Blind is Love

Blind is Love
Ini Cerita Cinta



“gue ngga belah duren, Qay! Yudha nolak gue mentah-mentah!” jawab Arien ketika aku bertanya tentang apa yang terjadi antara dia dan yudha tadi malam.


“kok suara kecewa gitu sih? Kita itu harus jaga diri rien!”


“iyalah kecewa, orang gue ditolak! Sepanjang sejarah baru kali ini gue alami!”


“beneran lo sama dia ngga melakukan apapun? Ciuman, pelukan, atau petting gitu?”


“ya, alhamdulillah ciuman mah dapat, Qay!” ucap arien santai.


“alhamdulillah? Eror emang lo! Itu tuh zina rien, sudah dong, jangan main-main begitu lagi!”


“mulai deh! Eh, yudha ngajak nikah!”


Aku terdiam. Menatap ekspresi arien untuk mengetahui dia bercanda atau serius. Melihat aku yang menatapnya, arien malah balas menatapku.


“yudha bilang mau belah duren kalau kami sudah nikah! Lo bilang dia pemain, kok malah ngajak gue nikah!” ucap arien kemudian berdiri dari kasur, ia melangkah ke arah kamar mandi.


“ya Allah bagus dong, rien! Terus lo jawab iya kan?” tanyaku penasaran.


“ngga, gue ngga mau nikah!”


“rien!” panggilku yang ditinggal arien masuk ke kamar mandi.


Huh, aku hanya bisa menghela napas panjang. Pernikahan orang tuanya menyebabkan traumatis dalam hidup arien. Ini bukan sepenuhnya kesalahan arien, dulu pernah ia menangis semalaman, bercerita bagaimana masa kecilnya penuh dengan pemandangan dan kejadian yang menyakitkan. Seingatnya sejak usia empat tahun ia terbiasa melihat bagaimana papanya menyiksa mamanya sebelum melakukan hubungan suami istri. Tamparan, pukulan, cacian sudah menjadi santapan sehari-hari yang ia lihat.


Bukannya timbul rasa kasihan, arien justru membenci mamanya. Ia berpikir mamanya hanya seorang perempuan bodoh yang dibodohi oleh rasa cinta. Dia tega memperlihatkan adegan demi adegan penyiksaan itu kepada arien. Jika dengan jatuh cinta dan menikah hidupnya akan seperti mamanya, arien akan memilih sendiri seumur hidupnya. Cinta dan menikah hanya topeng, hanya kata bermakna menjijikkan menurutnya.


“rien!” panggilku dari depan pintu kamar mandi.


“apa qay? Iya nanti gue keluar kalau sudah rapi!”


“menikah dan jatuh cinta tidak semenakutkan yang lo pikirin kok! Setidaknya, lo harus lebih sayang sama diri sendiri. Kalau lo ngga peduli sama ortu lo, gue dan bunda peduli dan sayang banget sama lo rien!”


Arien tak membalas kata-kataku. Meskipun begitu, aku tahu ia mendengar. Aku berharap kehadiran yudha akan membawa suatu hal yang baru dalam hidupnya. Meskipun yudha bukan lelaki yang baik di mataku tetapi afzal mengenalnya, itu sudah cukup menjamin untuk menghilangkan kekhawatiranku.


***


Hari ini kami akan menghabiskan waktu di luar vila. Tapi tidak bersama yudha dan arien. Mereka tidak ingin waktu berduaannya terganggu oleh kami. Heh...siapa juga yang mau mengganggu mereka! Kok, jadi terbalik! Sebenarnya yang sudah menikah itu kami atau mereka!


Sejak kami keluar vila, afzal hanya terdiam. Sesekali aku melirik wajahnya, tetap saja ekspresinya datar. Apa dia marah ya? Harusnya kan aku yang marah. Tadi pagi saat aku terbangun untuk shalat subuh, dia masih tertidur di sofa dengan kaki dan tangan yang terikat. Tetapi melihat tubuhku yang sudah terselimuti, aku yakin pasti afzal yang menyelimutinya. Tiba-tiba jadi merasa berdosa. Kalau bunda tahu, aku pasti dinasihati tanpa henti.


