
40 hari masa berkabung di tetapkan oleh kerajaan atas gugurnya Fionn dan puluhan prajurit lain yang telah berjuang mempertahankan kedudukan kerajaan mereka. Selama itu, rakyat dilarang melakukan pesta dalam bentuk apapun dan di haruskan untuk berkumpul di kuil utama pada malam hari untuk melakukan doa bersama.
Selama 40 hari yang dilalui dengan berat oleh siapapun yang mengalami kehilangan, cahaya lilin tampak selalu berpendar di malam hari di sekitar monumen yang sengaja Ashlan bangun guna mengenang para prajurit yang gugur dalam perang itu. Tak hanya lilin, bunga-bunga juga nampak memenuhi sekitaran monumen berbentuk prajurit gagah yang sedang mengangkat pedang tersebut. Semuanya merupakan perbuatan para rakyat yang merasa sangat berterimakasih untuk pengorbanan mereka.
Pagi hari sebelum pemakaman Fionn dan prajurit lain di laksanakan, rakyat yang sempat diungsikan akhirnya mulai kembali ke ibu kota. Para ibu, istri dan anak yang anggota keluarganya gugur dalam perang menangis histeris. Mereka memeluk jasad anak, suami dan ayah mereka sangat erat. Tangis tumpah membanjiri ibukota dalam sekejap mata. Karena bukan hanya para anggota keluarga saja yang menangis. Rakyat yang tak memiliki hubungan darah sekalipun, turut merasakan duka mendalam yang sama.
"Rupanya Anda disini," tegur Diana setelah beberapa saat hanya diam mematung menyaksikan sang suami yang berdiri termenung sembari menatap hamparan dedaunan kering yang dimainkan angin.
Diana tahu bahwa duka Ashlan masih belum sembuh setelah ditinggal mati oleh Fionn yang sudah ia anggap seperti kakak kandung sendiri. Namun, mau bagaimana lagi? Yang namanya kematian, tetap tak dapat di hindarkan.
"Ratu," lirih Ashlan seraya mengecup punggung tangan wanita yang kini tengah memeluknya dari belakang.
"Kenapa berdiri sendirian di sini, hm? Apa Yang Mulia tidak tahu jika saya sejak tadi sudah mencari Anda?" gerutu Diana merajuk.
Ashlan tersenyum kecil lalu memutar tubuhnya agar dapat berhadapan dengan sang istri. Kedua tangannya meremas lembut bahu kecil itu. Lalu, satu kecupan singkat ia daratkan di bibir Diana dengan sayang.
"Yang Mulia!" pekik Diana lirih. Tanpa sadar, ia menepuk lengan Ashlan karena panik. "Lanie ada disini. Bagaimana jika dia melihat?"
"Bagus. Itu berarti dia mendapat tontonan yang menarik," jawab Ashlan santai.
Diana mencebik sebal mendengar jawaban Ashlan. Santai sekali pria itu menanggapi sementara Diana sendiri sudah merasa ketar-ketir menahan rona merah yang sepertinya akan timbul sebentar lagi di kedua pipinya.
"Kenapa Ratu mencariku?" tanya Ashlan mengalihkan pembicaraan.
"Tidak apa-apa. Hanya rindu," jawab Diana sambil tersenyum manis.
"Rindu?" Ashlan mengangkat sebelah alisnya. "Tumben sekali?"
"Memangnya tidak boleh?" Bibir Diana mengerucut dengan tangan yang sibuk memainkan kancing baju milik suaminya.
Mendengar nada manja istrinya, Ashlan tergelak senang. Sejenak, segala permasalahan yang memenuhi isi kepalanya seolah menepi. Ia tak tahu akan jadi seperti apa dirinya jika Diana tak pernah hadir dalam hidupnya yang menyedihkan. Mungkin, saat ini Ashlan sudah gila atau malah terbunuh oleh rasa frustasinya sendiri.
"Apa Ratu ingin kita punya anak dalam waktu dekat?"
Diana terdiam. Mata hijaunya menatap lekat wajah tampan sang suami yang terlihat begitu lelah. Namun, meski selelah apapun pria itu, tak pernah Diana mendengar Ashlan mengeluh dihadapannya. Padahal, selama beberapa hari belakangan, suaminya begitu sibuk mengurusi banyak hal. Memantau pembangunan kembali beberapa bangunan yang rusak dampak perang yang pernah terjadi, mengunjungi rumah keluarga prajurit yang gugur hampir setiap hari walau hanya sekadar bertanya kabar dan kondisi mereka, serta tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang Kaisar demi berjalannya roda pemerintahan dan perekonomian kerajaan Barat yang semakin menanjak naik setelah kehadiran Diana.
