Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Masih mengganggu



"Wah, tampan sekali! Siapa dia?" tanya Melanie setelah merebut kertas berisi sketsa wajah Ashlan dari tangan Diana yang sedang melamun di pintu belakang restoran.


"Bukan siapa-siapa," elak Diana sembari merebut kembali kertas tersebut lalu menyelipkannya di dalam lembar buku hariannya.


"Kakak menangis?" tanya Melanie penuh selidik. Matanya memicing memperhatikan wajah Diana yang terlihat sembap.


"Ti-tidak!" geleng Diana berbohong.


Melanie mengerucutkan bibirnya. Ia tahu betul bahwa Diana saat ini sedang berbohong. Namun, gadis muda itu juga tak ingin mendesak Diana untuk bercerita. Ia mengerti, tak semua orang nyaman berbagi kisah dengan seseorang yang baru dikenalnya.


"Oh iya, sebelum ke sini, aku mampir membeli gimbap di restoran Korea dekat minimarket di pertigaan jalan. Kakak mau makan bersamaku?"


"Memangnya, kau beli banyak?" ujar Diana balik bertanya.


Melanie mengangguk. Sepertinya, usaha untuk mengalihkan fokus Diana dari kesedihannya bisa dibilang sukses.


"Aku sengaja membeli 4 porsi," jawabnya bersemangat.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo siapkan makanannya dan kita makan bersama." Diana menarik tangan Melanie dan bergegas mengambil peralatan makan lalu mengambil duduk di sudut dapur agar tak menganggu pekerjaan koki lain yang masih menangani pesanan pelanggan.


Resto memang sudah menjelang tutup. Hampir semua peralatan sudah dibersihkan dan di rapikan ketika ada tiga orang berjas rapi masuk ke dalam restoran dan memesan menu termahal di restoran mereka. Kepala koki, Diana, August, Katy dan satu pelayan laki-laki memutuskan untuk tetap tinggal di restoran sampai para pelanggan itu selesai makan. Sementara, rekan kerja yang lain sudah diminta pulang lebih dulu meski awalnya mereka menolak.


"Pulanglah! Aku tidak sanggup jika harus membayar lembur kalian semua," kelakar Kepala koki sambil tertawa saat meminta sebagian pegawainya untuk pulang lebih dulu.


*


Selepas kepergian tiga pelanggan berjas rapi tadi, semua orang kini sudah bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Melanie masih bergelayut manja dilengan Diana. Tampangnya merengut kesal kala sang Kakek, yaitu Kepala koki meneriakinya untuk lekas masuk ke dalam mobil.


"Pulanglah! Kasihan, Kepala Koki sudah menunggu!" bujuk Diana.


"Kakak seharusnya ikut kami saja. Untuk apa berjalan kaki?"


"Aku sudah terbiasa, Lanie!" jawab Diana. "Lagipula, dengan jalan kaki bisa membuat timbunan karbo dan lemak yang ku makan bersamamu tadi jadi terbakar."


"Ck! Alasan saja!" cebik Melanie kesal karena tawarannya di tolak.


Diana menggeleng melihat tingkah Melanie yang benar-benar masih kekanakan. Berbanding jauh dengan Mulanie yang ia kenal di kerajaan Barat. Mungkin, karena usia Melanie memang masih sangat muda.


Sebenarnya, alasan utama Diana ingin berjalan kaki dan menolak diantar pulang adalah karena sudah bisa menebak bahwa pasti ada Gerald dan kedua orangtuanya yang akan menunggui dia sepulang kerja. Kemana lagi, mereka akan tinggal setelah ini? Sementara, Diana tahu bahwa sewa flat Gerald sudah berakhir tepat hari ini.


Dengan kondisi pengangguran tanpa uang dan tabungan, kemana Gerald akan berteduh selain ke rumahnya? Dan, benar saja. Begitu Diana sampai di rumah, dilihatnya Gerald sudah duduk di teras bersama kedua orangtuanya sambil membawa beberapa koper.


"Ayolah, Di! Menghadapi manusia paling berbahaya seperti Duke Hendrick saja kau bisa! Masa' dengan benalu seperti Gerald saja, kau harus kalah?" gumam Diana seraya menepuk-nepuk pipinya.


Menarik napas panjang, Diana melangkah memasuki halaman rumah dan lekas menghampiri tiga tamu tak diundang itu.


"Apa kau sudah mengganti kunci rumahmu, Di?" todong Gerald saat Diana berdiri tepat dihadapannya.


Seketika, seringai tipis muncul di wajah Diana. Benarkan, dugaannya? Tersangka utama yang membobol rumahnya di hari dia ditemukan tak sadarkan diri oleh Melanie dan Kepala koki adalah Gerald.


"Memangnya, kenapa?" tanya Diana yang sengaja ingin memancing Gerald.


"Aku ingin masuk tapi tak bisa. Padahal, orangtuaku sudah sangat kelelahan dan ingin beristirahat," jawab Gerald tanpa rasa malu.


"Memangnya, kau punya kunci rumahku? Sejak kapan?" Diana mengerutkan alisnya sembari menatap Gerald tajam. Pasalnya, selama menjalin kasih dengan pria itu, Diana tak pernah merasa memberikan kunci cadangan rumahnya kepada pria itu.


"Ehmm...," Gerald gelagapan.


"Jawab, Gerald!" bentak Diana.


"Jangan berani membentak calon suamimu seperti itu, Di! Dasar tidak sopan!" sergah Ella tak terima.


Diana menoleh menatap nyalang kepada mantan calon mertuanya itu. "Calon suami? Siapa yang mau melanjutkan rencana pernikahan dengan putramu ini, Bibi?" Diana menunjuk Gerald yang seketika mundur selangkah karena kaget.


"Loh, bukannya tadi pagi kalian sudah berbaikan dan sepakat untuk melanjutkan pernikahan? Kau bahkan meminta Gerald meninggalkan flatnya agar bisa tinggal serumah denganmu. Tapi, kenapa sekarang kau malah memaki anakku? Apa kau sengaja ingin merendahkan kami? Begitu?"


Diana tertawa mendengar ucapan wanita paruh baya di sampingnya. Gadis itu menggelengkan kepala seraya menatap tak percaya ke arah Gerald yang wajahnya sudah pias. Entah dongeng apa yang Gerald ceritakan kepada kedua orangtuanya. Yang jelas, dongeng tersebut jauh lebih di luar nalar dibanding kejadian yang telah membuat Diana jatuh cinta kepada sosok pria bersurai perak yang mungkin tak akan pernah dapat Diana temui lagi.


"Benarkah?" tanya Diana datar. "Seingatku, tadi pagi aku memintamu untuk tidak pernah muncul lagi dihadapanku. Tapi, kenapa yang diucapkan Ibumu malah berbeda?"


"Apa?" ketus Diana. "Jangan pernah berharap aku akan kembali lagi padamu setelah pengkhianatan yang telah kau lakukan, Gerald! Kau bahkan tega mengacak-acak rumahku dan malah membiarkan aku yang tidak sadarkan diri sekarat sendirian di rumah ini. Sebenarnya, apa yang kau cari, hah? Sertifikat? Perhiasan? Atau malah keduanya?"


Sepasang mata Gerald terbelalak mendengar penuturan Diana. Dia tak pernah menyangka bahwa aksinya hari itu bisa diketahui Diana. Sementara, kedua orangtuanya hanya bisa menyimak dengan raut wajah yang tak mengerti.


"Di... Kau tahu?" lirih Gerald.


"Ya, aku tahu!" angguk Diana. "Sekarang, jawab jujur! Darimana kau mendapat kunci duplikat rumahku? Dan, apa yang kau cari sehingga dengan tega mengacak-acak rumahku, hah?"


"Aku hanya... Aku...," Gerald bingung menjelaskan.


"Jawab saja pertanyaanku, Gerald! Jangan bertele-tele!"


Gerald bungkam. Matanya memerah menatap Diana yang kini telah benar-benar berubah. Tak ada lagi Diana yang lemah lembut, penyayang dan selalu mengerti kesusahannya. Kini, Diana telah menjadi sosok baru yang nyaris tak Gerald kenali lagi.


"Aku mendapatkannya dari Vanya agar jika malam hari aku bisa lebih leluasa menyelinap kemari untuk bertemu dengannya," jawab Gerald yang akhirnya jujur.


