Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Jarak yang ku tempuh demi dirimu



Diana terpaku menatap lekat wajah tampan didepannya. Wajah yang selama ratusan hari telah membuat lubang besar dihatinya. Wajah yang telah menorehkan rindu sedemikian kuat hingga Diana tak mampu berkutik dan terus berkubang dalam tangis dan air mata.


"Hei, kenapa diam?"


Suara berat nan maskulin itu kembali mengalun. Menyentak Diana dari lamunan panjang yang membawanya jauh berkelana ke alam yang orang-orang sebut sebagai mimpi. Diana sengaja menggigit bibir bawahnya. Mencoba mencari tahu apakah ini hanya khayalan atau memang benar kenyataan.


"Ratu? Ratu benar-benar sudah melupakan aku?" tanya Ashlan yang sedikit takut andai Diana di kehidupan ini tak mengenalinya sama sekali.


Kepala koki, Melanie, dan teman-teman Diana yang lain terlihat sedang mengintip di dekat meja kasir. Semuanya begitu penasaran akan sosok pria tampan yang tiba-tiba datang dan meminta untuk ditemani makan oleh salah satu rekan mereka. Lebih penasaran lagi karena Melanie bercerita pernah melihat sketsa wajah pria itu sedang ditangisi Diana diam-diam.


Pelan namun pasti, Diana melangkah ragu mendekat pada sosok pria bernetra abu dihadapannya. Air mata mulai mengalir deras meski bibir enggan mengeluarkan suara. Tangan gadis itu terulur gemetar membingkai wajah tampan di hadapannya.


Hangat.


"Ratu?" panggil Ashlan lirih. Kedua telapak tangan mungil yang menangkup wajahnya ia raih. Di genggamnya dengan erat kedua tangan itu sebelum sang empunya menarik paksa dan mundur selangkah.


Tak berselang lama, Diana kembali maju lalu memukul dada Ashlan berulangkali dengan kedua kepalan tangannya yang kecil.


"Kenapa baru datang sekarang? Kenapa Yang Mulia begitu jahat? Apa Yang Mulia tidak tahu bagaimana tersiksanya aku memikirkan hidup tanpa Yang Mulia disisiku?" Diana mulai terisak kencang. Tangannya tanpa henti terus meninju dada bidang Ashlan. Hingga pada akhirnya, pukulan itu semakin melemah dan berakhir dengan Diana yang membenamkan wajahnya di dada pria itu.


"Syukurlah... Syukurlah, Yang Mulia baik-baik saja... A-aku sangat ta-kut! Aku benar-benar takut membayangkan tak bisa melihat wajah Yang Mulia lagi," ujar Diana terbata dalam tangisnya.


Kedua tangannya mencengkram erat lengan kemeja Ashlan. Tangisnya semakin menggema memenuhi ruangan restoran yang tak lagi dihuni pengunjung lain. Kemeja hitam Ashlan bahkan sudah basah karena air mata yang Diana tumpahkan.


"Aku disini. Aku janji tidak akan kemana-mana. Jangan sedih lagi," hibur Ashlan yang kini melingkarkan kedua lengannya di bahu dan kepala Diana.


Akhirnya, pertemuan yang sama-sama mereka nantikan terjadi juga. Perjuangan yang dilalui Ashlan selama enam bulan terakhir benar-benar menemukan hasil yang sepadan. Seluruh keringat dan air mata yang pernah tumpah dan nyaris terkuras habis akhirnya menemukan sumber kekuatannya kembali. Hati yang sempat berserak karena dihancurkan badai perpisahan perlahan kembali utuh satu demi satu.


"Ratu terlihat lebih kurus," kata Ashlan setelah pelukan mereka terurai. "Apa terlalu sulit menjalani hidup tanpa suami Ratu yang tampan ini?" kelakarnya yang mencoba menghibur sang Ratu.


Dan, ternyata berhasil. Diana benar-benar tertawa mendengar leluconnya yang terkesan narsis namun sepenuhnya benar.


"Bisakah Yang Mulia jangan memanggilku Ratu? Rasanya agak... aneh!" ucap Diana.


"Ratu sendiri masih memanggilku Yang Mulia," sergah Ashlan.


Diana kembali tertawa. "Jadi, harus ku panggil apa?"


"Apa saja. Asal jangan panggilan aneh itu lagi," jawab Ashlan.


Diana tampak berpikir." Ku panggil nama saja, boleh?"


