Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Kegilaan Diana



Persik adalah pantangan terbesar bagi keturunan Ashlan. Konon, buah itu merupakan kutukan bagi leluhur Ashlan yang dulu dengan lancangnya mencuri kekuatan dewa demi menjadikannya pemimpin terkuat yang paling di segani. Namun, sang leluhur siap menerima kutukan itu walau akan terus berlaku hingga keturunan terakhir.


Persik dapat menghilangkan kekuatan sihir yang ada dalam tubuh orang yang memakannya. Yang secara otomatis, akan membuat Ashlan kehilangan kekebalan terhadap racun yang selama ini ia miliki. Alhasil, kini pria itu benar-benar sekarat. Walau sisa-sisa energi yang masih ada berusaha ia gunakan untuk menetralisir efek racun tanaman monkshood yang telah ia konsumsi, tetap saja itu tak akan cukup untuk melawan kedahsyatan racun legendaris yang bahkan bisa membuat orang keracunan hanya dengan sekadar bersentuhan saja.


"Ra-Ratu...,"lirih Ashlan yang mulai merasakan detak jantungnya semakin melemah.


"Jangan biarkan dia tertidur, Rick! Terus jaga kesadarannya,"teriak Tuan Vernand yang masih berusaha mentransfer energi agar bisa membantu melawan efek racun tersebut.


"Panggil sang Ratu,cepat!" teriak Alarick kepada orang-orang.


Wajah Ashlan semakin memucat. Napasnya terasa semakin lemah. Matanya beberapa kali sudah hendak tertutup namun Alarick terus melarangnya melakukan itu. Bibirnya sedikit terbuka. Berusaha menghirup oksigen yang semakin lama semakin sukar memenuhi paru-parunya.


Pria bersurai perak itu tahu bahwa waktunya tak akan lama lagi. Namun, keinginan terakhirnya hanya satu. Hendak melihat wajah wanita yang dia cintai untuk terakhir kali.


Di saat nyawa sudah semakin dekat tercabut dari raga, berbagai kekhawatiran memenuhi pikiran Ashlan. Tanpa sadar, airmatanya berderai tanpa bisa dicegah. Ia tak bisa membayangkan akan seperti apa hidup Diana setelah dia pergi. Pastilah hati wanita itu hancur karena kematiannya. Apalagi, Diana harus menjadi orangtua tunggal bagi anak mereka kelak.


"Maafkan aku, Di! Aku harus membuatmu melalui semuanya sendiri! Maaf karena aku belum bisa menjadi suami yang sempurna! Maaf karena aku harus membuatmu mengalami patah hati terhebat setelah semua janji-janji manis yang pernah aku berikan!"


Jax dengan sigap melaksanakan perintah. Ia bersama 5 Ksatria lain langsung berpencar mencari keberadaan Diana. Selang beberapa menit, Jax akhirnya menemukan Diana yang sedang bermain bersama Rey dan 7 anak-anak lainnya di taman.


Saat melihat kedatangan Jax dengan wajah gusar dan napas tersengal, Diana langsung mematung dengan degup jantung yang mulai tak karuan. Senyum di wajahnya memudar.


"Yang Mulia Kaisar...,"


Belum selesai kalimat yang diucapkan Jax, Diana sudah mengangkat tinggi-tinggi gaunnya dan berlari secepat yang ia bisa untuk kembali ke aula. Seketika, sinar kehijauan berpendar dari setiap jejak kaki yang ia tinggalkan. Rambutnya perlahan mulai memutih. Dimulai dari puncak kepala hingga ujung rambut. Tampak Mulanie yang berusaha mengejar dari belakang bersama Jax. Gadis itu juga ikut-ikutan khawatir karena melihat respon sang Ratu yang seperti itu.


"Ashlan...," lirih Diana dalam hati. Air mata yang menetes tak ia hiraukan. Kaki jenjangnya terus menapaki jalan dengan cepat. Kecemasan yang menyelimuti semakin bertambah terasa ketika ia semakin dekat ke tempat dimana Ashlan berada.