"Lalu, apa yang kau cari hari itu?" tanya Diana yang tak mau tahu lagi apa kelanjutan dari pertemuan diam-diam Gerald dan Vanya di rumahnya. Sebagai wanita dewasa, ia cukup tahu apa yang diperbuat kedua orang laknat itu di rumahnya.


"Sertifikat rumah dan barang-barang berharga peninggalan orangtuamu."


"Untuk apa?"


"Vanya yang meminta," lirih Gerald.


"Lalu, apa yang kalian lakukan padaku, sehingga aku tak sadarkan diri dan sempat mengalami koma di rumah sakit?"


"Kau koma? Benarkah? Kapan, Di?" tanya Gerald tak percaya. Terus terang, mengenai keadaan Diana semenjak hari itu, tak pernah ia cari tahu lagi.


"Kau benar-benar tak tahu?"


Gerald menggeleng. "Malam itu, setelah kami tak menemukan apa-apa, kami langsung pergi begitu saja. Aku bahkan tidak pernah memasuki kamarmu. Kata Vanya, dia yang akan menggeledah kamarmu sendirian."


Diana kembali menghela napas panjang. Kejam sekali Gerald dan Vanya kepadanya. Untung saja, buku tabungan juga ia masukkan ke dalam brangkas rahasia. Wajar, jika mereka tak memperoleh apapun.


"Jadi, kau melakukan semuanya hanya demi Vanya, hah? Ternyata, secinta itu kau padanya? Sampai-sampai pengorbananku yang demikian besar kau anggap sebatas angin lalu." Diana meraup oksigen sebanyak yang dia bisa.


"Maaf, Di! Aku benar-benar menyesal!"


"Bersyukurlah, karena setidaknya aku masih punya rasa kasihan sehingga kau tidak ku laporkan ke polisi!"


Mendengar kata polisi, Gerald langsung berlutut di kaki Diana lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Tolong jangan lakukan itu, Di! Aku tidak mau masuk penjara!"


"Kenapa harus takut? Bukankah kau rela melakukan apapun demi Vanya? Kenapa hanya masuk penjara saja, kau enggan?"


"Aku dan dia sudah berakhir, Di! Sekarang, aku tak lagi mau kembali pada wanita itu sekalipun dia memohon. Yang aku mau sekarang cuma kembali padamu! Kita perbaiki semuanya dan aku berjanji akan menebus semua salahku padamu!" ujar Gerald mengiba.


"Berilah Gerald satu kesempatan lagi, Sayang! Ibu yakin, anak Ibu pasti akan berubah!" Ella turut membantu putranya membujuk Diana.


"Maaf, Bu! Tapi sayangnya, aku tak mau lagi kembali pada anakmu."


"Kenapa, Di? Bukannya kau pernah bilang bahwa kau hanya memiliki kami didunia ini? Kau sudah menganggap Ibu dan Ayah sebagai orangtuamu sendiri. Jika perkataanmu memang benar, maka setidaknya terimalah Gerald kembali sebagai bukti rasa sayangmu pada kami. Pada orangtua pengganti yang selama ini menyayangimu dengan tulus."


Diana tersenyum miris mendengar ucapan Ella. Kesendirian Diana di dunia malah dijadikan senjata oleh wanita tua itu untuk membujuk Diana. Sayangnya, kini senjata itu tak akan mempan. Karena, Diana kini baru tahu bahwa masih banyak orang yang sungguh mencintainya dengan tulus tanpa pamrih. Contohnya, Melanie, Kepala koki dan juga teman-teman lain yang seprofesi dengannya.


"Maaf, Bibi! Sayangnya, aku benar-benar tidak bisa!"


"Di... Jangan begini! Jangan membuangku hanya karena satu kesalahan kecil! Tolong!" pinta Gerald yang mulai kalut.


"Gerald!" teriakan nyalang dari halaman rumah membuat semua orang menoleh. Di sana, telah berdiri seorang perempuan berparas cantik dengan pakaian kurang bahan dan kekecilan yang sedang menatap mereka penuh kemarahan.


"Va-Vanya?" lirih Gerald.


Diana memutar bola matanya malas. Bertambah lagi satu biang masalah, pikirnya.