
"Kalungmu cantik sekali, Di! Warnanya juga unik, persis seperti warna matamu. Benar-benar indah!" puji Katy saat Diana telah kembali bekerja.
"Apa itu pemberian Kakak ipar?" timpal Melanie yang tak kalah penasaran. Sekarang, gadis muda itu memutuskan bekerja paruh waktu di restoran sang Kakek dengan jam kerja suka-suka. Terserah, kapan dia mood masuk kerja, kapan dia mau selesai kerja, dan juga kapan dia mau meminta upah kerja.
Dua perempuan beda usia tersebut mengapit Diana yang sedang berdiri di depan pantry untuk memeriksa beberapa bumbu dan peralatan yang akan ia gunakan memasak sebelum restoran buka lima belas menit lagi.
"Ya, ini hadiah darinya," jawab Diana.
"Mukamu terlihat lesu, Di! Ada apa?" tanya Katy penasaran. Tak biasanya, Diana datang dengan wajah lesu seperti ini.
"Tidak ada apa-apa, Kak!" Diana menarik napas panjang. "Hanya sedikit sedih karena ponsel Ashlan tak bisa dihubungi sejak dia berangkat ke Dubai kemarin," imbuhnya.
Katy tersenyum kecil sembari merangkul bahu Diana. "Itu hal wajar, Di! Namanya dia bekerja, tentu saja harus profesional. Apalagi, bukannya kau bilang bahwa urusan yang ingin dia selesaikan terbilang rumit? Tentu dia harus fokus dan memilih mengabaikan beberapa hal demi kelancaran usahanya. Lagipula, kau sudah memutuskan memilih Ashlan sebagai tambatan hatimu. Maka, kau juga harus bersedia menerima konsekuensi jika tak selamanya kau menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Dia milik banyak orang. Dia membawahi banyak pegawai yang tentunya mencari nafkah demi menghidupi diri dan keluarga mereka. Jadi, berusahalah untuk lebih mengerti posisi Ashlan. Dia bukan Gerald yang punya banyak waktu luang. Dia Ashlan Joan Arlen. Pewaris tunggal keluarga Arlen. Kau mengerti?"
"Wah! Sejak kapan Kak Katy bisa berbicara bijak begini?" tanya Melanie sambil memukul pundak Katy sedikit keras.
Wanita single parent itu mendelik galak ke arah Melanie yang langsung menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf 'V' sambil tersenyum manis. Pertanda, bahwa gadis muda itu tak ingin memiliki masalah yang panjang dengannya.
Sementara, Diana hanya diam meresapi kata-kata Katy. Semua yang dikatakan Katy memang benar. Ia tak sepatutnya egois dengan menuntut Ashlan harus selalu bisa dan sigap setiap saat ketika dia butuh atau rindu. Ia harus mencoba mengerti bahwa dunia Ashlan adalah dunia yang dipenuhi dengan intrik dan persaingan. Lelaki itu harus fokus jika tak ingin perusahaannya gulung tikar dan membuat para pekerjanya kehilangan mata pencaharian.
"Waktunya bersiap-siap! Ayo berkumpul anak-anak!" teriak kepala koki seraya bertepuk tangan memanggil para pegawainya untuk berkumpul dan doa bersama sebelum memulai hari yang sibuk kembali seperti biasanya.
*
Sudah dua belas hari semenjak kepergian Ashlan ke Dubai. Sampai saat ini, Ponsel Ashlan masih susah dihubungi. Pun, dengan ponsel milik Erick. Diana yang sudah beberapa kali mengirim pesan kepada sang kekasih hanya bisa mendesah pasrah kala pesannya malam ini kembali hanya centang satu berwarna abu-abu.
"Baru dua belas hari kau pergi, tapi rupanya rinduku sudah seperti ini," gumam Diana seraya mengeratkan pelukan pada sebuah boneka beruang berukuran cukup besar. Dihirupnya aroma parfum yang sengaja ia semprotkan di tubuh boneka tersebut dalam-dalam. Wangi parfum yang sama dengan milik Ashlan. Membayangkan bahwa yang dipeluknya adalah sosok lelaki yang beberapa hari belakangan sukses membuat hatinya gamang karena merindu.
Keesokan harinya, Diana berangkat seperti biasa menuju ke restoran. Buku novelnya yang hilang sudah berusaha ia ikhlaskan. Walau bagaimanapun, Diana sadar sepenuhnya bahwa buku tersebut memiliki kekuatan magis. Hal wajar jika buku itu mendadak hilang seolah tak pernah ada.
Saat tengah asyik membuat saus untuk pasta pesanan pelanggan, tiba-tiba seorang pria bersetelan jas lengkap datang dan menerobos masuk ke dalam dapur begitu saja. Terlihat, August berusaha menghalangi. Namun, si pria berbicara serius yang tak bisa didengar Diana karena bisingnya suasana dapur yang sibuk mampu menyamarkan suara percakapan mereka. Kemudian, tak lama August terlihat menyingkir dan memberi jalan kepada si pria asing yang malah berjalan cepat ke arah Diana.
"Nona Steel?" tanya pria itu sopan. Wajahnya nampak tegang.
"Ya, ada apa?" tanya Diana sembari mematikan kompor.
