
Melalui banyak pertimbangan, akhirnya Diana memutuskan untuk menemui Sean Beratha Emerald. Pria paruh baya yang kebetulan memiliki keterikatan darah dengannya. Ada banyak hal yang ingin Diana selesaikan dengan pria paruh baya itu. Ada banyak luka yang harus ia carikan obatnya melalui percakapan yang hanya bisa dilakukan empat mata olehnya dan lelaki yang bergelar 'Ayah' itu.
Lubang yang ada di dalam hati, memang milik Diana Emerald. Namun, jiwa Diana Steel yang hidup didalamnya juga dapat merasakan hal itu. Seiring waktu, Diana mulai bisa menerima keadaannya. Ia sadar sepenuhnya bahwa meski ia bukan pemilik tubuh yang asli, antara dirinya dan Diana Emerald yang asli telah terikat pada satu takdir yang sama.
"Ratu sudah siap?" tanya pria berambut perak yang duduk di sebelahnya. Sebentar lagi, kereta kuda yang mereka tumpangi akan memasuki gerbang kerajaan Timur. Sebuah tempat yang dulu pernah menjadi 'rumah' untuk Diana selama puluhan tahun.
Sayangnya, rumah itu tak memberi satu pun kenangan indah. Bahkan, seluruhnya yang mampu ia ingat hanya tentang tangis, kesedihan, kesepian serta kerinduan.
"Apa saya bisa?" Diana menggenggam jemari Ashlan dengan erat. Ratu wajahnya tak mampu menyembunyikan kegelisahan jiwanya.
"Aku selalu ada dibelakang Ratu. Percayalah! Kita bisa melaluinya bersama."
Diana mencoba untuk tersenyum. Setidaknya, kali ini ia melewati kesulitan bersama seseorang disisinya. Tidak seperti dulu.
Tiba didalam istana, Diana dan Ashlan langsung di kepung oleh puluhan pasukan bersenjata lengkap. Suasana mendadak tegang seketika. Apalagi, kemunculan Duchess Levrina yang angkuh semakin membuat Diana menjadi kaget bukan kepalang.
"Kenapa Bibi disini?" tanya Diana heran.
Wanita paruh baya bergaya angkuh tersebut tersenyum sinis. Ia berjalan membelah pasukan. Melipat kedua tangan didepan dada sembari menyeringai sinis.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau kemari?"
"Aku ingin menemui Ayahku," jawab Diana.
Duchess Levrina langsung mengerutkan alisnya. Sesaat kemudian, terdengar tawa angkuh dari wanita paruh baya itu.
"Memangnya, kau pikir Ayahmu ingin menemuimu?" ejeknya sarkas.
Kedua tangan Diana terkepal erat. Muncul ide dibenaknya untuk melenyapkan Duchess Levrina saja. Mungkin dengan begitu, lalat penganggu dalam hidupnya bisa berkurang satu.
"Apa Anda tidak bisa memberi hormat kepadaku dan istriku?" bentak Ashlan yang juga mulai geram pada tindakan tak sopan Duchess Levrina.
"Hormat?" Duchess Levrina beralih menatap Ashlan. "Mohon maaf, Yang Mulia! Sayangnya, Anda sendiri tahu bahwa kehadiran Anda tidak pernah disukai bahkan diinginkan oleh Sang Kaisar. Selama kami memenuhi syarat perjanjian, bukankah menerima kehadiran Anda di tanah kami bukan termasuk kewajiban?"
"Anda masih istri dari kepala keluarga di kerajaanku, Duchess!" geram Ashlan.
"Sayangnya, kami sudah bercerai. Itu sebabnya aku disini demi memenuhi permintaan sang Kaisar untuk menemaninya agar tidak kesepian."
Diana dan Ashlan saling berpandangan heran. Duchess Levrina dan Duke Hendrick bercerai? Benarkah? Tapi kenapa?
Belum selesai keterkejutan mereka, Duchess Levrina kembali bersuara lantang.
"Sekarang, tolong bawa istri Anda dari tempat ini, Yang Mulia! Kehadirannya sama sekali tidak diterima di tempat ini," pinta Duchess Levrina dengan tatapan merendahkan.
Nafas Diana mulai memburu kasar. Perkataan Duchess Levrina sungguh sangat terkesan merendahkannya. Padahal, dibanding dirinya, justru Duchess Levrina-lah yang sama sekali tak memiliki hak ditempat itu.
"Aku berhak menemui Ayahku kapan pun dan dimana pun, Bibi!" ungkap Diana menahan kekesalan.
"Oh ya?" Duchess Levrina terkesan meremehkan. "Sayangnya, itu hanya opinimu semata, Sayangku! Faktanya adalah, Ayahmu sama sekali tidak pernah berpikiran sama dengan dirimu. Apalagi, sekarang sudah ada Verona yang menemaninya di sini. Jadi, kehadiranmu semakin tidak dibutuhkan lagi. Kau hanya anak sial yang dibuang."
"Panggil Ayahku kemari!" perintah Diana sembari menahan kegeraman.
"Panggil Ayahku!" Diana membentak dengan suara tak kalah melengking. Duchess Levrina bahkan tersentak kaget saat mendengar suara keponakannya yang berbeda dari yang ia kenal.
