
"Apa semuanya aman terkendali?" tanya Alarick kepada beberapa pemimpin regu penjaga yang ia haruskan melapor setiap sejam sekali.
"Aman, Tuan!"
Alarick mengangguk. "Bagus! Kalau begitu, lanjutkan tugas kalian! Aku akan menuju ke belakang untuk memastikan bahwa makanan yang dihidangkan layak di konsumsi dan aman-aman saja."
BRUK!!
Saat hendak menuju dapur, Alarick tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang sepertinya sedang berjalan terburu-buru. Wanita itu jatuh terduduk dan dengan sigap mengumpulkan kembali buah apel yang bergelinding di lantai ke dalam keranjang yang ia bawa.
"Kau tak apa?" tanya Alarick yang ikut mengumpulkan buah-buahan tersebut.
"Tak apa," jawab wanita itu sambil terus memungut buah apel yang bertebaran di lantai.
Alarick menatap sejenak wanita misterius itu. Ia sedikit curiga karena sedari tadi sang wanita seolah enggan menatap atau memperlihatkan wajahnya. Gesturnya juga seperti orang yang sedang ketakutan dan gelisah. Terbukti dari kedua tangannya yang gemetaran dan gerakannya mengumpulkan buah apel dengan terburu-buru.
"Siapa kau?" sentak Alarick sembari menarik tangan wanita itu.
Saat sang wanita mendongak, Alarick sedikit terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari pergelangan tangan wanita itu.
"Wajahmu?"
Sang wanita segera menutupi wajahnya kembali dengan rambut. Ia kembali menunduk dan meraih dua apel terakhir sebelum beranjak tergesa-gesa pergi dari sana. Alarick yang masih menaruh curiga segera mengikuti sang wanita. Tepat di belakang area dapur istana, ia melihat wanita itu sedang di hardik oleh seorang wanita gemuk karena terlambat datang.
"Lama sekali kau, buruk rupa. Sedang apa saja kau, hah?"
"Maaf, Nyonya!" ucap si wanita misterius dengan wajah tertunduk.
"Apa kau diam-diam menyelinap masuk ke dalam pesta, hah?" tuding si wanita paruh baya berbadan gemuk tersebut. "Kau ingin semua orang muntah karena melihat wajahmu yang menjijikkan itu?"
Si wanita misterius menggeleng cepat. "Ti-tidak. Tadi saya hanya tidak sengaja menabrak seseorang sehingga apel-apel saya terjatuh, Nyonya!"
"Alasan!" bentak si wanita gemuk murka. Tangannya terangkat tinggi hendak menampar wajah wanita muda yang tak sengaja ia temukan dalam kondisi mengenaskan karena sengaja di bakar beberapa orang dalam keadaan hidup-hidup didalam hutan.
Kala itu, ia sedang dalam perjalanan pulang dari membeli beberapa macam sayuran di negeri Nam. Lalu, tak lama ia mendengar suara wanita yang meraung kesakitan di sertai cahaya terang yang nampak bergerak cepat di sela-sela pepohonan yang rimbun. Begitu ia menghampiri ke sana, dilihatnya sesosok wanita yang terbakar dan berusaha memadamkan api yang memenuhi hampir seluruh tubuhnya. Ia pun berusaha ikut membantu bersama beberapa anak buahnya. Bersyukur, api berhasil padam dan wanita itu selamat meski mengalami cacat hampir di seluruh tubuhnya. Hanya bagian tangan sampai siku saja yang tidak melepuh karena api. Sisanya, ia benar-benar tak dapat lagi di kenali.
Setelah di sembuhkan oleh seorang tabib yang juga merupakan seorang penyihir, kondisi wanita muda itu perlahan membaik dan pulih dengan sangat cepat. Namun, meski begitu, wajah dan tubuh yang terlanjur terbakar api tak lagi bisa kembali seperti semula. Ia cacat dan buruk rupa seumur hidup hanya karena memberanikan diri untuk menuntut haknya kepada sang sepupu yang telah menguasai seluruh harta peninggalan Ayahnya. Ya, dia adalah Verona, yang kini harus hidup menjadi budak karena wajib mengganti uang yang Nyonya Meredith keluarkan demi menyelamatkan nyawanya.
"Dia berkata benar," sergah Ksatria Bennett.
"Tuan!" si wanita gemuk langsung membungkukkan badan saat melihat kedatangan Ksatria Bennett.
"Tadi aku tak sengaja menabraknya. Aku yang bersalah!"
"Be-benarkah?" si wanita gemuk menatap Verona.
"Iya," Alarick mengangguk. "Jangan pukul dia. Dia benar-benar tak bersalah."
"Baiklah, Chloe! Sekarang, simpan keranjang apelmu dan angkut kembali bahan makanan masuk ke dalam!"
"Baik, Nyonya!" angguk Verona yang sengaja mengganti namanya demi menghindari kejaran sang sepupu yang bisa saja kembali akan membunuhnya jika tahu bahwa dirinya masih hidup.
Alarick pun pamit setelah meluruskan kesalahpahaman itu. Meski di hatinya masih ada yang mengganjal, namun segala kecurigaan itu berusaha ia tepis.
