang Qay, aku suka.
Perasaan ini tumbuh tanpa kusadari, tiap hari bertambah meski hanya 1 inci. Tuhan pun sepertinya mendukung, dengan bertemu Ranum menjadi pertanda jalan kembali ke arah dia, ya dia, gadis unik yang menyatakan cinta terlebih dahulu dengan alasan yang aku tidak percaya, tapi ingin mempercayainya, lewat mimpi.
Tring.....
Sebuah pesan WA masuk ke telepon genggamku.
Sebuah gambar, dengan pakaian minim dan seksi, tersenyum, memperlihatkan belahan dada, leher yang jenjang, dan paha yang ramping.
"baju ini bagus ngga, zal?"
Begitu pesan yang tertulis di bawah gambar. Arien rutin mengirim gambar semacam ini, dengan alasan ia baru membeli baju. Entah apa maksudnya. Ia semakin aktif menghubungiku ketimbang ranum.
Awalnya aku bermaksud untuk mencari tahu tentang Qay melalui arien. Tetapi setiap pembicaraanku ke arah Qay, arien kurang menanggapi.
"cewek baru, zal? " tanya yudha yang entah sejak kapan berada di belakangku.
"bukan! " jawabku datar.
Ia mengambil telepon genggamku, dan memperjelas penglihatannya pada foto arien.
"selera cewek lo berubah? " tanyanya lagi.
"apa sih? Ini bukan cewek gue! " jawabku sambil mengambil telepon genggamku kembali.
"namanya arien, sahabatnya Qay juga yang gue temui beberapa hari lalu di Mall. Tiap hari ada aja dia kirim gambar kayak gini! " ucapku sambil menghapus foto tersebut.
"emang lo ngga tertarik? " tanya yudha sambil cengengesan. "montok! "
"cewek model begini mah banyak, dan gue ngga suka sama cewek yang dengan mudah bisa gue dapatkan. Ngga pas di hati. Semua orang bisa menikmati milik gue, karena terlalu diumbar. Sorry dha, gue ngga rela perempuan gue mengamalkan tubuhnya dinikmati orang meskipun hanya lewat mata! " ucapku dengan semangat.
"kalau foto dia lo kirim di grup anak-anak pasti jadi rebutan. Mereka suka nih cewek model begini, he... He...! " ucap yudha sambil mengedipkan matanya padaku.
"iya buat bahan objeknya hasrat mereka aja. Ada-ada aja lo dha, gue ngga mau sahabat pacar gue jadi korban! "
Aku meninggalkan yudha, tak peduli dengan ledekkannya. Saat ini aku tak peduli apapun selain tentang Qay.
****
"Masha Allah cantiknya anak Bunda! " puji bunda saat aku masih berdiri di depan cermin, belum melepas jilbab yang tadi aku pakai saat ikut bunda pengajian.
Bunda memegang bahuku, menyandarkan kepalanya pada bahuku.
"lihat Qay, Allah mewajibkan perempuan untuk berhijab. Bukan untuk membuat perempuan menjadi kesulitan. Dengan hijab Allah melindungi kita, nak! "
"Qay tetap terlihat cantik, bahkan semakin cantik! "
Aku diam menatap ke cermin. Entah mengapa ada perasaan nyaman yang timbul saat melihat wajah sendiri dalam balutan hijab ini.
"Qay, bunda merasa kamu banyak berubah semenjak kamu masuk SMA. Rambut kamu potong pendek, ikut ekskul pecinta alam, pokoknya kamu berubah. Kenapa nak? Ada hal yang tidak bunda ketahui yang kamu sembunyikan?" ucap bunda seraya membalikkan tubuhku ke arahnya hingga membuat kami saling berhadapan.
"Qay kehilangan Angga bunda! Qay merasa tak ada yang melidungi. Bingung, tapi Qay ngga boleh bikin angga khawatir. Berdandan seperti laki-laki adalah cara Qay untuk melindungi diri, supaya mereka tidak ganggu Qay, bunda! "
"Qay, Allah meminta seorang Muslimah untuk berhijab supaya mereka terjaga dari orang-orang yang ingin berbuat dzalim. Berhijab juga akan menjaga kita dari perbuatan hina! "
Semua kalimat yang bunda sampaikan adalah kebenaran. Hal ini membuatku semakin sedih, karena terlambat menyadarinya, ayah sudah tak ada di sini, seandainya ia ada, ia pasti akan bahagia. Aku palingkan lagi wajah ke cermin. Semua terlihat menyejukan. Bismillahirohmanirrohim, kuucapkan kalimat Allah seraya memantapkan hati.
Semua pandangan tertuju padaku. Entah apa isi kepala mereka melihatku. Aku tak peduli, hanya membalas tatapan mereka dengan senyuman. Ini hari pertamaku masuk sekolah lagi setelah kepergian ayah dan hari pertama kali pula aku memilih untuk jalan ini. Jalan hijrah. Bukan untukku tapi untuk Allah. Allah yang telah membuka mataku bahwa hanya Allah yang dapat melindungiku.
"Qay, lo benaran qay? " tanya arien ketika kami bertemu di depan kelas.
"jilbab lo bisa dilepaskan kalau kita hangout? masa kita nongkrong lo pakai gituan?"
"teman pakai hijab bukannya bersyukur, malah tanya bisa dilepas atau ngga? " celetuk ranum sambil memukul kepala arien.
"selamat datang Qay, gue tau lo kuat. ingat ya, gue ada buat lo!"
aku tak berkata apapun, hanya mendengarkan mereka, iya mereka, teman-teman yang selalu ada untukku.