"Saya utusan dari Tuan besar Arlen. Nama saya, Billy" Pria itu memperkenalkan diri sambil membungkukkan badan memberi hormat.
"Ada apa kemari?" Firasat Diana mulai tak enak.
"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada Nona," kata Billy dengan raut yang masih kelihatan tegang.
"Katakan, ada apa sebenarnya?"
"Tuan muda ditikam orang tak dikenal saat berada di lokasi proyek. Kondisinya lumayan parah dan mengalami kritis. Sekarang, Tuan muda sudah dipulangkan kembali ke Birmingham atas perintah Tuan besar. Dan, saya diutus datang khusus untuk membawa Anda ke Birmingham saat ini juga," kata Billy panjang lebar.
"Apa kondisinya sangat parah?" tanya Diana dengan suara bergetar. Kepalanya mendadak terasa pusing. Air matanya lolos tanpa diminta.
"Saya tidak tahu, Nona. Tuan besar merahasiakan kondisi Tuan muda terhadap siapapun termasuk saya," ucap Billy.
"Kau tak apa, Di? Ada apa, hah?" tanya Katy khawatir.
Diana menoleh menatap Katy yang saat ini masih memegangi bahunya. Ia hanya mampu menangis sembari menggumamkan satu kata, "Ashlan!"
Entah kenapa, sekelabat bayangan Ashlan ketika sekarat karena perbuatan Verona kembali mengisi penuh otaknya. Ketakutan yang dulu pernah ia rasa kembali merasuk perlahan hingga membuat Diana nyaris kehilangan akal sehat. Ia tak habis pikir, kenapa takdir buruk yang sama harus terulang lagi? Sebenarnya, siapa yang telah mengendalikan takdir buruk atas dirinya?
"Nona baik-baik saja?" Billy tampak ingin menolong namun segan untuk melangkah lebih dekat lagi.
"Aku baik-baik saja! Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Diana yang mencoba menguatkan diri.
"Tentu saja, Nona! Lebih cepat lebih baik, kata Tuan besar!"
Diana mengangguk. Dihapusnya air mata yang membasahi pipi. Lalu, ia melepaskan tangan Katy sembari menatap wanita itu dengan sedikit memberi senyuman.
"Kak, aku ingin pergi ke Birmingham dulu. Bisa Kakak memberitahu Kepala koki mengenai kepergian ku?"
"Tentu,"angguk Katy. "Pergilah! Jangan khawatirkan apapun disini. Biar aku yang akan mengurusnya," imbuh Katy dengan tatapan prihatin. Meski tak tahu duduk perkaranya, namun Katy cukup paham bahwa Diana sedang mengalami masa sulit.
"Terimakasih banyak, Kak!"
"Pergilah! Hati-hati!"
Sepanjang perjalanan, Diana berulangkali menghela napas besar. Kedua tangannya saling meremas gelisah. Beberapa kali, ia menyentuh permata kalungnya. Berharap, benda tersebut bisa mengembalikan kekuatan yang pernah ia miliki di dunia paralel yang telah mempertemukan dia dengan Ashlan.
"Kita sudah sampai, Nona!" Perkataan Billy membuat Diana tersentak dari lamunan. Ia tak sadar bahwa mobil sudah berhenti sejak dua menit yang lalu di sebuah bangunan megah yang lebih layak dinamai Mansion ketimbang rumah.
"Lewat sini!" Billy menuntun Diana menaiki lift untuk sampai di lantai tiga. Tepat ketika lift kembali terbuka, beberapa pelayan sudah menyambut Diana dan mengambil alih tugas Billy untuk menuntun Diana menuju sebuah kamar.
"Tuan besar dan Tuan muda ada didalam," ucap salah seorang pelayan sembari membukakan pintu.
Diana menarik napas panjang. Pemandangan pertama yang dia temui adalah Peter yang sedang berbincang serius dengan seorang pria yang mengenakan jubah putih khas kedokteran. Saat melihat Diana datang, pria berkacamata yang menggunakan jas kedokteran tersebut langsung pamit sambil menjabat tangan Peter.
"Masuklah, Sayang!" titah Peter kepada Diana yang malah mematung di depan pintu.
"Ashlan bagaimana?"
Peter menghela napas panjang. Mata pria tua itu agak memerah. Hal tersebut semakin membuat Diana menjadi deg-degan.
"Ayo, ku antar kau melihat Ashlan!" ucap Peter sembari menuntun bahu Diana untuk masuk lebih dalam ke ruangan tersebut.
Napas Diana tercekat kala melihat pemandangan di depannya. Ada banyak buket bunga yang tergeletak di dekat ranjang dimana seorang pria yang begitu Diana rindukan tengah terbaring di sana dengan mata tertutup. Wajahnya pucat. Beberapa peralatan medis, termasuk selang infus tergeletak rapi tak terpasang di tubuh Ashlan. Hal itu semakin menimbulkan spekulasi negatif dalam pikiran Diana.
"Ka-kek... A-Apa Ashlan sudah...," Diana tak mampu meneruskan kalimatnya. Suaranya hilang begitu saja di akhir kalimat.
Peter tersenyum. "Dia sudah tak kesakitan lagi, Sayang!" ucap Peter yang semakin membuat Diana tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri.