
Diana menahan napas untuk sepersekian detik. Gadis itu berdiri kaku di ambang pintu. Ingin berbalik, namun ia juga kepalang basah telah memergoki dua orang berbeda jenis itu dalam keadaan berantakan. Ralat, hanya Verona yang berantakan dan Ashlan tampak tetap rapi. Ingin tetap melangkah masuk, namun rasanya begitu canggung. Lagipula, sesuatu mendadak menyengat hati Diana kala melihat lelaki yang telah bergelar suaminya malah kepergok berduaan dengan wanita lain di ruangan tertutup seperti ini.
"Ini bukan cemburu karena cinta." Begitu akal Diana mensugesti diri sendiri agar tak membiarkan perasaan asing tersebut makin menguasai dirinya.
Berdehem mengurai kekakuan, lalu memantapkan diri untuk melangkah masuk, Diana berusaha mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Ditutupnya kembali pintu ruangan itu agar tak ada orang lain yang melihat dan ikut campur dalam urusan mereka bertiga. Diana benar-benar ingin mengetahui sejauh apa hubungan yang telah terjadi antara Ashlan dan Verona. Setidaknya, ia harus tahu sampai dimana sepupu laknatnya itu ingin menghancurkan dirinya.
"Siapa yang berniat menjelaskan situasinya?" tanya Diana datar seraya menatap Ashlan dan Verona secara bergantian.
Kali ini, ia tak ingin bersikap bar-bar seperti saat ia memergoki Vanya dan Gerald berselingkuh. Ia harus lebih bisa mengendalikan emosi. Ia harus ingat bahwa dua orang yang sedang ia hakimi sekarang bukanlah orang biasa yang seenak jidat bisa ditindak dengan kekerasan.
Ashlan bergeming. Lelaki itu dengan santainya menuang kembali cairan alkohol ke dalam gelas yang tadi sudah kosong. Ia menggoyang-goyangkan sesaat cairan berwarna coklat muda tersebut sebelum menghabiskannya dalam sekali tenggak.
"Apa kau tak bisa lihat?" sergah Verona. Gadis itu bangkit dan mengambil kesempatan untuk memanas-manasi Diana. Lagipula, diamnya Ashlan seolah memberinya ruang untuk membenarkan seluruh sangkaan negatif yang sudah pasti menguasai kepala Diana.
"Kau bisa menilai sendiri, kan? Aku yakin, kau tak sebodoh penampilanmu, Di!" imbuhnya dengan senyum mengejek.
Diana tersenyum sinis menanggapi ucapan sepupunya. Dari sini, gadis itu bisa menilai bahwa ada sesuatu yang aneh diantara mereka. Normalnya, pasangan selingkuh akan berusaha menjelaskan dan menyangkal segala tuduhan meski bukti sudah berserak didepan mata. Namun, yang terjadi diantara Ashlan dan Verona justru sebaliknya. Ashlan malah tampak santai dan tak sedikitpun rasa takut ataupun merasa bersalah yang tertangkap dari netra keabuan itu.
"Ya. Aku memang bisa menilai," ucap Diana seraya bersedekap. Matanya memindai penampilan sang sepupu yang begitu tak tahu malu. Bahkan, setelah Diana telah berdiri tepat dihadapannya, perempuan itu masih tak ada keinginan untuk membenahi pakaiannya. Ia seolah sengaja mempertontonkan bagian depan tubuhnya agar meyakinkan Diana bahwa dia dan suami sepupunya itu telah melakukan perbuatan yang tidak pantas.
"Apa kau bangga mempertontonkan asetmu yang kecil itu di hadapanku dan suamiku?" tanya Diana dengan senyum merendahkan.
Mata Verona sontak membulat mendengar ucapan sarkas sepupunya. Reflek, gadis itu menutupi kedua bukit kembarnya dengan kedua tangan.
"Kenapa baru ditutupi? Apa kau sudah berhasil menemukan rasa malumu yang tadi kau tinggal sebelum masuk ke ruangan ini?"
Verona menganga lebar. Wajah gadis itu memerah menahan malu. Baru saja hendak ingin melangkah pergi, namun Diana malah mencengkram lengannya dengan sangat kuat.
"Lepaskan!" ucap Verona sambil menahan sakit.
Tekanan makin Diana tambahkan pada cengkramannya. Ia ingin memberi peringatan berharga kepada sepupu tak tahu dirinya itu.
"Apa kau tahu bahwa aku bisa saja menghukummu karena telah berani menggoda suamiku?" tanya Diana dengan sorot mata tajam.
Verona masih berusaha melepaskan diri. Namun, makin dia melawan, makin terasa remuk pula lengannya yang di cengkram erat oleh Diana.
"Memangnya, kau siapa? Yang Mulia Kaisar saja tidak keberatan, kenapa malah kau yang harus tak terima?" jawab Verona.
"Kau benar-benar tidak punya harga diri, ya? Apa kau segitu haus belaian sehingga menginginkan suamiku untuk membelaimu?"
"Lepas, Di. Sakiiitt..," ringis Verona.
"Lepaskan dia!" Interupsi Ashlan yang mulai jengah dengan pertengkaran antara Diana dan Verona.
Cengkraman Diana mengendur. Sesuai perintah sang Kaisar, ia akhirnya membebaskan Verona yang langsung mengusap-usap lengannya yang terasa sangat sakit.
