
PRANG!!
Sebuah gelas pecah berhamburan dilantai saat Ashlan sengaja melemparnya dengan kasar. Lelaki itu mengusap wajahnya berulangkali. Embusan nafasnya terdengar cepat. Ia benar-benar tak sanggup mengendalikan emosinya saat membaca rincian kecurangan yang telah Duke Hendrick beserta bangsawan-bangsawan yang berada dibawahnya lakukan.
Tak hanya satu, Duke Hendrick telah mencuri begitu banyak uang yang seharusnya menjadi hak rakyat selama ini. Bahkan, tak hanya uang rakyat saja. Senjata untuk para prajurit juga tak luput dari incaran rampasannya.
Raja terdahulu atau mendiang Ayahnya sudah pernah mencoba untuk menghentikan. Namun, nyatanya kekuatan sang Raja tidaklah cukup untuk menumbangkan kekuasaan keluarga Hendrick yang terkenal sejak dulu. Kakek buyut dari Duke Hendrick yang berkuasa sekarang adalah salah satu dari empat pendiri kerajaan mereka. Bahkan, bisa dibilang, beliau-lah pengendali pasukan kala itu. Ia yang paling banyak berjasa sebagai pemimpin perang dan ahli strategi. Hanya saja, karena ia enggan menjadi Raja, maka ditunjuklah kakek buyut keluarga Ashlan untuk menduduki tahta itu. Wajar, jika banyak bangsawan yang jauh lebih berpihak pada keluarga Duke Hendrick dibanding keluarga kerajaan sendiri karena jasa besar kakek buyut keluarga Hendrick memanglah sangat berpengaruh pada berdirinya negara mereka.
"Aku Raja yang tidak becus. Bahkan, menumbangkan satu manusia kejam dan serakah saja, aku tak bisa. Riak yang ku ciptakan di atas permukaan air nyatanya hanya bertahan sebentar. Malah, aku telah membangunkan monster yang bersembunyi didalamnya. Kehadiran 'orang' itu membuatku khawatir. Aku mencemaskan keluargaku. Terutama kedua putraku."
Satu, dari sekian banyaknya curhatan sang Raja terdahulu yang tertulis dibuku harian makin menambah panjangnya benang yang kusut di kepala Ashlan. 'Orang' itu. Siapa yang Ayahnya maksud? Ashlan sudah berusaha mencari di halaman selanjutnya namun nihil. Tak ada yang bisa ia jadikan petunjuk tentang siapa 'orang' yang di maksud sang Ayah dalam catatan harian itu.
"Ash? Ada apa?" tanya Damian. Ia sedikit terkejut saat ia masuk ke dalam ruangan dan malah menjumpai pecahan beling yang berserak di lantai dekat kaki sang keponakan.
Ashlan membuang muka. Lelaki itu mendongakkan kepala sembari mengembuskan nafas pelan. Emosinya berusaha ia redam.
"Tidak ada apa-apa, Paman," jawab Ashlan setelah membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Damian lagi.
"Ada yang mengusik pikiranmu?" Damian berusaha mengulik perasaan Ashlan. Matanya sempat melirik sesaat ke arah buku catatan Raja terdahulu yang terbuka lebar di atas meja.
"Tidak." Lagi, pria itu mencoba berbohong. "Aku ingin keluar sebentar," pamitnya sambil keluar dari ruangan tersebut.
Damian tersenyum tipis. Ia menganggukkan kepala tanda persetujuan atas ucapan Ashlan.
Tujuan Ashlan saat ini adalah ruangan pribadi sang Ratu. Terus terang, saat pikirannya semakin tak terkendali dan dibelenggu amarah, sosok Diana hadir ditengah-tengah kekalutan itu. Wanita berparas cantik dengan mata hijau yang indah itu selalu bisa menjadi peredam dari segala api kemarahan Ashlan. Bahkan, baru memikirkan saja sudah memberi efek yang lumayan besar.
Namun, langkah Ashlan yang awalnya cepat mendadak berubah pelan dan akhirnya terhenti saat melihat pemandangan yang begitu menyesakkan hati. Tepat didepan sana, ia melihat wanita yang begitu ia cintai sedang menangis sesenggukan dalam pelukan Mulanie. Dan, begitu netra kehijauan tersebut menangkap sosoknya yang berdiri tak jauh darinya, sang empu langsung melerai pelukannya dari Mulanie lalu berlari sambil sesekali menyeka air matanya menuju ke pelukan Ashlan.
Ashlan sendiri terpaku dalam keterkejutan. Tak pernah ia merasakan pelukan seerat ini sebelumnya. Namun, bukan eratnya pelukan itu yang membuatnya terkejut. Melainkan, karena Ashlan bisa merasakan emosi yang dipendam Diana lewat pelukan itu.
