Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Kegilaan Duke Hendrick



"Ratu tidak apa-apa?" tanya Ashlan dengan panik.


Diana yang masih meringis karena menahan sakit yang lumayan terasa di bagian pinggang menggeleng lemah. Pandangannya tak beralih dari sosok pria yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup.


Perlahan, ia bangkit. Dibantu oleh Ashlan, ia mencoba untuk mendekati Damian kembali.


"Jika Ratu tak bisa, sebaiknya jangan dipaksakan," ungkap Ashlan.


Diana bergeming. Netranya masih menatap wajah pucat Damian yang tampaknya pingsan akibat percobaan penyembuhan yang ia lakukan tadi.


"Perasaan apa ini?" gumam Diana dalam hati. Ia tak tahu kenapa dia jadi begini. Namun, sihir gelap terlarang yang terkandung ditubuh Damian sungguh memberikan sesuatu yang ngeri untuk perasaan Diana.


"Sepertinya, Tuan Damian hanya sedikit kelelahan," ucap salah seorang pria yang tadi memeganginya.


Alarick terduduk di samping tempat tidur sang Ayah. Lelaki itu bernafas lega karena setidaknya ia tahu bahwa Ayahnya masih hidup.


"Apa perlu dilanjutkan lagi, Rick?" tanya Diana kepada Alarick.


Jika sepupu suaminya setuju untuk melanjutkan pengobatan, maka ia pun akan melakukan hal yang sama. Sebaliknya, jika Alarick menolak, maka Diana memutuskan untuk kembali dan beristirahat saja.


"Sepertinya, Ayahku kelelahan. Begitu pula dengan Ratu. Lebih baik, Ratu beristirahat saja dulu," ucap Alarick lemah. "Maaf karena saya telah merepotkan Ratu," imbuhnya.


Diana mengangguk. "Kalau begitu, jika beliau sadar, tolong kabari aku," ucapnya kemudian.


Diana lalu melangkah dengan tergesa meninggalkan kamar Alarick. Perasaan takut yang dirasakannya masih terus mengusik. Ia bahkan tak sadar bahwa ada suami yang ia tinggalkan jauh di belakang.


"Ratu!" Panggilan di sertai sentakan pada pergelangan tangannya membuat Diana kaget setengah mati.


"Yang Mulia...," pekik Diana saat tahu siapa yang menahan pergelangan tangannya.


"Kenapa tidak menungguku?"


"Maaf!"


"Ada apa? Ada yang menganggu pikiran Ratu? Katakan padaku!" tanya Ashlan sembari menangkup wajah Diana.


"Aku hanya sedikit... takut," jawab Diana.


"Takut?"


"Sihir gelap yang ada pada tubuh Paman Damian. Aku merasakan hal yang tidak biasa mengenai keberadaan sihir itu," terang Diana dengan jujur.


"Memangnya kenapa?"


Diana menggeleng. "Entahlah! Hanya saja, aliran energinya terasa sangat mencekam dan gelap. Bahkan, saat tadi aku berusaha menyembuhkan Paman Damian, sepertinya energi sihir gelap itu melakukan perlawanan."


Ashlan terdiam sesaat. Penjelasan Diana membuat pria itu bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan tubuh sang Paman? Mustahil sihir gelap melakukan perlawanan sementara yang ada didalam tubuh Damian hanya merupakan sisa-sisa serangannya saja. Bukan sumber energi pusat yang biasanya tertanam di tubuh si pengguna sihir gelap itu sendiri.


"Apa Ratu akan berhenti mengobati Paman Damian?" tanya Ashlan kemudian. Pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di kepalanya akan ia tanyakan pada penyihir agung. Ashlan yakin bahwa penyihir agung pasti memiliki jawaban atas pertanyaan itu.


"Tidak," geleng Diana. "Akan saya usahakan untuk terus mengobati beliau. Biar bagaimanapun, saya tidak ingin mengecewakan Alarick."


Ashlan tersenyum mendengar jawaban sang istri. Dipeluknya pinggang Diana dari belakang sambil mengecup tulang rahang wanita itu. Hal tersebut langsung membuat jantung Diana berdetak dengan cepat serta pipinya yang kini merona kemerahan dan mendadak panas.


