Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Hai, apa kabar?



"Di? Kau sudah keluar? Apa semua baik-baik saja?" Kepala koki langsung terburu-buru mendatangi Diana begitu salah satu chef kesayangannya sudah masuk bekerja lagi pagi ini.


"Maaf, kemarin aku ingin menemuimu tapi keadaan restoran sedang sangat ramai. Kita juga kekurangan orang karena Dany dan Gwen mengalami kecelakaan," imbuh pria tua itu.


"Tidak apa-apa, Chef! Saya baik-baik saja. Dan, saya sudah dibebaskan kemarin sore oleh seseorang dengan jaminan."


"Seseorang? Siapa, Di?"


Diana menggeleng. "Entahlah! Petugas kepolisian bilang bahwa identitas orang itu dirahasiakan sesuai permintaannya."


Kepala Chef menghela napas. Tangan keriputnya menepuk pundak Diana. "Mungkin dia memang orang yang sangat baik. Tak usah kau pikirkan. Kelak, jika sudah waktunya, dia akan datang untuk menemuimu."


Diana mengangguk. Setelah kepala koki beranjak pergi, ia segera menuju ruang ganti untuk berganti seragam sekaligus menyimpan tas didalam loker.


"Pesanan untuk meja enam. Satu spaghetti pesto, dua spaghetti carbonara, tiga scotch egg dan empat blacktea serta dua gelas jus jeruk."


"Siap, Chef!" teriak para koki serempak.


"Oke! Hari yang sibuk kembali dimulai! Semangat anak-anak!" teriak Kepala koki seraya menepuk-nepuk tangannya.


"Oke, Chef!" jawab para chef yang kembali kompak menjawab.


Dapur kembali sibuk. Suara alat masak yang saling beradu serta suara teriakan Kepala koki memberi instruksi kepada para bawahannya terdengar saling bersahutan.


Tampak, ada Melanie juga yang wajahnya sudah begitu letih karena bolak-balik mengambil pesanan dan mengantarkannya ke depan akibat kekurangan karyawan dibagian pelayanan. Ya, dua orang yang kecelakaan kemarin adalah sepasang kekasih yang bekerja sebagai pelayan dibagian luar. Dan, karena kondisi mereka cukup parah akibat mengalami tabrakan saat hendak berangkat kerja, mau tak mau, Melanie yang sedang libur sekolah dipaksa sang kakek untuk turun tangan membantu.


"Kakek, aku lelah!" rengek Melanie sambil terduduk di lantai dapur sembari menghentak-hentakkan kakinya.


"Tidak ada kata lelah sebelum jam kerja berakhir, Lanie!", tegas sang kepala koki pada cucunya.


"Tapi, lututku sudah bergetar, Kakek! Aku benar-benar tidak sanggup! Apa Kakek tak kasihan padaku?" Mengedip-ngedipkan mata dengan manja untuk menarik simpati kepala koki.


Kepala koki menghela napas. Ia menggeleng melihat kelakuan manja sang cucu yang memang tak pernah dipaksa bekerja keras sedari kecil. Sebagai cucu perempuan satu-satunya, Melanie diperlakukan bak putri.


"Kau tidak lihat, mereka yang ada disini? Mereka jauh lebih lelah dibanding kau, Lanie. Jangankan istirahat, duduk saja, mereka tidak sempat."


Melanie tertunduk dengan bibir mengerucut. "Tapi, aku kan pemula. Wajar jika kelelahan, Kek!"


"Ya sudah, kau boleh beristirahat selama 15 menit. Tapi, setelah itu, kembali stand by didepan! Kasihan Victor dan Bratt jika hanya berdua."


Wajah Melanie menjadi cerah seketika. "Siap bos!" ucapnya bersemangat. Gadis itu bergegas bangkit. Ia menuju loker untuk mengambil tas Selempangnya sebelum berjalan menuju pintu keluar untuk pergi membeli makanan di restoran Korea favoritnya.


Tepat didepan pintu masuk, Melanie tak sengaja menabrak seorang pria tinggi tegap berkulit putih bersih yang mengenakan kemeja hitam yang kancingnya sudah terbuka dua dibagian atas serta lengan yang digulung hingga siku. Rambutnya berwarna hitam pekat. Sepasang matanya berwarna abu-abu dengan celana bahan berwarna biru dongker yang ia kenakan.


Untuk sesaat, Melanie begitu takjub melihat penampakan pria dihadapannya. Sosok manusia itu terlalu sempurna untuk dibilang nyata.


"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu.


Melanie lekas menggeleng. Kesadarannya pulih kembali. "Ti-tidak apa-apa. Silahkan masuk!" ucapnya seraya memberi ruang kepada pria itu untuk masuk ke dalam restoran sang kakek.


"Sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya. Pernah lihat dimana, ya?" gumam Melanie yang merasa pernah melihat wajah tampan itu di suatu tempat.


Mengabaikan rasa penasarannya, Melanie gegas berlari menuju ke restoran Korea favoritnya yang terletak tak begitu jauh dari restoran sang kakek. Waktu istirahatnya hanya 15 menit. Tentu tak akan cukup jika Melanie hanya berjalan santai menuju ke sana. Beruntung, Melanie berteman dengan salah satu pelayan yang bekerja disana. Dia sudah mengirim pesan untuk menyiapkan makanan pesanannya dan tinggal mengambil saja begitu sampai.


Sekembalinya dari restoran Korea, Melanie kembali menatap diam-diam pria tampan yang sedang menyantap hidangan di salah satu meja. Tak berselang lama, tiba-tiba pandangan pria itu menatap ke arahnya dan gegas Melanie membuang muka ke arah lain.