“arien bilang, semalam mereka ngga begituan!” ucapku memulai pembicaraan.


Namun makhluk yang aku ajak bicara tak memberi respon. Wajahnya tetap datar.


“mungkin yudha masih bisa dibilang laki-laki baik!”


Afzal tetap terdiam.


“semalam kakak ya, yang kasih selimut? Kok kaki dan tangannya malah diikat lagi?” tanyaku lagi, masih berusaha agar dia bicara.


“Kak! Punya telinga ngga sih? Diajak bicara kok diam saja!” kali ini aku mulai emosi, sikap datarnya menghilangkan rasa bersalahku. Kualihkan pandangan ke luar jendela, dengan tangan dilipat di dada.


Deg.


Ucapan afzal membuatku terdiam. Aku tahu ia menyindir sikapku yang mungkin sedikit kekanakkan, eh, mungkin terlalu kekanakan.


“urusan yudha dan arien biar menjadi privasi mereka. Dibandingkan kita mereka jauh lebih banyak pengalaman.”


Aku masih terdiam, tetapi kedua tanganku mulai berubah posisi. Kini aku sibuk memainkan pakaianku.


“tindakan kamu semalam itu kelewatan. Sebagai laki-laki aku juga punya harga diri. Bagaimana bisa diatur dan dipermainkan oleh seorang perempuan, apalagi istri sendiri. Tapi aku memilih diam karena jika semalam kamu tidak aku turuti, kira-kira apa yang akan terjadi? Kamu pasti semakin marah dan bersikap lebih tidak dewasa!”


“kalau aku diam, itunya aku marah. Harusnya kamu peka, jangan balik marah-marah! Atau kamu lebih suka kalau aku bentak-bentak?”


“maaf!” ucapku pelan.


“apa?” tanya afzal, pura-pura tidak mendengar.


“maafin aku!” ucapku lebih keras.


“terus?” tanyanya dengan ekspresi wajah pura-pura bingung.


“ya sudah, selesai! Kita impas, kemarin kamu salah, semalam aku salah!”


“impas bagaimana? Aku salah dapat hukuman. Masa kamu salah ngga dapat hukuman?”


“kok, kamu dendaman sih? Awas aja kalau hukumannya aneh-aneh! Aku ngga mau nurut!”


Afzal tersenyum puas. Dia tak membalas ucapanku.


“apa hukumannya?” tanyaku penasaran.


“hukuman aku mah enak dan menyenangkan!” jawabnya cengengesan.


“mana ada hukuman enak! Kalau dihukum enak, semua orang pilih jadi maling.”


“ lah memang betul hukuman enak, orang pilih jadi maling! Tuh kayak para koruptor, maling uang rakyat, dihukum sebentar, dipenjarannya sudah seperti hotel!”


“ih kok jadi ke koruptor sih!!” ucapku tambah kesal.


“apa hukumannya afzal?” tanyaku semakin kesal.


“ngga sopan panggil nama suami begitu! Oke ditambah lagi hukumannya!”


“ih....!” teriakku kesal.


“tadinya aku Cuma menghabiskan tiga buah k*ndom untuk menghukum kamu hari ini! Tapi karena kamu ngga sopan, semuanya aku pakai!”


Glek.....


Aku menelan ludah. Marah dan kesal berganti jadi malu. Berapa ronde yang akan terjadi kalau begini? Ah, membayangkannya saja pinggangku terasa linu. Melihat ekspresiku yang berubah, afzal hanya terkekeh. Aku jadi menyesal sudah iseng kepadanya, aku lupa kalau afzal selalu punya seribu macam cara untuk menjahiliku.