"Terserah!" jawab Ashlan yang sebenarnya ingin dipanggil lebih mesra dari sekadar nama saja. Namun, ia bisa apa. Ini adalah pertemuan pertama mereka di dunia nyata dan mustahil ia langsung meminta sesuatu yang aneh seperti itu. Bagaimana kalau Diana menganggapnya terlalu menuntut? Bisa-bisa, ia bernasib sama seperti Gerald. Didepak begitu saja dan tak diberi lagi kesempatan kedua.


"Bisa kita bicara di tempat lain? Disini agak...," Ashlan tak meneruskan ucapannya. Sebaliknya ia menatap ke arah kasir, dimana kepala koki, Melanie dan teman-teman Diana sedang mengintip.


Diana mengikuti arah pandang Ashlan. Dan, disaat bersamaan, para penguntit itu kompak bersembunyi di kolong meja kasir walau akhirnya ada beberapa yang tertangkap basah karena kolong meja kasir yang tak mampu menyembunyikan tubuh mereka semua. Yang ketahuan hanya menampilkan cengir kuda dan langsung buru-buru kembali masuk ke dalam dapur. Sementara, yang terlanjur bersembunyi memilih berdiam diri disana daripada keluar dan menanggung malu karena ketahuan mengintip.


"Baiklah, aku kebelakang dulu untuk berganti baju dan mengambil tas didalam loker," pamit Diana. Diabaikannya tingkah absurd bin kepo Kepala koki dan yang lainnya. Anggap saja, mereka hanya segerombolan tikus-tikus yang kebetulan lewat hendak mencuri makanan sisa.


Namun,belum sempat ia melangkah, tangannya sudah dicekal oleh Ashlan. "Jangan lama apalagi sengaja menghilang," ucap pria itu.


"Tidak akan."


*


Setelah berpamitan pada Kepala koki, Diana kembali menghampiri Ashlan. Lelaki itu sudah menunggu di depan restoran. Tepatnya, di samping sebuah mobil Maybach keluaran terbaru yang membuat Diana cukup menelan ludah mengingat harganya yang sangat fantastis.


"Kenapa melamun? Masuklah!" ujar Ashlan yang entah sejak kapan sudah membuka pintu mobil untuk Diana.


Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia mengangguk kaku dan masuk ke dalam mobil sedikit ragu. Rasanya, Diana takut bergerak barang sedikit saja didalam mobil mewah tersebut. Takut, andai dirinya tak sengaja membuat lecet dan dirinya harus dipaksa membayar ganti rugi.


"Selamat siang, Nona!" sapa seseorang yang nyaris membuat jantung Diana copot. Namun, setelah melihat wajah pria itu, Diana sontak memekik senang.


"Rick, kau juga ada disini?" tanyanya antusias dengan mata berbinar.


Sedikit tak bisa di cerna logika, memang. Namun, bukankah tidak semua hal didunia ini harus di cerna dengan logika?


"Erick? Namamu Erick?" tanya Diana memastikan.


"Ya, saya Erick. Erickson Fisher. Kenapa nama belakangku Fisher? Karena kata Ibuku, nenek moyangku adalah seorang pelaut," jawab Erick setengah bercanda.


Diana menatap Ashlan tak mengerti. Di kepalanya tersimpan seribu tanya mengenai keberadaan Alarick maupun Mulanie yang ternyata juga membersamai mereka dikehidupan ini walau dengan nama berbeda. Namun, Ashlan hanya mengendikkan bahunya sembari tersenyum.


"Bagaimana kabarmu selama ini?" tanya Ashlan setelah mereka tiba di pinggir sungai Thames. Tempat yang indah dengan suguhan pemandangan sungai dengan latar bangunan modern yang membuatnya menjadi estetik dan memanjakan mata.


"Baik. Walaupun aku harus tersiksa dengan kematianmu yang tragis," ucap Diana miris. "Ku pikir, hari itu adalah akhir dari segalanya. Tapi, ternyata tidak. Justru yang menjadi akhir adalah ketika aku terbangun dan tidak ada satu pun hal yang tersisa sebagai bagian dari kenangan tentang dirimu." Diana menggigit bibir bawahnya sembari memainkan kuku jari jempolnya. "Aku hanya takut, jika waktu yang berlalu semakin banyak aku akan lupa bagaimana bentuk wajah dari yang orang yang kucintai."


