
Suara orang yang sedang berbincang memenuhi gendang telinga Diana. Pelan namun pasti, Diana mulai membuka mata sambil mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang memasuki retinanya. Aroma obat-obatan khas rumah sakit langsung memenuhi Indra penciuman hingga membuat Diana merasa mual.
Tiba-tiba, seorang wanita muda berbalik dan segera mendekat begitu menyadari Diana telah membuka mata.
"Chef! Kak Diana bangun!" pekik gadis itu kegirangan.
Kepala koki yang kebetulan hari ini datang menjenguk ikut mendekat. Senyum di wajah tuanya terlihat mengembang. Tak lama berselang, dua orang perawat dan seorang dokter mendekat untuk memeriksa Diana lalu tersenyum lega setelahnya.
"Syukurlah! Sekarang Nona Diana sudah baik-baik saja. Tak ada yang perlu kalian cemaskan lagi."
"Terimakasih banyak, Dokter!" ucap kepala koki.
"Sama-sama," jawab dokter perempuan berumur 35 tahun itu.
Setelah dokter dan kedua perawat tadi berlalu, Kepala koki mulai mendekati Diana. Sementara, gadis asing tadi langsung memberi ruang kepada kepala koki untuk duduk di kursi yang hanya ada satu di ruangan tersebut.
"Lanie? Aku dimana?" tanya Diana kepada gadis asing itu. Ya, gadis itu mirip sekali dengan Mulanie. Hanya saja, pakaiannya terlihat aneh. Mirip seperti pakaian orang-orang di masa depan.
"Wah, Kakak tahu namaku?" pekik gadis itu riang.
Diana mengerutkan alis mendengar ucapan Mulanie. Ada yang sedikit aneh dengan pelayan pribadinya itu. Wajahnya terlihat lebih muda beberapa tahun padahal terakhir kali mereka bertemu, wajah mereka terlihat sepantaran.
"Tentu saja. Kau kan, Mulanie."
Gadis muda itu menggeleng. "Bukan Mulanie. Tapi, Me-la-nie! Melanie Trevor!" sergahnya mengoreksi.
"Melanie?" Dahi Diana berkerut.
"Iya," angguk gadis muda itu.
"Kau mengenal cucuku, Di?" tanya Kepala koki heran kepada Diana.
Kini, Diana menoleh menatap Kepala Koki. Ia semakin kebingungan dengan semua yang ia lihat dan alami saat ini. Tadi, ada dokter dan dua perawat yang persis seperti di masa depan. Lalu, sekarang muncul Kepala Koki yang mengatakan bahwa Mulanie adalah cucunya? Yang benar saja.
"Iya, dia cucuku! Usianya baru 16 tahun. Dia cucu dari anak perempuanku yang pertama."
"16 tahun?" Diana terkejut luar biasa. Pantas saja, wajah Mulanie nampak begitu muda. Ternyata, usianya baru 16 tahun. "Bu-bukannya Mulanie berumur sepantaran denganku?" tanya Diana terbata.
"Hahahahaha," Kepala Koki tertawa. "Rupanya, benturan di kepalamu membuatmu jadi melantur begini, Di!"
"Benturan?" Diana semakin tak mengerti.
"Ya,benturan," angguk kepala koki membenarkan. "Waktu kau izin tidak masuk kerja karena tak enak badan, keesokan harinya aku dan cucuku datang ingin menjengukmu ke rumah karena ponselmu tak bisa dihubungi. Lalu, saat kami hendak mengetuk pintu, ternyata pintumu tidak terkunci dan malah terbuka sedikit. Jadi, kami langsung masuk dan menemukan seluruh isi rumahmu berantakan. Begitu kami sampai di kamar, kami melihatmu sudah tergeletak di samping tempat tidur dengan kondisi tak sadarkan diri."
"Rumahku berantakan?"
"Ya," angguk Kepala koki. "Sepertinya ada pencuri yang masuk dan membuatmu celaka. Kau bahkan sudah tertidur selama tiga hari sejak kejadian itu."
"Tiga hari?" Lagi, Diana terbelalak. Reflek, ia memegang perutnya. "Bayiku?"
"Bayi? Kau hamil, Di?" tanya Kepala Koki yang terkejut bukan kepalang. "Siapa Ayahnya, hah? Apa dia bersedia bertanggung jawab?" imbuhnya penuh rasa khawatir.
Kepala koki tahu bahwa hidup Diana sudah malang sejak dulu. Gadis itu hanya hidup sendirian karena telah ditinggalkan oleh orangtuanya sejak beberapa tahun yang lalu. Baginya,Diana sudah seperti anak sendiri. Wajar, jika dia cemas jika sesuatu yang buruk kembali menimpa Diana. Seperti, dihamili orang tak bertanggungjawab, misalnya.
"Apa pria itu tidak mau bertanggung jawab?" desak kepala koki.