"Halangi mereka! Jangan biarkan mereka menginjakkan kaki barang selangkah pun didalam istana," titah Duchess Levrina pada pengawal.
"Mundur, Ratu!" bisik Ashlan kepada Diana. Reflek, wanita itu pun menuruti perintah suaminya. Ia melangkah mundur dan berlindung di balik bahu lebar sang suami kala pasukan pengawal mulai bersiap menyerang mereka.
DUARR!!
Hanya satu ledakan sihir yang Ashlan hentakkan ke tanah, para pengawal yang mendekati mereka terpental seluruhnya. Tak hanya itu, beberapa dari mereka yang berniat untuk maju kembali terlihat kesulitan melangkah karena adanya angin kencang yang tiba-tiba bertiup.
"Biarkan kami masuk atau hal yang ku lakukan akan semakin mengerikan," peringat Ashlan yang terlihat tak ingin menerima penawaran lain selain penawarannya sendiri.
Namun, sayangnya Duchess Levrina tetap keras kepala. Wanita paruh baya itu tetap memerintahkan para pengawal untuk menyerang Ashlan dan Diana tanpa peduli pada ancaman Ashlan.
"Kalian benar-benar bebal!" dengkus Ashlan sembari mengeluarkan sihir dari kedua telapak tangannya. Energi sihir tersebut merambat bagaikan sulur lalu menjerat leher para pengawal satu per satu. Hanya dalam waktu singkat, puluhan pengawal itu sudah melayang ke udara dengan kedua tangan yang berusaha melepaskan belenggu yang masing-masing mengikat leher mereka.
Set...
Sulur sihir Ashlan patah saat seseorang turut mengeluarkan energi sihir untuk melawannya. Secara bersamaan, para pengawal itu jatuh berdebam ke tanah. Ashlan jelas memicing. Ia ingin tahu siapa yang telah berhasil mematahkan sihirnya yang terbilang kuat.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria dengan suara bariton yang membuat tak hanya pengawal yang terkejut ketakutan. Bahkan, Duchess Levrina pun langsung kehilangan taringnya.
"Di?" lirih pria itu saat semakin mendekat. Sepasang matanya sempat membulat karena terkejut. Namun, beberapa detik berikutnya, ia mulai bisa mengatasi perasaannya sendiri.
"Putri? Anda kemari? Kenapa tidak memberi kabar?" tanya pria itu.
"Ksatria Martinez...," lirih Diana tanpa sadar. Meski ini kali pertama mereka bertemu, namun tampaknya ingatan Diana Emerald benar-benar sudah bercampur dengan ingatan Diana Steel.
"Selamat datang kembali, Putri," sambut Ksatria Martinez dengan ramah. Lalu, setelahnya ia memberi penghormatan kepada Ashlan. Namun, Ashlan tentu mampu menangkap perbedaan yang sangat kentara antara penyambutan untuk dirinya dan istrinya. Entah kenapa, insting kepemilikan Ashlan terhadap Diana mendadak merasakan bahaya.
Ya, pria yang dipanggil Ksatria Martinez tersebut seperti menyimpan rahasia yang jelas tak akan disukai oleh Ashlan.
"Siapa yang meminta kalian untuk menyerang Kaisar Ashlan dan juga Putri Diana, hah?" bentak Ksatria Martinez pada para pengawal.
Tak ada yang berani menjawab. Akan tetapi, mata mereka kompak menatap ke satu arah yaitu pada wanita paruh baya berparas angkuh yang seperti berusaha untuk melarikan diri namun sudah kepalang tanggung.
"Duchess?" Mata Ksatria Martinez menyipit. "Apa hak Duchess memerintah pasukanku sesuka hati?" bentak pria itu.
Duchess Levrina langsung menunduk takut. Siapa yang tak kenal dengan Ksatria Martinez? Pria berusia 34 tahun yang latar belakang keluarganya sudah dikenal oleh hampir seluruh kerajaan-kerajaan yang ada. Mereka dikenal sebagai prajurit yang tangguh. Keluarga yang tak pernah gagal mencetak penerus. Bahkan, kemenangan Ashlan atas kerajaan Timur saat perang di masa lalu juga karena Ksatria Martinez-lah alasannya. Andai Ksatria Martinez ada saat perang itu, belum tentu Ashlan akan mereguk kemenangan dan menikahi Diana.
"Aku ingin menemui sang Kaisar. Apa boleh?" Suara Diana menginterupsi kemarahan Ksatria Martinez terhadap Duchess Levrina.
Mendengar suara lembut itu, Ksatria Martinez sontak tersenyum. "Biar kuantar!" ucapnya.
Tanpa sadar, tangannya hendak meraih pergelangan tangan Diana. Hal yang dulu selalu ia lakukan jika ingin mengajak gadis malang itu untuk keluar jalan-jalan barang sebentar saja. Namun, sekarang sudah tak mungkin lagi. Karena diantara dirinya dan Diana telah berdiri tembok yang bersiap menjauhkan mereka.
"Aku bisa menuntun istriku sendiri. Berjalanlah terlebih dulu, Ksatria Martinez!" ucap Ashlan sembari menghalangi tangan Ksatria Martinez.
Meski kecewa, Ksatria Martinez tetap berusaha tersenyum. " Baiklah! Ikut aku!"