
Matahari belum muncul dari peraduan ketika tanah di sekitar benteng pertahanan kota Bern terasa bergetar. Para prajurit yang bersiap melakukan pergantian penjaga langsung saling bersitatap dengan tegang. Seorang penjaga menara berinisiatif naik kembali ke atas menara. Matanya menatap awas ke arah timur dengan konsentrasi tinggi. Selang beberapa detik, mata elang miliknya melebar. Lekas, ia memukul gong berukuran raksasa di dekatnya. Memberi isyarat bahwa mereka sebentar lagi akan di serang.
"Bersiaplah! Angkat senjata kalian! Apapun yang terjadi, kita tak boleh membiarkan kota dan rakyat kita jatuh kepada pemberontak!" teriak sang komandan pasukan dengan lantang.
"Siap!!" sahut para prajurit tanpa rasa takut.
Masing-masing bergerak cepat namun teratur untuk mengambil perlengkapan perang masing-masing. Tim pemanah telah bersiaga lebih dulu di atas benteng pertahanan. Mereka dalam posisi siap untuk menembakkan anak panah mereka ke arah pasukan berkuda yang derap langkahnya sudah mulai dapat mereka dengar dengan jelas.
Jumlahnya lumayan banyak. Namun, tak satu pun dari prajurit kerajaan yang merasa gentar. Sebaliknya, darah perjuangan mereka seperti mendidih. Tak peduli nyawa akan melayang asal anak-istri bisa hidup layak tanpa dijajah.
"Bersiaaapp!!" Ketua regu pemanah berteriak memberi aba-aba. "Tembak!"
Shut...
Panah yang ujungnya di bakar api melesat ke udara dan dengan cepat menjatuhkan beberapa ekor kuda yang terus berderap mendekati pintu gerbang kota. Beberapa kali, mereka juga harus mendapatkan serangan yang sama hingga beberapa dari mereka juga harus terluka.
"Kita di serang!" lapor Ksatria Bennett kepada Ashlan yang ternyata sudah terbangun dan tengah menatap ke arah jendela kamarnya.
Ashlan menoleh ke arah sang sepupu. Wajah tampan nan tegas miliknya terlihat menegang. Tatapan matanya tajam. Lalu, tanpa berucap apa-apa, dia langsung bergegas mengambil baju sirahnya dan mengenakannya dengan cepat.
"Mereka menyerang dari arah mana?" tanya Ashlan.
"Dari gerbang Timur dan Selatan," jawab Alarick yang mengikuti langkah cepat sang sepupu.
"Kemana para Ksatria bayangan?"
"Sudah lebih dulu bergabung untuk membantu prajurit di gerbang Selatan."
"Bagaimana dengan gerbang utama(timur)?"
"Situasi mulai bisa di kendalikan."
Ashlan menyeringai mendengar laporan sepupunya. Menurut pria bersurai perak tersebut, terlalu janggal jika pemberontak di gerbang utama begitu cepat di atasi.
"Gerbang Utara bagaimana?" tanya Ashlan.
Alarick terhenti sesaat. Alis pemuda itu mengernyit mendengar pertanyaan sang sepupu. Gerbang Utara? Bukankah gerbang itu berhadapan langsung dengan hutan terlarang? Hutan yang tak boleh di masuki siapapun karena di selimuti kekuatan sihir yang bisa membuat siapapun yang memasukinya dapat berhalusinasi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada dan berakhir menjadi santapan makhluk mistis yang hidup di dalamnya. Mustahil, pemberontak itu juga menyerang dari arah sana.
"Kenapa kau diam, Rick?" tanya Ashlan.
"Pasukan yang berjaga di gerbang Utara sudah ku minta membantu di gerbang Selatan, Yang Mulia!" cicit Alarick yang mulai sadar akan situasi.
"Artinya, di sana kosong tanpa penjagaan?"
Alarick mengangguk.
*
"Buka gerbangnya!" titah pria berjubah hitam kepada anak buahnya.
"Baik!" angguk 6 orang pria yang langsung melaksanakan titah pria tersebut.
Begitu gerbang terbuka, seorang pria berparas tampan masuk dengan seringai dan pandangan mata yang liar. Di belakangnya, terdapat ratusan orang yang memegang obor dan senjata.
Mereka melangkah masuk melewati gerbang dengan santainya. Lalu, pria tampan itu mendekati si pria berjubah hitam sambil tertawa penuh kemenangan.
"Selangkah lagi, dan aku akan menjadi penguasa di kerajaan ini!" ucapnya dengan nada tak sabaran.
Pria berjubah hitam itu tersenyum sinis. Ia pun mendekat, lalu berbisik sesuatu tepat di telinga pria berparas tampan itu.
"Jangan terlalu percaya diri kau! Ingat, meski kau berhasil menduduki tahta, tetapi tetap, akulah pemegang tahta tertinggi di kerajaan ini. Kau hanya boneka yang jika usang bisa ku buang. Jadi, lakukan peranmu dengan baik atau tubuh berharga ini akan aku berikan kepada orang yang lebih baik daripada kau!" ancam si pria berjubah hitam sembari meremas bahu kiri si pria tampan.
"Kau berani melakukannya?" tanya si pria tampan geram.
"Tentu saja. Yang ingin berada di posisimu sekarang itu, banyak! Bahkan, yang lebih setia dan tidak suka membangkang, bertebaran tepat di belakangmu."
Si pria tampan menoleh ke belakang. Ratusan pasukan di tambah beberapa bangsawan yang memutuskan memberontak berdiri dengan tatapan menghunus ke arahnya. Sepersekian detik, ia berdecih lalu meludah ke tanah. Posisinya memang terancam untuk saat ini. Tapi, tidak jika nanti dia telah benar-benar resmi menduduki tahta.
"Kita lihat! Sampai kapan kau akan terus angkuh dan memerintahku sesuka hatimu, Tuan Duke!" gumam pria tampan itu.
Berjalan dengan santainya tanpa di hadang oleh pasukan kerajaan satu pun, mereka kini sedang menuju ke istana yang sudah pasti akan kosong. Dengan begitu, menduduki istana akan jadi lebih mudah. Saat melewati perkampungan, beberapa dari mereka mengendus sesuatu yang aneh. Terkesan tak ada kehidupan sedikitpun di kawasan padat penduduk. Bahkan, rumah-rumah penduduk tampak gelap tanpa nyala lilin. Namun, meski begitu mereka tetap berpikiran optimis. Mungkin saja, mereka telah di ungsikan karena perang yang tiba-tiba terjadi.
Ya, itu pasti.
"Ada apa?" tanya salah seorang bangsawan kepada orang yang berteriak.
"Li-lihat?"
Semua mata mengikuti arah telunjuk pria itu. Dan... Sontak mata mereka membulat secara bersamaan kala menyadari bahwa nyaris setengah dari mereka sudah bergelimpangan di atas tanah dengan kondisi tak bernyawa.
"Sial! Cepat pasang formasi! Kita di serang oleh pasukan penyihir!" ucap pria berjubah hitam tersebut.
"Apa ada yang membocorkan rencana kita? Atau malah kau yang berkhianat?" geram si pria tampan dengan gigi bergemelatuk.
"Jangan asal menuduh!" sangkal pria berjubah hitam.
"Lalu siapa lagi, hah? Hanya kau orang dalam dan orang terdekat dari sang Kaisar yang mungkin saja sengaja menjebak kami!"
"Diam, LUCAS! Aku tak terima jika kau menuduhku seperti ini. Lebih baik, bantu aku untuk mendeteksi dimana keberadaan para penyihir siallan itu!"
"Cih!" Pria tampan yang bernama Lucas kembali berdecih sinis.
BRAK!!
Tanah tiba-tiba terbelah dan beberapa anggota dari mereka jatuh ke dalam lubang tanpa sempat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri. Sementara, pria berjubah hitam itu segera menangkis serangan sihir yang menyerupai kilat yang hampir menyambar tubuhnya dan Lucas.
"Sial!" umpatnya kesal.
"Kepung mereka!" Suara itu membuat semua orang terkejut bukan main. Namun, belum sempat mereka merespon apapun, mereka yang tersisa kurang dari 70 orang, langsung tak berkutik saat mereka di kepung oleh pasukan yang lebih banyak.
"Bagaimana mungkin mereka semua bisa kembali ke sini?" decak pria berjubah hitam dengan kesal.
Pasalnya, dia dengan sengaja telah merencanakan untuk membuat pengalihan dengan menyerang gerbang utama dan Selatan lebih dulu. Lalu, setelah pasukan sibuk menghalau di dua gerbang itu, mereka akan masuk dengan mudah melalui gerbang Utara yang notabenenya merupakan gerbang yang nyaris tak pernah dibuka selama puluhan tahun.
Namun, sayangnya rencana mereka seperti terendus dengan baik. Seolah-olah, Ashlan telah tahu semua alur rencana mereka dengan baik. Namun, satu yang tak Ashlan tahu dan masih bisa menjadi senjata mereka adalah kehadiran seorang pria yang telah lama menghilang dan diyakini oleh sebagian orang telah meninggal.
Leon. Saudara laki-laki Ashlan yang menghilang di hari penyerangan keluarga kerajaan.
"Bunuh mereka semua!" perintah Ashlan tegas.
"Kau tega membunuhku dua kali, Ash?" teriak seorang pria yang langsung maju memperlihatkan wajahnya di hadapan Ashlan.
Mata Ashlan sejenak memicing. Lalu, tak lama ia merasakan panas di matanya. Semua persendian di tubuhnya terasa lemas. Wajah itu. Wajah yang meski telah lama tak ia lihat namun masih membekas jelas di ingatannya.
"Le-Leon?" lirih Ashlan tak percaya.
"Ya, ini aku! Orang yang seharusnya menjadi pemilik tahta dan gelar yang saat ini kau duduki. Sekarang, aku kembali untuk mengambil kembali hakku, Ash!"
"Yang Mulia...," Fionn terlihat gusar dengan kondisi Ashlan yang seolah mendadak kehilangan tenaga.
"Kau ingin memberinya baik-baik atau ku rebut dengan paksa, Ash?"
Ashlan terdiam. Kepalanya masih sibuk mencerna semua hal yang dia lihat hari ini. Benarkah bahwa pemimpin pemberontak yang selama ini ia cari adalah kakaknya sendiri?
"Maaf, Leon! Tahta ini sekarang milikku!" ucap Ashlan tegas sambil mengepalkan tinjunya dengan erat. Menyerahkan tahta tak semudah itu. Banyak hal yang harus Leon pelajari terlebih dulu seandainya benar ingin mengambil alih kursi kedudukan. Sayangnya, hal tersebut tentu membutuhkan waktu yang agak lama.
Belum lagi, Ashlan tak yakin bahwa Leon yang telah lama menghilang bisa memimpin dengan baik. Dia tahu, bahwa pasti saudaranya saat ini sedang berada di bawah pengaruh orang jahat.
"Jadi, kau benar-benar akan melawanku, Ash? Kakak kandungmu sendiri?"
"Ya. Jika itu perlu!"
Pria yang mengaku sebagai Leon yang sebenarnya adalah Lucas tersenyum sinis. " Dengar Ash! Leon dan Ashlan memang memiliki arti yang sama yaitu singa. Tapi, dalam satu hutan rimba, hanya boleh ada satu singa yang berkuasa. Dan, itu aku! Bukan kau! Benar kan, Paman?" tanyanya pada pria berjubah hitam yang berdiri di belakangnya.
"Benar, Yang Mulia!" angguk pria berjubah hitam itu seraya membuka jubahnya.
"Paman Damian?" Ashlan nyaris benar-benar tak bisa percaya dengan semua kenyataan yang ada.
Tiba-tiba, bayangan masa lalu tentang pria berjubah hitam yang membunuh kedua orangtuanya berkelabat begitu saja. Dan, dari segala kepingan memori yang mendadak mulai tersusun dengan baik dalam kepalanya, wajah pembunuh Ibunya pun mulai terlihat samar dan perlahan jelas.
Damian.
Orang yang membunuh Ibunya pada malam itu adalah Damian Bennet. Paman Ashlan sekaligus adik kandung Ibunya sendiri.