Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Mantan tunangan



Berulangkali Diana menarik napas dalam untuk menenangkan ketegangan yang menelusup menguasai kala ia dan Ashlan tiba di tempat acara. Ragam manusia kelas atas memenuhi restoran hotel yang telah di pesan Peter sebagai pusat pengumuman identitas calon keluarga barunya. Hal tersebut membuat Diana malam ini sukses menjadi objek perhatian seluruh tamu undangan.


"Anda cantik sekali, Nona Steel! Perkenalkan, saya Zayn Abdullah dan ini istri saya, Halimah Abdullah!" sapa salah satu tamu undangan yang usianya mungkin seumuran Ashlan bersama seorang wanita dengan pakaian tertutup dan hijab yang membungkus kepalanya.


Diana tersenyum lalu menganggukkan kepala ke arah Zayn. Sementara, Halimah maju dan memeluknya singkat sambil menampakkan raut bersahaja di wajah teduhnya.


"Senang bertemu Anda, Nona Steel!" kata Halimah setelah melepaskan pelukannya.


"Senang juga bertemu Anda, Nyonya Abdullah!"


Sapaan dan sambutan ramah Diana dapatkan dari beberapa orang lagi. Lama-kelamaan, Diana mulai bisa menyesuaikan diri dengan suasana yang ada. Etika dan beberapa pendidikan dasar mengenai tata Krama kebangsawanan yang diajarkan Mulanie benar-benar sangat membantunya.


Ah! Mendadak Diana merindukan sosok gadis itu. Entah apa kabarnya di dunia sana.


"Silahkan duduk ,Ratu!" ujar Ashlan mempersilahkan.


Diana mengangguk. Ia duduk di kursi yang sudah dimundurkan Ashlan untuknya. Di meja tersebut hanya ada dia, Ashlan dan juga Peter. Sesekali, beberapa orang bergantian menghampiri hanya untuk berbincang sebentar lalu pergi lagi.


"Ratu baik-baik saja, kan?" tanya Ashlan sembari menyentuh punggung sang kekasih. Berusaha memastikan bahwa Diana tetap merasa nyaman di lingkaran orang-orang yang masih asing baginya.


"Ya, ku rasa tidak seburuk yang ku bayangkan," jawab Diana.


Setelah menghabiskan hidangan pembuka, Peter pamit untuk menemui seorang kerabat yang sudah lumayan lama tak bersua yang kebetulan baru saja datang. Jadwal keberangkatan pesawat yang delay, menjadikan pria yang tinggal di Nottingham tersebut sedikit mengalami keterlambatan.


"Diana Sayang!" panggil Peter yang membuat Diana sigap berdiri.


"Ya, Kakek?"


"Perkenalkan, ini Paman Eddie! Beliau anak dari sepupu Ibu mertuamu yang tinggal di Nottingham," ucap Peter yang sedang menunjuk pria yang berdiri di sampingnya.


"Halo Paman, saya Diana!"


"Hai, Sayang! Kau cantik sekali! Senang bisa berkenalan denganmu," balas Eddie.


Ashlan melanjutkan makannya dengan tenang tanpa berniat menyapa adik sepupu dari Ibunya itu. Sang Kakek yang melihat tingkah sang cucu hanya menggelengkan kepala. Sementara, Eddie nampak tertawa menanggapi. Ia sama sekali tak tersinggung dengan sambutan dingin dari sang keponakan.


"Maafkan kelakuan Ashlan, Ed!" ucap Peter tak enak setelah permintaannya kepada Ashlan untuk menyapa Eddie malah tak dihiraukan.


"It's Okay, Paman! Bukankah Ashlan memang seperti itu sejak dulu? Lagipula, mungkin dia sudah bosan berbasa-basi denganku karena hampir setiap Minggu kami bertemu membahas bisnis," balas Eddie yang melirik Ashlan yang sedang mendengkus sebal tanpa niat menatapnya. "Aku prihatin denganmu, Di! Apa bisa kau hidup dengan kanebo kering itu?"


Ashlan menggebrak mejanya kesal. Tatapan matanya yang tajam menghunus ke arah Eddie yang malah disambut gelak tawa oleh sang Paman.


"Wah! Kau tersinggung gara-gara ku katai kanebo kering, Ash?" tanya Eddie meledek.


Ashlan membuang muka. Diana yang melihat tingkah Ashlan yang tak ubahnya seperti anak kecil yang ngambek karena tak di beri permen justru menutup mulutnya menahan tawa.


"Selain kanebo kering, dia juga bayi besar yang suka merajuk. Kau yakin, tetap akan melanjutkan pernikahan dengan manusia macam itu, Di? Bagaimana jika kau mempertimbangkan keputusanmu itu?"


"Paman," sergah Ashlan tertahan.


"Wah! Lihat Di!" Eddie menunjuk Ashlan. "Sebentar lagi, dia akan berubah jadi monster jadi-jadian. Kita harus segera menghindar. Ayo pergi!" imbuhnya seraya menggandeng Diana untuk pergi dari meja tersebut.


"Enak saja! Siapa yang menyuruh Paman menculik istriku, hah?" protes Ashlan yang tiba-tiba berdiri dan menahan pergelangan tangan Diana.


"Istri?" Eddie berbalik menatap sang keponakan. "Belum apa-apa, Diana sudah kau klaim sebagai istrimu?"


"Dia memang istriku, Paman! Jadi, stop mengganggunya dan jangan coba-coba mempengaruhi pikirannya." Ashlan berucap serius.


"Oke-oke! Baiklah!" Eddie mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. "Kau itu memang tidak bisa di ajak bercanda, Ash! Tidak seru," ucapnya sembari menggeleng.


"Biar saja!" sahut Ashlan.


Setelah Eddie pergi, Ashlan menghenyakkan kembali bokongnya ke kursi dan memotong daging steak sebelum menggeser makanan tersebut ke hadapan Diana.


"Terimakasih, Suami!" ucap Diana.


Ashlan mengangguk. Mood-nya masih berantakan karena gangguan dari Eddie. Lebih bertambah berantakan lagi kala seorang gadis dengan gaun berwarna maroon dipadukan dengan make-up bold datang dan langsung bergabung dengannya dan Diana tanpa izin terlebih dulu.


"Hai, Ash!" sapanya.


"Kenapa kau kemari?" tanya Ashlan yang jelas tak menyukai keberadaan gadis itu disekitarnya.


"Aku tidak punya waktu untuk meladenimu membahas masa lalu, Gee! Pergilah! Cari meja lain!" usir Ashlan tanpa basa-basi.


"Dia siapa, Ash?" tanya Diana menyela percakapan menegangkan antara Ashlan dan gadis yang dipanggil 'Gee', tersebut.


"Perkenalkan!" Mengulurkan tangan yang di sambut ragu oleh Diana. "Namaku Geraldine O'Neill. Panggil saja, Gee. Aku...," Ia melirik ke arah Ashlan yang makin bertambah kesal. "mantan tunangan Ashlan."


"Mantan-tunangan?" tanya Diana sembari melirik Ashlan meminta penjelasan. Pasalnya, Ashlan nyaris menceritakan seluruh kehidupannya mulai dari kecil sampai dewasa terkecuali perihal Geraldine.


"Dia orang tidak penting, Sayang!" sinis Ashlan.


Geraldine tersenyum remeh. "Oh ya? Menurutmu hubungan 3 tahun kita termasuk tidak penting juga?"


"Apa maumu, Gee?" tanya Ashlan dengan tatapan tajam.


"Tidak ada," jawab Geraldine. "Hanya ingin melihat, seberapa baik wanita yang kau anggap pantas untuk menggantikan ku ini," ucapnya sembari menatap sinis ke arah Diana seolah sedang menelanjangi wanita itu.


"Jadi, kau kesini hanya untuk membandingkan antara aku dan dirimu? Begitu?" tanya Diana dengan tawa kecilnya.


"Tentu. Tapi... ternyata kau tidak sehebat yang ada di pikiranku. Bahkan, aku dengar, kau hanya gadis yatim piatu miskin yang bekerja sebagai koki di restoran kecil." Geraldine mencebik. "Hufft! Miris sekali. Pantas, kau mencari pria kaya seperti Ashlan untuk kau nikahi!"