"Terimakasih telah peduli pada keluargaku," bisik Ashlan tepat di telinga kanan Diana.


Wanita itu tersenyum. Ia mengangguk dengan malu-malu sebagai jawaban.


"Ehemmm...," Suara batuk yang disengaja membuat Diana reflek menyikut perut Ashlan agar melepaskan pelukannya.


Wajahnya tegang sambil menatap ke arah seseorang yang baru saja membuyarkan momen mesra yang berlangsung sangat singkat itu.


"Lanie?"


Mulanie mendekat dengan canggung. Andai bukan sesuatu yang penting, tak mungkin ia berani menganggu kemesraan sepasang insan yang saling jatuh cinta.


"Maaf Yang Mulia!" ucap Mulanie sambil membungkukkan badan.


Ashlan berusaha menguasai ekspresi wajahnya. Sakit akibat sikutan sang istri di ulu hati, berusaha ia abaikan. Wibawanya tak boleh jatuh dihadapan siapapun termasuk Mulanie.


"Ada urusan apa sampai kau menyusul kemari?" tanya Ashlan dengan dingin.


"Seseorang sedang menunggu Yang Mulia Ratu di ruang baca," ucap Mulanie menyampaikan maksud kedatangannya.


"Siapa?" tanya Diana heran. Seingatnya, ia tak memiliki janji temu siang ini.


"Duke Hendrick," jawab Mulanie sedikit ragu.


Sepasang alis Diana mengkerut. Ada apa gerangan si psikopat tua itu menemuinya? Apa ada hubungannya dengan keberadaan Duchess Levrina dan Lady Verona di kerajaan Timur?


"Baiklah! Ayo kesana," ucap Diana.


"Ratu...," cegah Ashlan.


"Aku bisa sendiri. Percayalah!"


Ashlan mengangguk dengan ragu. "Jika pria itu berulah, minta seseorang untuk mencariku segera," ucapnya.


"Tentu," angguk Diana.


Menghirup nafas dalam, Diana berjalan dengan pasti untuk menemui Duke Hendrick. Ia ingin segera tahu apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap Bibi dan sepupunya. Benarkah bahwa Duke Hendrick telah menceraikan sang Bibi?


Perempuan bernetra kehijauan itu hanya mengangguk sekenanya. Ia duduk tepat dihadapan Duke Hendrick dengan wajah datar tanpa senyum basa-basi.


"Ada keperluan apa sampai Duke Hendrick yang terhormat datang kemari?"


"Ah, Ratu terlalu kaku. Padahal, bukankah kita ini keluarga?"


Diana hanya tersenyum simpul menanggapi.


"Tak perlu berbasa-basi, Tuan Duke! Katakan! Apa tujuan Anda menemui saya?"


Hilang sudah senyum ramah penuh kepalsuan di wajah Duke Hendrick. Pria tersebut langsung menatap Diana dengan tajam sembari bibirnya menyunggingkan seringai licik.


"Dimana kau sembunyikan Bibi dan sepupu tak bergunamu itu?"


Alis Diana sontak mengernyit. Tuduhan macam apa pula ini?


"Aku? Menyembunyikan istri dan anak Anda?" Diana terperangah. "Apa Tuan Duke sedang bercanda atau sedang mabuk?"


BRUK!


Meja di pukul dengan keras oleh pria itu. Namun, Diana sama sekali tak gentar ataupun kaget karena ulahnya. Sebaliknya, ia balik menatap Duke Hendrick dengan tatapan tak kalah tajam.


"Jaga sopan santunmu, Tuan Duke! Kau lupa sedang berhadapan dengan siapa?" tegur Diana dengan suara meninggi.


Duke Hendrick hanya menyeringai mendengar teguran Diana. Sepertinya, kegilaan pada otaknya semakin bertambah saja.


"Kau memang seorang Ratu. Tapi, bagiku kau tetap anak sial yang tak bisa apa-apa. Sama seperti dulu. Me-nye-dih-kan!"


"Oh ya?" Diana mulai geram pada Duke Hendrick.


"Sekarang, katakan padaku! Dimana kau sembunyikan Bibi dan sepupumu?" tanya Duke Hendrick sekali lagi.


