
"Kenapa Ratu keluar istana tak bilang-bilang?" tanya Ashlan yang mulai mengawali sesi mengomelnya saat ini. Masa bodoh dengan keberadaan kepala sekolah dan beberapa guru didalam ruangan tersebut. Fokusnya hanya tertuju kepada sang istri yang menurutnya terlalu mengambil resiko besar karena bepergian tanpa pengawasan langsung darinya.
Diana memutar bola matanya malas. "Tadi malam, saya sudah izin. Apa Yang Mulia lupa?"
"Kapan?"
"Sebelum kita tidur," jawab Diana.
Ashlan menyipitkan matanya. Lelaki tampan itu berpikir keras lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal beberapa saat kemudian. Ya, Diana benar. Wanita itu telah meminta izin sejak semalam.
"Maaf, aku lupa."
Saat sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja Daisy mendekat ke arah Ashlan. Gadis kecil itu dengan hati-hati mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Ashlan. Namun, tangannya mengambang di udara akibat bentakan dari salah satu guru yang juga berada didalam ruangan tersebut.
"Daisy! Jangan bersikap kurang ajar! Jauhkan tanganmu!" hardik Mrs. Lawrence dengan mata mendelik.
Daisy yang tersentak langsung melangkah mundur. Namun, dengan cepat Diana meraih tubuh Daisy dan membawa gadis kecil itu duduk diatas pangkuannya.
"Jangan membentaknya seperti itu, Nyonya!" tegur Diana dengan raut tak suka.
Mrs. Lawrence langsung tertunduk dan memohon maaf. Kepala sekolah yang menyaksikan hal tersebut langsung memintanya untuk keluar ruangan agar suasana tidak bertambah keruh.
"Tidak perlu! Tetaplah disini, Nyonya Lawrence. Hanya saja, tolong bersikap lebih bijaklah dalam memberi teguran pada anak-anak. Terlebih lagi, kepada Daisy yang merupakan anak paling spesial bagiku di sekolah ini."
"Baik Yang Mulia," angguk Mrs.Lawrence penuh penyesalan.
Diana menghela napas. Rasa kesal berusaha ia tanggalkan dari hatinya. Meski marah pada Mrs. Lawrence tapi tak sepatutnya dia memendam kesal terlalu lama.
"Bolehkah saya menyentuh wajah Yang Mulia Kaisar?" pinta Daisy dengan wajah polosnya.
Diana menatap Ashlan meminta persetujuan. Dan, lelaki itu mengangguk sebagai tanda mempersilahkan.
"Kenapa Yang Mulia tidur terlalu lama?" tanya Daisy kala telapak tangannya menempel di pipi Ashlan. Dahi gadis kecil itu terlipat dalam.
"Tidur? Maksudnya?" tanya Ashlan tak mengerti.
"Iya, Yang Mulia tertidur terlalu lama didalam ruangan dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuh Anda. Alat apa itu?" tanya Daisy dengan bibir mengerucut.
"Alat?" Ashlan ikut bingung dengan pertanyaan Daisy.
"Apa Yang Mulia Kaisar tidak bangun-bangun?" sergah Diana yang juga penasaran dengan ucapan Daisy. Jujur saja, jantungnya berdetak tak karuan karena terlalu takut akan masa depan yang dilihat Daisy. Ia tak mau jika maksud dari Daisy adalah bahwa suatu saat nanti Ashlan akan meninggalkannya untuk selamanya.
Daisy menatap Ashlan lalu kembali menatap Diana. "Yang Mulia tetap bangun. Hanya saja, kenapa tidurnya terlalu lama?"
Diana bernapas lega mendengar ucapan Daisy. Setidaknya, kata Daisy Ashlan akan terbangun. Semoga saja, Daisy hanya tak sengaja melihat masa depan Ashlan yang sedang tertidur dan bangun kesiangan. Bukan sesuatu yang buruk seperti yang sempat muncul beberapa saat lalu didalam benak Diana.
"Daisy!" Panggilan itu membuyarkan lamunan Diana. Telapak tangan Daisy juga perlahan terlepas dari pipi Ashlan karena menoleh ke sumber suara.
"Nyonya Esme?"
Mrs. Esme, guru yang memiliki kemampuan nyaris sama dengan Daisy memberi hormat kepada Ashlan dan Diana sebelum mengutarakan niatnya datang ke ruangan itu.
"Sudah waktunya Daisy untuk kembali latihan. Saya kemari untuk menjemputnya agar tidak ketinggalan pelajaran dengan teman-teman yang lain," tutur Mrs. Esme dengan sopan.
Diana mengangguk. Ia menurunkan Daisy dari pangkuannya dan mencubit gemas pipi gadis kecil itu.