*
Wajah-wajah berbinar para ibu yang biasanya bersedih jika putra-putri mereka menginginkan makanan kelas atas namun tak memiliki uang yang cukup untuk membeli, malam ini terlihat sangat sumaringah. Mereka sangat bahagia. Berbagai macam hidangan kue-kue mahal bisa anak-anak mereka coba tanpa harus merogoh kocek. Senyum lebar terus terpatri di wajah lelah mereka sambil terus melangkahkan doa agar penerus kerajaan dapat terlahir selamat ke muka bumi.
"Hidangannya, Yang Mulia!" ucap seorang pelayan yang meletakkan makanan dan minuman dihadapan Diana dan Ashlan.
"Terimakasih," kata Diana.
Sang pelayan balas tersenyum lalu pamit undur diri. Nampak, Ashlan mulai menikmati hidangan yang ada dihadapannya. Pria itu terlihat lahap sehingga Diana yang menyaksikan langsung tertawa kecil.
"Yang Mulia Ratu!" panggil seorang bocah lelaki dengan tampang polosnya.
Diana menoleh. Di lihatnya Rey, bocah lelaki yang dulu menjadi pemicu awal munculnya sihir yang dia miliki. Mulut anak kecil itu tampak belepotan krim. Namun, senyum di wajahnya malah membuat Diana semakin gemas hendak mencubit pipinya.
"Ya ampun, Rey! Kenapa kau disini?" Ibu Rey segera menyeret sang putra untuk pergi begitu menemukan Rey sedang berdiri di dekat singgasana Diana.
"Boleh saya bermain dengan Rey sebentar?" Ucapan Diana membuat Ibu Rey kembali berbalik lalu mengangguk dengan cepat.
"Tapi, putra saya kotor, Yang Mulia!" sahut si Ibu malu-malu.
Diana tersenyum. Ia berpamitan lebih dulu kepada Ashlan sebelum ia menghampiri Rey dan mengelap mulut bocah itu dengan sapu tangannya.
"Sudah bersih!" kata Diana lalu menyerahkan sapu tangan kotor itu kepada Mulanie. "Ayo, sekarang waktunya kita bermain bersama. Aku sangat rindu padamu!" ucap Diana seraya mencubit gemas pipi Rey.
Ashlan yang menyaksikan itu dari kursinya hanya tersenyum. Ya, dia senang melihat tingkah sang istri yang sangat suka bergaul dengan anak-anak.
"Jangan terlalu lama, Ratu!" peringat Ashlan.
"Baiklah," angguk Diana sebelum berlari kecil mengikuti langkah tak sabaran Rey yang menarik tangannya.
"Jangan lari, Yang Mulia!" ringis Mulanie dengan suara kecil. Namun, sekali lagi, yang dia lakukan percuma. Diana hanya akan melakukan hal yang dia sukai walau Mulanie menentang sampai seribu kali.
Sudah hampir 15 menit, Diana berpamitan pergi bersama Rey. Entah kenapa, Ashlan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Dadanya mendadak sesak. Semakin lama, ia semakin merasakan seolah ada sesuatu yang memasuki aliran darahnya dan mulai membuatnya kehilangan keseimbangan. Namun, sebisa mungkin ia berusaha bersikap biasa sampai akhirnya ia memberi kode kepada Alarick agar lekas mendekat.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajah Anda pucat begini?" tanya Alarick panik.
"Ra-racun...," ucap Ashlan yang seketika itu juga langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Ia mencoba berdiri, namun mendadak ia limbung hingga terjatuh dari kursi kebesarannya dan berguling di undakan tangga yang berada di samping singgasana. Alarick dan orang-orang yang menyaksikan tentu langsung panik. Beberapa pengawal lantas sigap mengamankan kerumunan orang-orang agar tak banyak yang mendekat. Sementara, Tuan Vernand yang baru saja tiba langsung memeriksa wadah makanan Ashlan dan juga bekas minumnya.
"Serbuk persik?" gumam Tuan Vernand saat memeriksa peralatan makan yang dipakai Ashlan tadi.
"Persik?" Alarick langsung syok. "Ba-bagaimana mungkin? Aku sudah mencoba makanan dan minumannya terlebih dulu sebelum dihidangkan," ucapnya.
"Bukan pada makanannya. Tapi pada sendoknya," sergah Tuan Vernand seraya mengangkat serbuk persik yang menempel di sendok dengan sihirnya.
Serbuk persik itu sudah di poles sedemikian rupa sehingga tak bisa terdeteksi dan terlihat dengan mata telanjang. Wajar, jika Ashlan tak bisa menyadarinya ketika makan tadi.
"Bedebah! Siapa yang berani memberikan makanan pantangan itu pada sang Kaisar?" teriak Alarick dengan tatapan nyalang menatap satu per satu para pelayan yang ada.
Saat Tuan Vernand kembali memeriksa peralatan makan yang lain,kembali sang penyihir agung menemukan sesuatu yang lain yang mampu membuatnya langsung panik dan melemparkan gelas yang baru saja ia pegang.
"Monkshood!"