"Yang Mulia sudah ingin punya anak?" Diana balik bertanya. Di lingkarkannya kedua tangan mungilnya ke leher sang suami. Kakinya sedikit berjinjit demi menyetarakan tinggi badan mereka.
"Jika Ratu siap, maka aku juga siap," jawab Ashlan penuh harap.
Ya, semenjak peristiwa itu, Alarick meminta izin untuk meninggalkan kerajaan dalam kurun waktu yang tak dapat ia tentukan. Lelaki itu menenangkan diri sekaligus berusaha menerima semua kenyataan bahwa dirinya adalah putra dari pembunuh yang telah membuat sepupunya sendiri menderita selama puluhan tahun.
"Tentu saja aku mau." Diana menjawab setelah berpikir beberapa saat.
Dulu, dia merasa ragu untuk mengandung anak dari pria itu. Tapi kini, setelah ia mulai menerima sepenuhnya kehidupan yang saat ini telah ia jalani, Diana tak merasa takut dan gelisah lagi. Ia sudah berkomitmen untuk fokus pada hubungannya dan Ashlan saja. Membangun keluarga kecil bersama pria berparas menawan yang mungkin hanya ada satu-satunya di belahan bumi manapun.
"Benarkah? Ratu bersedia memiliki anak?"
Diana mengangguk dan itu membuat Ashlan begitu sangat bahagia.
"Terimakasih, Ratu!" ucapnya sembari memeluk erat Diana.
"Akh! Apa-apaan ini?" pekik Diana saat merasakan tubuhnya tak lagi menginjak tanah. "Turunkan aku, Yang Mulia! Nanti kita jatuh, bagaimana?" imbuhnya sambil memegang bahu Ashlan kuat karena pria itu menggendongnya sambil berputar-putar.
Mulanie yang menyaksikan dari kejauhan langsung berdecak sebal dan kembali membalikkan badan. Tadi, saat mendengar Diana memekik, ia mengira bahwa sang Ratu sedang ada masalah. Namun, ternyata, semua berbeda jauh dengan pemandangan yang sempat di tangkap Indra penglihatan Mulanie.
"Kenapa aku harus menyaksikan pemandangan seperti itu? Bikin iri saja," gerutu Mulanie yang pada akhirnya tetap tersenyum karena turut bahagia menyaksikan kedekatan Raja dan Ratunya.
*
"Sampai kapan kau akan terus menumpang di sini, Rick?" tegur Penyihir agung kepada Alarick yang sedang duduk terpekur memainkan ranting kering yang ada di tangan kirinya.
"Entahlah! Saya masih belum tahu," jawab Alarick seraya mendesah panjang.
"Pulanglah!" Penyihir agung menepuk bahu Alarick. "Sebentar lagi, 40 hari akan berlalu. Tidakkah kau ingin memberi penghormatan dan doa untuk Fionn? Yang kutahu, kalian cukup dekat meski terkadang bertengkar karena masalah kecil."
Mendengar nasihat Penyihir agung, Alarick tersenyum tipis. Tak banyak yang tahu memang mengenai hubungannya dengan Fionn. Mereka bisa saja kompak jika dihadapan orang banyak. Akan tetapi, jika hanya berdua, mereka acap kali saling berdebat dan adu pamer mengenai siapa yang paling di sayang oleh Kaisar.
"Jujur, saya iri dengan Fionn."
"Iri?"
"Ya," angguk Alarick. "Dulu, saya selalu berpikir bahwa saya akan selalu unggul darinya karena saya adalah sepupu sekaligus Ksatria pribadi milik Kaisar. Tapi ternyata, setelah kejadian ini saya baru sadar bahwa Fionn jauh lebih unggul dibanding saya. Dia mendapatkan kepercayaan penuh sang Kaisar sampai akhir. Sementara saya?" Alarick menoleh menatap penyihir agung. "Berkali-kali, Yang Mulia meragukan kesetiaan saya."
"Ashlan meragukanmu karena memiliki alasan kuat, Rick! Posisinya sebagai seorang Kaisar yang memiliki tanggungjawab besar memaksanya untuk berhati-hati dalam mengambil tindakan. Aku harap, kau bisa mengerti itu dan lekas berdamai dengan rasa kecewamu sendiri." Penyihir agung kembali menepuk bahu Alarick. "Lekaslah pulang! Sepupumu butuh kau disisinya. Ingat! Tinggal hanya kau yang bisa dia andalkan. Jadi, jangan biarkan dia jatuh karena kehilangan dua penopangnya sekaligus."