"Anda membela dia?" tanya Diana sedikit kecewa.
Ashlan menghela nafas panjang. Ditatapnya Verona sesaat sebelum beralih menatap kembali kepada istrinya.
"Ratu cemburu?" tanyanya penuh harap.
Diana mengigit bibir bawahnya. Terus terang, Diana masih tak tahu jawaban akan pertanyaan itu. Dan, Ashlan yang menyadari kebingungan di wajah Diana langsung menganggukkan kepala. Sudah cukup tahu akan jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Jika Ratu tidak cemburu, seharusnya masalah ini tidak usah di perbesar. Biarkan ini menjadi urusanku bersama keluarga Hendrick." Tatapan Ashlan kemudian beralih pada Verona. "Keluarlah!" titahnya.
Verona tersenyum penuh kemenangan ke arah Diana sebelum berlalu pergi dari ruangan itu. Diana yang melihat hal tersebut langsung mendelik sebal. Andai ia dan Verona hidup di zaman modern, sudah Diana pastikan bahwa gadis itu akan masuk rumah sakit setelah merasakan tendangan legendaris Muay-Thai miliknya.
"Untuk apa ku jelaskan?" tanya Ashlan yang sama sekali tidak menjawab rasa penasaran Diana.
"Yang Mulia...,"
"Ratu yang lebih tahu siapa yang aku cintai. Apa perlu ku jelaskan dua kali?" sergah Ashlan dengan suara sedikit meninggi. "Lagipula, bukannya Ratu tidak mencintaiku? Jadi, untuk apa aku harus menjelaskan panjang lebar?"
Mendengar lengkingan suara Ashlan, Diana meneguk ludahnya kasar. Pegangan tangannya kiat erat mencengkram pinggiran sofa tempatnya bertumpu.
"Dia yang datang menggodaku. Dan, aku tak melakukan apapun padanya," ucap Ashlan pada akhirnya. Ia mengalah. Rupanya, bersuara keras dan kasar bahkan tak mampu lagi ia lakukan. Ya, Ashlan sudah berada pada tahap itu dalam mencintai Diana. Nadanya melemah. Bahkan, nyaris tak terdengar. Sesaat, lelaki itu sadar telah membuat wanita yang ia cintai tersentak kaget dan ia benar-benar menyesalinya.
"Saya percaya," balas Diana.
Ashlan tersenyum kecut. Entah harus senang atau justru malah kecewa. Terus terang, kata 'percaya' terdengar sedikit ambigu di telinganya. Makna 'percaya' baginya bisa jadi karena dua hal. Satu, karena Diana memang tidak merasakan apa-apa terhadapnya sehingga ia tak merasa patut cemburu sama sekali. Atau kedua, Diana sungguh-sungguh percaya dalam artian yang sebenar-benarnya.
"Apa gunanya percaya jika tak ada rasa, Ratu?" kata Ashlan dengan senyuman yang menyiratkan kekecewaan. Lelaki itu berdiri. Berjalan menghampiri Diana lalu duduk di samping wanita itu.
"Apa yang kurang dariku? Katakan!" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Lidah Diana mendadak kelu. Apa yang harus ia jawab? Kenapa sejak tadi, Ashlan selalu menghujani dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit? Yang bisa ia lakukan hanya membuang pandangan. Namun, sepertinya Ashlan juga tak membolehkan dia untuk melakukan itu. Terbukti, dari tangan pria itu yang menahan wajahnya agar tetap memandangi mata sayunya.
"Ratu, apa Ratu benar-benar tidak pernah memiliki rasa untukku?"
"Yang Mulia...,"
Ashlan memejamkan mata. Dihirupnya oksigen sebanyak yang ia bisa lalu berkata, "Ayo kita punya anak!"
"Hah?"
Diana terperangah. Permintaan macam apa ini?
"Kita sudah menikah dan kita sah-sah saja melakukan 'itu' lalu memiliki anak. Aku yakin, Ratu pasti akan mencintaiku jika suatu hari nanti kita sudah memiliki seorang anak diantara kita "
"Hah?"
"Ratu mau melakukan 'itu' denganku, kan?"
"Hah?"
"Bagaimana kalau sekarang?"
"Hah?"
Dan... setelah mengucapkan pertanyaan itu, Ashlan jatuh ke pelukan Diana dengan mata tertutup. Diana bahkan nyaris tak bisa menahan bobot tubuh lelaki itu karena posisi badannya yang tidak siap untuk menjadi penopang.
"Y-Yang Mulia?" panggil Diana sambil menepuk-nepuk pipi lelaki itu.
Tak ada jawaban. Hanya dengkuran halus yang terdengar dari mulut lelaki itu.
"Kau mabuk?" tanya Diana sambil menahan tawa.
Astaga! Setelah permintaan random yang tak masuk akal dan nyaris membunuh Diana karena serangan jantung tadi, ternyata Ashlan sedang dalam pengaruh minuman keras. Hah... Andai Ashlan tak tidur, entah apa yang akan terjadi diantara mereka. Hanya memikirkannya saja, Diana sudah merona malu.
"Aih! Kenapa malah aku yang mendadak mesum begini?" gumam Diana seraya tersenyum malu memandang wajah tampan Ashlan yang telah ia lepaskan topengnya.