Tak ada jawaban. Justru, Diana malah menangis sejadi-jadinya. Ingatan mengenai kehilangan Ashlan masih begitu membekas. Dan, sekarang dia juga harus rela melepas buah cintanya bersama Ashlan karena kembali ke dunia nyata? Sungguh! Semuanya tidak adil. Kenapa ia harus di kirim ke masa lalu jika yang ia dapat hanya luka menganga? Sebegitu tak berharganya kah hidupnya sehingga bisa di permainkan sesuka hati seperti ini?
Tapi, tunggu! Apakah bayinya benar-benar ikut menghilang atau malah mungkin masih berada dalam perutnya?
"Chef, bisakah Anda memanggil dokter kandungan untuk memeriksakan kandunganku?" tanya Diana tiba-tiba.
"Kau benar-benar hamil?"
"Lain kali saja kita bahas, Chef! Sekarang, yang aku inginkan hanya agar dokter kandungan memeriksaku. Bisakah aku minta tolong?" ucap Diana penuh harap kepada kepala koki.
Sang kepala koki mendengkus lalu mengiyakan permintaan Diana. Selang setengah jam, akhirnya yang ditunggu akhirnya datang dan memeriksa Diana secara teliti.
"Hasilnya negatif! Nona sama sekali tidak mengandung!"
"A-Apa?" Pundak Diana terasa lemas. Ia bersandar di sandaran brankar dengan tatapan kosong. Cairan bening lolos membasahi pipi putihnya.
"Kenapa bayiku juga diambil?" lirihnya penuh rasa sakit.
"Di? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kepala koki prihatin.
Diana hanya menggeleng. Mustahil ia bercerita sesuatu yang diluar nalar manusia kepada siapapun. Yang ada, malah dia yang akan di sangka gila oleh orang-orang.
Hari demi hari Diana lalui dengan murung. Selama dia di rawat hingga akhirnya di perbolehkan pulang, Melanie selalu datang menjenguknya tanpa lelah. Pembawaannya yang ceria, perlahan membuat senyum Diana kembali meski hatinya tak pernah utuh lagi.
Terlepas dari mimpi atau bukan, yang jelas hatinya terlanjur telah bertaut di tempat asing yang menurut dokter adalah dunia bawah sadar yang di ciptakan Diana selama koma. Ia dianggap bermimpi panjang selama tertidur. Namun, Diana memiliki persepsi sendiri. Baginya, dunia yang menurut orang-orang adalah dunia mimpi justru merupakan dunianya yang sebenarnya.
*
"Di, pesanan untuk meja 5 sudah selesai?"
"Sudah, Chef!" jawab Diana yang telah kembali bekerja setelah istirahat total selama seminggu pasca keluar dari rumah sakit.
Tak ada barang berharga miliknya yang hilang dari rumah. Karena, sebenarnya berkas penting dan perhiasan peninggalan sang Ibu ia taruh didalam brangkas yang terletak di bawah lantai kamar tidur tepat di kolong ranjangnya.
Lagipula, dia sudah tahu siapa dalang dibalik pencurian amatiran itu. Siapa lagi kalau bukan Gerald dan Vanya. Hanya saja Diana memilih untuk tak memperpanjang kasus. Hatinya sudah terlalu banyak menampung masalah dan enggan menambahnya lagi.
Novel yang ia baca dan membuatnya terseret ke dunia paralel, secara misterius mendadak hanya berisi lembaran kertas kosong tanpa tulisan. Hanya di bagian akhir tertera sebuah tulisan dengan kutipan " Tak ada yang bisa lari dari takdir. Setiap pertukaran harus menemukan nilai yang setara."
Hal itu membuat Diana semakin frustasi. Dicarinya informasi mengenai Ashlan dari internet dan buku-buku sejarah. Namun, hasilnya nihil. Nenek misterius penjual buku itu pun tak lagi ia temui dimana-mana. Diana sudah berusaha mencari namun sosoknya seolah menghilang tanpa jejak.
Kini, Diana kembali melanjutkan hidup yang terasa semakin hampa. Sesekali, jika rindu menyerang, ia hanya akan menangis sembari memeluk sketsa wajah Ashlan yang ia buat sendiri. Hanya gambar itu yang menjadi penguatnya kini. Tak ada yang lain lagi. Bersyukur, ia memiliki bos dan rekan kerja yang luar biasa mendukung sehingga Diana tak sampai harus kehilangan kewarasan karena beratnya kehilangan Ashlan dan calon bayi mereka.
"Haruskah aku merelakan kalian?" tanya Diana suatu malam sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
Tak ada jawaban yang ia dapatkan. Hanya semilir angin yang membuat wajah yang basah karena air mata terasa dingin.
'Hidup terus berlanjut. Namun, menjalaninya tanpamu, seperti raga yang kehilangan nyawa.'