"Apa kau juga bekerja disini?" tanya pria itu kepada Melanie.


"I-iya," angguk Melanie. "Restoran ini milik Kakekku dan kebetulan hari ini aku ikut membantu karena sedang kekurangan pelayan.


"Bisa kau panggilkan Kakekmu kemari?" tanya pria itu.


Melanie berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepala. Tanpa membuang-buang waktu, gadis itu gegas menuju ke arah dapur dan mencari-cari keberadaan sang Kakek yang sepertinya masih sibuk memberi arahan dan mengolah makanan utama.


"Ada apa, Lanie?" tanya kepala koki ketika sang cucu datang dan memanggilnya.


"Tamu di meja 12 meminta untuk bertemu Kakek," jawab Melanie.


"Baiklah! Sebentar lagi aku ke depan," angguk kepala koki yang bersiap membersihkan tangan serta merapikan sedikit pakaiannya.


Begitu sampai didepan, kepala koki sedikit takjub dengan penampilan sang tamu. Meski tak mengenakan pakaian yang terlalu formal, namun bau uang bisa kepala koki cium dengan jelas.


'Holang Kaya' gumam Kepala koki dalam hati dengan senyum sumringah.


"Selama siang, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah.


Pria tampan itu menaruh garpu dan sendoknya di sisi piring. Lalu beralih menatap kepala koki yang juga balas menatapnya.


"Saya merasa kesepian makan sendiri. Bisakah saya meminta salah satu karyawan Anda untuk menemani saya makan disini?"


"Hah?" Kepala koki masih nampak kebingungan.


"Saya tahu bahwa selain Koki utama, Anda juga adalah pemilik restoran ini," ucap pria itu.


"Ya, benar," angguk Kepala koki.


"Jadi, bisakah Anda mengabulkan permintaan saya?"


"Tapi, saya bingung harus meminta siapa menemani Anda, Tuan!" ucap Kepala koki canggung. "Suasana sedang ramai dan sebenarnya kami juga kekurangan karyawan," imbuhnya tak enak.


"Aku bisa membuat restoran ini kosong dalam sekejap dan akan membayar setara dengan pendapatan restoran ini selama seminggu jika Anda mengizinkan."


Mata Kepala koki jelas membulat. Memperoleh pendapatan setara dengan pendapatan seminggu hanya dalam sehari adalah sesuatu yang sangat menguntungkan bagi restoran kecil miliknya. Akan tetapi, tentu ia tak ingin kehilangan pelanggan jika ia mengusir mereka begitu saja.


"Tenang saja! Saya akan pastikan, para pelanggan restoran ini tidak akan pergi dari sini karena tersinggung. " Seolah mampu membaca apa yang ada dipikiran Kepala koki, pria tampan itu berucap.


Tanpa menunggu persetujuan dari Kepala koki, tiba-tiba beberapa orang berpakaian jas rapi masuk ke dalam restoran dan menghampiri setiap meja yang diisi pengunjung. Mereka tampak berbincang sebentar dengan para pengunjung sembari sesekali menunjuk ke arah pria tampan yang duduk didepan Kepala koki.


Setelah itu, para pengunjung tampak tertawa kecil dan mengangguk setuju untuk pergi. Tampak, para pria berjas tersebut memberikan segepok uang yang entah berjumlah berapa kepada setiap tamu yang hendak keluar.


"Beres, kan?" tanya pria itu dengan senyuman.


Kepala koki hanya tersenyum paksa.


"Jadi, bisa Anda mengabulkan permohonan saya, Tuan?"


"Baiklah! Akan saya panggilkan seluruh karyawan saya. Nanti, Anda tinggal pilih, siapa yang Anda kehendaki untuk menemani Anda makan bersama."


"Tidak perlu! Aku sudah memilih!" ucap pria itu. " Diana. Panggilkan dia untukku!"


Setelah beberapa saat, Melanie menjerit tertahan dan menutup mulutnya dengan telapak tangan setelah ingatan itu akhirnya kembali. Pria itu... Adalah pria yang membuat Diana menangis hanya dengan melihat gambarnya.


"Kakak... Kakak... Kak Diana!" pekik Melanie yang membuat dapur heboh bukan kepalang.


"Ada apa, Lanie?" tanya Diana.


"Diluar... Diluar...," ucapnya terengah-engah sembari menunjuk ke arah luar.


"Diluar kenapa?"


Belum sempat Melanie menjawab, Kepala koki sudah datang dan meminta Diana untuk keluar menemani tamu istimewa mereka makan siang. Awalnya, gadis itu dongkol bukan kepalang. Dari sekian banyaknya karyawan, kenapa harus dia yang dipilih? Bukankah itu terlalu aneh?


Dengan tampang merengut sebal, Diana mau tak mau menuruti permintaan Kepala koki. Apalagi, kepala koki sudah memberi janji akan memberikan bonus besar jika Diana setuju.


Deg!


Napas Diana mendadak memburu ketika melihat pria yang memintanya untuk ditemani makan siang sedang berdiri membelakanginya. Postur tubuh itu. Begitu mirip dengan seseorang yang telah menyiksa Diana dengan perpisahan. Selangkah demi selangkah Diana tapaki dengan ragu. Ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan pahit andai lelaki itu bukan orang yang ia tunggu. Apalagi, warna rambut mereka jelas beda.


"Pe-Permisi!" kata Diana menginterupsi. Tenggorokannya sudah sangat kering kala mengucap satu kata itu.


Sang pria berbalik. Satu senyuman lebar ia berikan pada Diana yang sontak mematung dalam diam.


"Hai... Apa kabar?" tanya pria itu lirih.