"Maaf, jika Ratu harus melalui semuanya sendiri," ucap Ashlan lirih. "Jujur, aku pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga tidak tahu sejak kapan aku terjebak didalam dunia aneh itu. Ingatanku seperti menghilang. Berganti dengan ingatan baru yang kesemuanya hanya tentang dunia itu. Tapi anehnya, setelah aku kembali, ingatanku tentang dunia ini dan juga tentang dunia aneh itu sama-sama bisa ku ingat kembali dalam kepalaku."


Diana menoleh heran mendengar penjelasan Ashlan. Peristiwa yang dia alami dan yang lelaki itu alami jelas berbeda. Jika Ashlan kehilangan ingatan ketika terjebak didunia itu, maka Diana justru mengingat semuanya.


"Apa Yang Mulia tahu, kenapa bisa terjebak di dunia itu?" tanya Diana penasaran.


Namun, bukannya menjawab langsung, Ashlan justru memberinya satu sentilan agak keras tepat di dahinya. Seketika, Diana mengadu kesakitan.


"Sudah ku bilang, jangan panggil Yang Mulia lagi. Aneh!" ucap Ashlan.


"Tapi, kau juga memanggilku Ratu," tentang Diana tak terima.


"Memanggilmu Ratu, kurasa tidak aneh. Sementara, memanggilku Yang Mulia jelas sangat aneh."


Diana mencebik sementara Ashlan hanya tertawa.


"Apa yang terjadi setelah kau terbangun?" tanya Diana penasaran.


Ashlan tersenyum getir jika mengingat kenangan buruk itu. "Aku tersadar tepat beberapa menit sebelum alat bantu medis yang selama ini menopang hidupku nyaris dilepas oleh para tim Dokter karena mengira aku tak ada harapan hidup lagi. Lalu, setelah aku mulai bisa berbicara dan merasa sedikit lebih baik, aku menemukan fakta lain bahwa aku sudah tertidur selama tiga bulan pasca mengalami kecelakaan tunggal dan mendapati bahwa nyaris seluruh anggota tubuhku mengalami kelumpuhan akibat tertidur terlalu lama."


Diana menatap prihatin. Diusapnya lengan Ashlan sembari mendengar kelanjutan cerita lelaki itu.


"Butuh waktu enam bulan untuk benar-benar pulih dan bisa kemari untuk menemuimu, Di!" lirih Ashlan dengan mata berkaca-kaca.


Diana tersenyum. Ia mengusap air mata yang luruh karena tak mampu menahan perasaan haru. "Kau hebat!" pujinya tulus.


"Ya, aku tahu," angguk Ashlan. "Dan, semuanya tak lepas karena dirimu. Berkat dorongan untuk segera bertemu denganmu, makanya aku bisa berjalan normal lagi seperti sekarang."


"Kalau begitu, ceritakan bagaimana caranya kau menemukan aku ditempat ini!" pinta Diana antusias.


"Berterimakasih lah pada Erick. Semua berkat dia. Dia yang menggambar sketsa wajahmu lalu mengerahkan beberapa orang untuk mencarimu. Dan, pencariannya benar-benar berhasil. Aku sungguh menemukanmu."


Saat malam mulai beranjak, Diana akhirnya diantarkan pulang oleh Ashlan. Lelaki itu tak lupa mengecup puncak kepala wanita yang dicintainya dengan sayang sebelum berpamitan pulang.


"Tidak ingin mampir?" ujar Diana menawarkan walau sedikit malu-malu.


"Jika mampir, yang ada aku dan Erick akan sampai dini hari di Birmingham."


"Birmingham?" tanya Diana terkejut.


"Ah, aku belum bilang, ya?" kata Ashlan seraya menepuk jidatnya. "Aku dan Erick tinggal di Birmingham," imbuhnya.


"Bi-Birmingham?"


Ashlan mengangguk. Lalu, ia mendekat dan memegang kedua tangan Diana. "Ya, Birmingham. Jadi, tahu 'kan berapa jarak yang harus ku tempuh demi menemui kekasihku ini?" tanyanya seraya mencubit gemas hidung Diana.


Tepat ketika pasangan itu saling tersenyum malu-malu, tiba-tiba suara seseorang nyaris membuat Diana melompat saling terkejutnya.


"Di...," lirih Vanya yang datang dalam keadaan menangis dengan wajah babak belur seperti habis dipukuli.