Kerumunan terbelah ketika Diana tiba dengan napas tersengal dan air mata yang mengaliri pipi. Semua orang memberikan jalan untuk sang Ratu lewat agar lekas mendekati sang Kaisar yang mereka harapkan tetap baik-baik saja. Lantunan doa tak luput mereka rangkai dalam hati. Berharap sesuatu yang buruk yang paling mereka takutkan tak akan pernah terjadi.


"Yang Mulia!" pekik Diana saat melihat Ashlan terbaring di lantai dengan kepala yang disanggah oleh tangan Alarick.


Tak ada respon apapun. Hanya sepasang netra abu-abu itu saja yang menatapnya bersimbah air mata.


"Apa yang terjadi?" tanya Diana kepada Alarick.


Namun, sepupu suaminya itu hanya menggeleng dengan mata memerah. Tak ada penjelasan apapun yang mampu ia utarakan karena merasa telah lalai menjaga sepupunya sendiri.


"Ku mohon! Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan anak kita!" lirih Diana yang kini terduduk di sebelah Ashlan sambil menggenggam erat tangan sang suami. Ia berharap, dengan mengatakan kalimat tadi, Ashlan bisa memiliki semangat hidup dan mampu bangkit kembali.


Ashlan tersenyum. Namun, lelaki itu tak bereaksi apapun meski Diana sudah mentransfer energinya untuk menyembuhkan lelaki itu. Tak lama berselang, tiba-tiba Diana merasakan telapak tangan Ashlan sudah mulai dingin. Matanya terus menatap Diana namun kali ini tak berkedip sedikitpun. Merasa ada yang janggal, Diana menghentikan aktivitasnya. Ia memegang pipi sang suami lalu menepuknya perlahan beberapa kali.


"Yang Mulia? Yang Mulia kenapa?" tanya Diana dengan hidung memerah.


Tuan Vernand turut berhenti mentransfer energi. Ia berinisiatif memeriksa denyut nadi Ashlan untuk memastikan sesuatu yang sama sekali tak ingin ia umumkan.


"Tuan Vernand?" tegur Alarick ketika Tuan Vernand hanya terpaku diam setelah memeriksa denyut nadi Ashlan.


Sang penyihir agung menggeleng. Matanya berkaca-kaca lalu mengusap perlahan punggung Diana.


"Tidak mungkin!" geleng Diana sambil memperkeras suara tangisnya. Usapan halus dari penyihir agung sudah ia tangkap maksudnya. Apalagi kalau bukan menguatkan untuk sesuatu yang sama sekali tak pernah Diana bayangkan.


"Kenapa sihirku tidak berfungsi, Tuan Vernand? Bukankah aku bisa menyembuhkan penyakit apapun? Tapi kenapa aku malah tak bisa menyembuhkan suamiku sendiri? Kenapa?" raung Diana yang kini merebahkan kepalanya di dada milik Ashlan yang matanya telah diusap Alarick hingga tertutup.


"Sudah terlalu terlambat. Racunnya menyebar cepat tanpa disadari oleh Yang Mulia sendiri," sahut Penyihir agung berat.


"Semuanya salahku!" lirih Alarick menyalahkan diri. Seharusnya, ia sudah bisa menangkap gerak-gerik aneh dari Ashlan jauh sebelum sang sepupu memanggilnya tadi. Hanya saja, karena terlalu memperhatikan suasana pesta, maka ia abai terhadap ekspresi wajah Ashlan yang memang sudah beberapa kali tampak mengerutkan kening karena sudah merasa ada yang aneh pada tubuhnya namun masih berusaha berpikiran positif dan tak ingin mengacaukan suasana pesta.


"Aku istri tak berguna! Aku tak bisa menyelamatkan suamiku sendiri... Maafkan aku!!! Maaf!" lirih Diana parau.


Pesta yang awalnya penuh keceriaan kini berganti duka. Semua orang menangis ketika Penyihir agung mengumumkan kematian sang Kaisar secara resmi. Gong raksasa dibunyikan untuk menyampaikan kabar duka tersebut ke seluruh penjuru kota. Dalam sekejap, suasana senyap dan terasa semakin gelap.


"Tidaaakkk... Bangun, Yang Mulia! Kenapa Anda tega sekali padaku, hah? Lantas, apa yang nanti akan aku katakan pada anakku jika dia menanyakan ayahnya kelak? Kenapa Anda jadi jahat begini? Kenapa Anda tidak mau menunggu sampai anak Anda dewasa? Mana janji Yang Mulia yang mau menua bersamaku sampai nanti? Mana?"