"Mereka istri dan anakmu. Kenapa tanya padaku?" jawab Diana terkesan remeh.


"Diana!" Duke Hendrick tertawa. "Kau ingin berakhir sama dengan Ibumu, Sayang?"


Mendengar pertanyaan Duke Hendrick, Diana lalu memajukan sedikit badannya. Matanya yang mulai dipenuhi kabut kebencian seolah hendak melahap iblis yang berada tepat dihadapannya.


"Jadi, kau mengakui bahwa kaulah yang telah melenyapkan Ibuku, Tuan Duke?" Diana menyeringai.


Duke Hendrick terdiam sesaat. Ia tak menyangka akan menerima pertanyaan seperti itu dari Diana. Dapat ia simpulkan bahwa keponakan istrinya tersebut memang sudah tahu penyebab asli kematian sang Ibu. Persis seperti penjelasan Diana saat mereka bertemu pertama kali.


"Kembalikan saja Bibi dan sepupumu maka hubungan kita akan tetap baik-baik saja."


"Sayangnya, bukan aku yang menyembunyikan istri dan anakmu, Tuan Duke! Kau datang ke tempat yang salah!"


Rahang Duke Hendrick tampak mengetat. "Jangan memaksaku melakukan kekerasan," ancamnya.


"Coba saja!" Diana justru menantang.


"Baik, jika itu maumu!"


Duke Hendrick lalu menjentikkan jarinya sebanyak dua kali. Tak berselang lama, dua orang pria berjubah hitam masuk melalui jendela dan mendekati mereka. Pengawal yang mendengar keributan akibat kaca jendela yang pecah langsung bergegas masuk. Namun, semuanya dengan mudah di lumpuhkan oleh sihir Duke Hendrick.


"Yang Mulia!" Mulanie panik bukan main.


"Menjaulah, Lanie!" pinta Diana.


Tiga lawan satu adalah pertarungan yang jelas tak seimbang. Ditambah lagi, kemampuan Diana belumlah sehebat itu. Satu-satunya yang bisa ia lakukan kini hanyalah mengirimkan sinyal kepada Ashlan agar lelaki itu bisa menyelamatkannya tepat waktu.


"Baiklah, akan ku coba!"


Semuanya menatap keheranan saat Diana menciptakan energi sihir yang merambat melalui lantai yang mereka pijaki. Energi sihir itu mengalir dengan cepat menuju keluar.


"Semoga saja Yang Mulia bisa melihatnya," gumam Diana dengan penuh harapan.


"Kau bahkan belum bisa menggunakan sihirmu dengan baik, Di? Benar-benar menyedihkan!" sinis Duke Hendrick yang mengira bahwa aksi Diana barusan dilakukan karena Diana belum mampu mengendalikan energi sihirnya.


Diana memasang wajah tegang. Sengaja, agar rencananya tak terbaca oleh pria jahat itu.


"Serang perempuan lemah ini!" perintah Duke Hendrick kepada dua bawahannya.


Dua pria berjubah hitam itu mengangguk. Mereka melangkah maju mendekati Diana sementara Diana terus melangkah mundur.


Tepat ketika kedua pria itu mulai menyerang Diana menggunakan pedang, Diana dengan cepat menarik sebilah pedang yang berada di tangan sebuah patung besi didalam ruangan itu.


Denting benda perak yang saling bertumbukan terdengar nyaring. Pertarungan rupanya tak semudah yang dibayangkan Duke Hendrick.


"Jangan pikir bahwa membunuhku semudah kau membunuh Ibuku, Tuan Duke!" kata Diana sambil tersenyum.


Sementara, di tempat lain, energi sihir yang di kirim Diana telah sampai di ruangan rahasia istana. Sinar kehijauan yang merambat cepat di lantai membuat para Ksatria bayangan jadi mengernyit heran.


"Apa ini?" tanya Fionn sembari mengangkat kakinya.


Ashlan menatap energi sihir yang telah memudar tepat di bawah kakinya itu dengan tatapan heran. Dan, seketika, otaknya langsung mencerna dengan cepat apa yang baru saja terjadi.


"Ratu dalam bahaya!" gumam Ashlan yang masih bisa didengar jelas oleh Fionn dan yang lain.