"Belajar yang rajin! Jangan lupa, baju baru yang aku berikan harus kau pakai," ucap Diana.
Sepulang dari sekolah sihir, kabar bahagia tentang kehamilan sang Ratu langsung diumumkan ke seantero negeri. Tak lupa, Diana juga turut mengirimkan surat kepada sang Ayah guna berbagi kabar mengenai berita bahagia ini. Pesta besar juga tak akan lama lagi lekas diadakan. Semuanya adalah tuntutan dari keluarga bangsawan yang menginginkan adanya perayaan untuk penyambutan kehadiran calon penerus kerajaan.
Meski usia kandungan Diana baru akan memasuki bulan kedua, namun hampir semua orang tak sabar untuk segera melihat bayinya dilahirkan. Sepertinya, tak ada yang tak senang akan kabar bahagia ini di kerajaan Barat.
"Apa Ratu benar-benar tidak merasakan apa-apa? Misalnya, mual-mual atau pusing seperti kebanyakan ibu hamil?" tanya Ashlan memastikan kondisi sang istri sekali lagi.
Diana menggeleng. "Saya baik-baik saja. Sangat baik, malah."
"Berarti, anak kita sungguh pengertian. Dia tak ingin membuat Ibunya sakit dan menderita," ujar Ashlan seraya mengecup perut Diana.
Alangkah bahagianya perasaan Diana saat ini. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena dicintai lelaki sesempurna Ashlan. Sungguh! Tak ada lagi yang ia inginkan didunia ini selain hidup bahagia bersama suami, dan anak-anaknya sampai tua kelak.
"Sayang! Apa kau bisa mendengar suara Ayah?" lirih Ashlan tepat dihadapan perut sang istri. "Ayah harap, kau akan tumbuh menjadi anak yang ceria dan penuh kebahagiaan di masa depan kelak. Jadilah seseorang yang kau inginkan. Bukan menjadi seseorang yang orang lain inginkan. Jaga Ibumu dengan baik ketika Ayah sedang tak ada. Jadilah penguat untuknya sampai kapanpun. Kau mengerti? Hm?"
"Yang Mulia...," lirih Diana serak.
"Ya?" Ashlan mendongak menatap sang istri dengan senyum di wajahnya.
"Aku bahagia."
"Ya," angguk Ashlan. "Harus!"
*
Pesta dimulai pukul 7 malam. Para tamu undangan mulai memenuhi aula perayaan pesta. Berbagai macam hidangan telah tersaji dengan cantik di meja jamuan. Berbagai jenis kue dengan bentuk unik sampai makanan berat yang baru pertama kali para undangan coba membuat suasana pesta semakin bertambah seru dan berwarna.
Pujian tak pelak Diana terima dari para tamu undangan yang tak hanya dari kalangan bangsawan. Para rakyat biasa pun turut diundang tanpa terkecuali. Bisa dibilang, khusus malam ini, gerbang istana terbuka untuk siapapun yang ingin turut serta merasakan euforia kebahagian akan hadirnya calon penerus tahta yang saat ini telah bersemayam di perut sang Ratu.
"Pastikan setiap tamu yang masuk harus di periksa dengan ketat. Jangan sampai, ada orang yang mencurigakan ataupun berbahaya yang berhasil masuk. Kalian mengerti?" himbau Alarick yang kini kembali tampil rapi dan tampan seperti sebelumnya.
"Baik!" angguk seluruh prajurit yang bertugas.
"Bagus! Sekarang, menuju ke pos masing-masing!" titah Alarick yang di sertai dengan tepuk tangan yang mengisyaratkan agar para pasukan lekas membubarkan diri.
"Maaf mengganggu!" Seorang wanita datang menghampiri Alarick dengan wajah yang terlihat begitu cantik malam ini. Siapa lagi kalau bukan Mulanie.
"Ada apa?" tanya Alarick dengan senyum lebar di wajahnya.
"Yang Mulia Ratu memintaku kemari untuk memberikan Anda makanan ini," ucap Mulanie sembari menyodorkan nampan berisi semangkuk sup ke arahnya.
"Benar, ini dari Yang Mulia Ratu?" tanya Alarick dengan alis berkerut.
"Memangnya, mau dari siapa lagi?" ujar Mulanie balik bertanya.
Alarick mendesah kecewa. Walau begitu, ia tetap menerima nampan yang disodorkan Mulanie. "Ku pikir, kau yang memberikannya secara pribadi."
Blush!
Pipi Mulanie mendadak memerah mendengar ucapan Alarick.
"Ma-mana mungkin," sergahnya gugup.
"Pipimu memerah, Lanie! Kau... semakin cantik," goda Alarick sebelum berlalu meninggalkan Mulanie yang masih mematung dengan perasaan entah.