"Gee... Jaga omonganmu!" gertak Ashlan. Tangannya sudah terkepal erat. Andai Geraldine bukan wanita, tentu kepalan tangan itu sudah mendarat di rahangnya.


"Sudahlah! Kau tenang saja!" bisik Diana menenangkan. Kepalan tangan itu ia elus perlahan hingga akhirnya melemah dan terbuka. Melihat hal tersebut, sesuatu didalam diri Geraldine semakin mendidih. Ia tak terima, Ashlan yang ia tinggalkan dikala koma, malah bahagia bersama perempuan yang menurutnya sama sekali tak selevel dengannya.


"Bukankah semua wanita memang bercita-cita menikah dengan pria kaya? Bahkan, kau pun yang memang sudah terlahir kaya pasti juga menginginkan hal yang sama, bukan?" Diana bertanya dengan sorot mata yang mengintimidasi.


"Aku ini sudah kaya. Aku bukan wanita matre sepertimu!"


"Oh ya?"


"Tentu saja. Aku adalah wanita terhormat yang tidak haus akan harta seperti gadis miskin sepertimu." Geraldine menyeringai penuh kemenangan.


"Kalau begitu, kenapa kau masih disini?"


"Apa maksudmu?"


Diana menghela napas. "Kenapa kau masih disini dan berbicara omong kosong seolah-olah kau masih belum bisa move-on dari calon suamiku, Nona? Kenapa kau tidak cari pria miskin saja di luar sana untuk kau cintai? Bukannya kau tidak butuh harta dari lelaki? Jadi, kurasa tak ada gunanya kau disini untuk menghina dan merendahkan aku dihadapan pria yang sudah berstatus jadi mantan tunanganmu. Lagipula, kalaupun aku matre, lantas kenapa? Toh, Ashlan juga tidak keberatan aku poroti. Iya kan, Sayang?" Diana sengaja bersandar di lengan Ashlan untuk memanas-manasi Geraldine.


"Sombong sekali kau!"


"Setidaknya, mulutku tidak sekasar mulut Anda, Nona kaya!"


"Ka-kau!" Geraldine menunjuk wajah Diana.


"Turunkan tanganmu, Nona!" ucap Diana sambil meremas telunjuk Geraldine sedikit keras hingga gadis itu meringis. "Setahuku, semua yang diundang kemari adalah orang-orang kelas atas dengan pendidikan tinggi dan etika yang baik. Lalu, kenapa yang kelas rendahan dengan etika buruk sepertimu bisa masuk, ya?"


"Kau menganggap ku kelas rendahan, hah?" Mata Geraldine mendelik.


"Kalau bukan rendahan, apa sebutan yang pantas untuk wanita gagal move on yang sepertinya berniat menjadi wanita penggoda sepertimu?"


Seluruh tubuh Geraldine bergetar menahan emosi. Niatnya untuk merendahkan Diana malah berbalik pada dirinya sendiri. Ia mengira, gadis sekelas Diana akan sangat mudah ia intimidasi. Tapi, kenyataannya justru kini dia yang merasa terintimidasi oleh tatapan dan aura Diana yang menurutnya luar biasa. Tanpa berbicara lagi, Geraldine beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi.


"Kau sungguh pernah bertunangan dengan wanita macam itu, Ash?" tanya Diana kepada sang kekasih setelah Geraldine pergi.


Ashlan mengendikkan bahunya. "Bukan tunangan resmi. Hanya semacam kesepakatan antara Kakek dan kedua orangtuanya."


"Lalu, kalian pacaran?"


Ashlan menggeleng. "Tidak. Aku tidak pernah suka pada tingkah lakunya. Jadi, setelah aku tahu bahwa dia memutuskan pertunangan tak resmi itu saat aku koma, justru menjadi berkat tersendiri bagiku. Kakek jadi tak pernah membahasnya lagi dan hubungan antara keluarga Arlen dan O'Neill kembali seperti orang asing. That's it!"


"Aku pikir, kau dan dia pernah...,"


"Pernah apa?" sergah Ashlan. "Saling mencintai?" tebaknya.


"Iya."


"Nope!" geleng Ashlan. "Aku dan Geraldine hanya kisah yang pernah ada karena dipaksakan. Sementara, aku dan kau adalah kisah yang ada karena ditakdirkan."