"Dia mengatakan rindu setelah sekian lama. Dia mengatakan itu ketika semuanya sudah sangat terlambat. Kenapa harus menunggu 24 tahun dulu baru bisa mengucapkannya? Kenapa?" Tangis Diana semakin pecah. Baju putih yang dikenakan Ashlan bahkan sudah basah karena air matanya.
Tangan kokoh Ashlan bergerak merengkuh tubuh kecil nan mungil dalam pelukannya. Ia memberikan segalanya dalam pelukan itu. Cinta, kasih sayang, ketenangan serta perlindungan. Semuanya Ashlan berikan dalam pelukan yang dilandasi atas nama cinta.
"Jangan menangis!" lirih Ashlan sembari mencium pucuk kepala Diana.
Mendengar itu, tangis Diana makin menjadi. Ia menyerah. Benar-benar tak sanggup lagi menahan perasaan yang mendobrak hendak dibebaskan. Perasaan yang selama ini coba ia sangkal dan ia kubur dalam-dalam di relung hati. Tapi kini, tepat hari ini, perasaan itu membebaskan dirinya sendiri. Segitu kuatnya daya yang ia miliki hingga ia mampu membebaskan diri sendiri.
Ya, Diana mengakui. Bahwa cinta untuk Ashlan sejatinya sudah ada. Entah sejak kapan, Diana sendiri tidak tahu.
*
"Ratu sudah merasa lebih baik?" tanya pria yang bersimpuh dihadapan Diana.
Diana sedang duduk di sofa sementara Ashlan bersimpuh dihadapannya dengan kedua tangan dan dagu yang bersandar di atas paha sang Ratu.
"Sekarang, apa Ratu bisa ceritakan penyebab kenapa Ratu menangis?" tanya Ashlan lagi. Satu tangannya bergerak menyeka sisa air mata yang masih menjejak di pipi Diana.
Wanita itu tertunduk. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menarik nafas panjang.
"Ayah mengirim pesan. Katanya...," Diana kembali menarik nafas. Kepalanya menengadah demi menahan air mata yang akan kembali tumpah. Entah kenapa, perasaannya begitu sangat sedih saat kata 'Ayah' meluncur dari mulutnya sendiri.
"Katanya?" Ashlan masih menunggu sambungan kalimat Diana.
"Dia merindukan saya," imbuh Diana sambil tersenyum getir. Air mata yang berusaha ia tahan nyatanya kembali menetes. Namun, secepat yang ia bisa, ia menyekanya sambil membuang muka.
"Sudah ku bilang, jangan menangis!" kata Ashlan. Tatapan matanya yang sendu membuat Diana semakin tak tahan untuk tidak menumpahkan air mata. Inikah sosok yang akan membunuhnya? Rasanya mustahil hal seperti itu akan terjadi jika melihat seberapa besar cinta yang pria itu pancarkan melalui tatapan matanya.
"Saya harus bagaimana?" tanya Diana bingung.
Ashlan menggenggam jemari sang istri. "Ratu ingin menemuinya?"
Diana kembali tertunduk. Memilih tak menjawab.
"Ratu ingin kita berkunjung ke kerajaan Timur?" Ashlan memperjelas maksudnya. Namun, Diana tetap bungkam.
"Ratu?" panggil pria itu.
Diana menghela nafas kasar. Kedua bahunya terangkat sambil matanya memancarkan kebingungan. "Saya tidak tahu."
"Kalau begitu, ayo kita temui 'dia'. Kita cari tahu bagaimana perasaan Ratu dan juga perasaan Kaisar Sean."
"Apa dia mau menemuiku?"
"Dia yang mengirim pesan. Tentu, dia ingin bertemu."
"Jika tidak?"
Ashlan terdiam.
"Saya takut akan semakin terluka andai dia menolak saya lagi."
"Jika dia menolak Ratu, maka Ratu bisa kembali lagi bersamaku kemari." Ashlan kembali menyeka air mata istrinya. "Sampai kapan pun, aku akan selalu menjadi rumah untuk Ratu kembali. Percayalah!"
Ucapan Ashlan yang benar-benar tulus berhasil tersampaikan ke Diana. Terbukti, dari pelukan yang tiba-tiba kembali Ashlan rasakan. Lelaki itu tersenyum lebar. Membalas pelukan sang istri jauh lebih erat sembari mengecup bahu Diana beberapa kali.
Walau masalahnya mungkin saja jauh lebih berat dari Diana, namun Ashlan memilih untuk memendamnya sendiri. Sebisa mungkin, ia tak mau Diana ikut terlibat. Ia memilih untuk berjuang sendiri. Walau ia tahu akan jatuh berkali-kali bahkan resiko kematian tak bisa dihindari, Ashlan tetap memilih menanggung bebannya tanpa bantuan Diana.