Di antara kerumunan, nampak Verona tersenyum sinis. Ia merasa sangat puas karena telah berhasil melenyapkan Ashlan berkat bantuan seorang pelayan yang selama ini memang bertugas di bagian pelayanan makanan khusus untuk Kaisar. Meski harus mengorbankan permata langka terakhir yang menjadi harta satu-satunya yang tersisa, ia merasa tak rugi. Kelemahan Ashlan akhirnya dia dapatkan dan hal itu membuatnya bisa menyingkirkan pria yang tak pernah bisa ia dapatkan itu. Karena, tujuannya memang ingin menjadikan Diana tak bahagia, sama seperti dirinya.


"Veronaaaaaaa...," teriak Diana murka kala melihat sosok sang sepupu sedang berdiri dengan wajah tersenyum penuh kemenangan. Sekalipun, wajahnya sudah buruk rupa, namun Diana masih mampu mengenalinya dengan jelas.


Verona yang mendengar namanya dipanggil langsung berusaha untuk kabur. Namun, belum sempat keluar dari kerumunan, ia sudah diringkus oleh Jax dan dua Ksatria lain.


"Dia Verona?" tanya Alarick tak percaya.


Diana pun bangkit berdiri. Airmatanya ia usap kasar lalu berjalan menghampiri Verona dan menghadiahi sang sepupu sebuah tamparan keras hingga wajah Verona berpaling ke samping.


"Kau dalangnya, kan?" tuding Diana penuh emosi.


"Kalau iya, kenapa?" tanya Verona dengan seringai puas.


"Biadab kau! Pembunuh!Tega sekali kau menjadikan anakku anak yatim, hah?" Gigi-gigi Diana bergemelatuk menahan amarah yang membuncah.


Bukannya menyesal, Verona malah tertawa. "Kau yang memulai semuanya, Di! Karena kau keluargaku hancur berantakan. Ayahku mati, Ibuku mati,bahkan kekasihku juga mati! Semuanya gara-gara kau, pembawa sial!" teriak Verona murka sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan dua Ksatria yang memegangnya.


PLAK!!


Lagi, Diana menampar pipi Verona. "Kau memang manusia yang tak patut dikasihani, Verona! Sekarang, matilah! Matiiiiii....," teriak Diana histeris sambil menyerang Verona dengan sihirnya.


Verona terpental karena serangan Diana. Bahkan, bukan hanya dia saja. Dua Ksatria yang memegangnya juga ikut terlempar.


"Kau bilang aku pembawa sial, hah?" tanya Diana sambil berjalan mendekati Verona. "Akan ku perlihatkan seperti apa sial yang sebenarnya kepadamu!"


"Apa-apaan kau, Di?" tanya Verona yang beringsut mundur karena merasa takut.


"Aku pembawa sial? Baiklah! Pembawa sial ini akan menjadi malaikat maut juga untukmu. Sama seperti Ayah dan Ibumu yang kejam itu."


"To-tolong...," teriak Verona ketakutan.


Namun, tak satupun yang berniat menolongnya. Belum sempat ia berdiri dan kabur dari sana, Diana sudah menghantamnya kembali dengan kekuatan sihir hingga dia menabrak sebuah patung Ksatria menaiki kuda sambil memegang tombak di tengah-tengah air mancur. Nahas! Rupanya tombak tajam itu mampu menembus punggung Verona hingga ke depan perut. Dalam sekejap, Verona mati dengan mata yang terbelalak dan mulut memuntahkan darah.


"Hahahahahaha...," Diana tertawa melihat Verona tak lagi bernyawa. Ada rasa puas namun separuh jiwanya juga merasa sangat bersalah. "Aku sekarang pembunuh?" lirihnya tak percaya.


Teriakan Tuan Vernand dan Alarick terdengar samar digendang telinganya. Diana berbalik menatap dua pria yang kini sedang berlari mendekat ke arahnya. Namun, mendadak pusing mendera kepala Diana. Pandangannya mulai kabur dan BRUK!! Semuanya gelap seiring tubuhnya yang berdebam jatuh ke lantai tak sadarkan diri.