Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Tempatmu disini, disisiku!



"Minumlah!"


Kedua sudut bibir Diana tertarik ke atas saat menerima cangkir teh tersebut. Ia merasakan sedikit bahagia di sela kesedihan berkat kehadiran pria bersurai legam yang duduk dihadapannya. Entah sudah berapa lama mereka tak bertemu, namun bagi Diana, Ksatria Martinez masih tetap sosok yang dulu. Sosok yang begitu perhatian dan yang paling peduli terhadap dirinya yang dulu.


"Terimakasih, Ale," ucap Diana seraya meraih cangkir teh tersebut.


Ksatria Martinez tersenyum tipis. Bangga rasanya bisa membuat Diana kembali tersenyum semanis itu.


"Untukku mana?" sela seorang pria yang sebenarnya sejak tadi sudah duduk di sebelah Diana. Namun, entah kenapa, kehadirannya seolah tak digubris oleh Ksatria Martinez sama sekali.


Jika dihadapan Diana, Ksatria Martinez bisa tersenyum begitu teduh, maka lain halnya jika ia menatap pria yang duduk di samping Diana. Ksatria Martinez jelas menunjukkan ketidaksukaannya dengan tidak bersikap ramah sama sekali.


"Saya rasa Kaisar Ashlan tidak butuh minum. Bukankah sejam yang lalu sudah?"


Ashlan mendengkus sebal. Tangannya terkepal erat di bawah meja melihat tatapan tidak suka Ksatria Martinez terhadapnya. Sebagai lelaki normal, tentu Ashlan sangat tahu apa yang ada di kepala Ksatria Martinez saat memandangi istrinya. Dan, itu sama sekali bukan hal yang disukai Ashlan.


"Bisakah Anda sedikit menghargai saya? Walau bagaimanapun, saya adalah suami dari putri mahkota kerajaan ini," ucap Ashlan mempertegas posisinya.


"Kaisar Ashlan memang benar. Tapi, Kaisar juga harus ingat dengan cara apa Kaisar bisa menikahi putri mahkota kami," jawab Ksatria Martinez tak mau kalah.


Lagi-lagi Ashlan mendengkus sebal. Rupanya, Ksatria Martinez tak juga ingin mengalah dan sengaja mencari masalah.


"Ku dengar, keluarga Martinez adalah keturunan para Ksatria terhormat yang begitu setia dan patuh kepada keluarga kerajaan. Tapi, sepertinya hal itu sama sekali tidak benar." Ashlan tersenyum miring. Kedua tangannya terlipat angkuh didepan dada.


Bukannya tersinggung, Ksatria Martinez justru ikut tersenyum. Dengan santai, ia menanggapi tudingan Ashlan dengan kalimat yang cukup menohok. "Ya, kami memang sangat setia dan patuh kepada anggota keluarga kerajaan. Tapi, yang kami maksud adalah keluarga kerajaan Timur, bukan kerajaan Barat."


"CK, rupanya Anda orang yang berlidah tajam juga."


"Terimakasih atas pujian Kaisar Ashlan!" angguk Ksatria Martinez yang seolah bangga terhadap ejekan yang diberikan Ashlan.


Mata keduanya tak ingin saling melepas kontak. Mereka seolah bisa saling membunuh hanya lewat tatapan mata semata. Namun, hal itu rupanya tak berlangsung lama karena Diana mendadak menginterupsi keduanya karena sudah terlalu jengah mendengar perdebatan dua pria hebat itu.


"Masih ingin di lanjut?" tanya Diana kepada Ashlan dan Ksatria Martinez.


"Apanya?" tanya dua pria itu secara kompak. Tak lama, mereka pun kembali kompak berdecak sebal dan memalingkan muka.


"Kompak sekali kalian," puji Diana yang merasa sedikit terhibur berkat dua orang itu.


"Tidak," geleng Ashlan dan Ksatria Martinez yang lagi-lagi berucap secara bersamaan.


"Pfftt...," Diana tak kuasa menahan tawanya. Astaga! Andai bukan sesama pria, pasti Diana sudah menyimpulkan bahwa Ashlan dan Alejandro adalah jodoh yang baru saja dipertemukan takdir.


Setelah berbincang singkat bersama Ksatria Martinez mengenai kabarnya selama ini, Diana pun pamit untuk beristirahat di kamar bersama Ashlan. Besok, rencananya dia dan Ashlan akan pulang ke kerajaan Barat. Duta negara lain masih belum kembali ke negara masing-masing. Dan, tentu Diana merasa tak enak jika meninggalkan tamu-tamunya terlalu lama.


Diana mencoba mengingat-ingat. Sebenarnya, memori kedekatan Diana Emerald bersama orang-orang disekitarnya terkadang muncul begitu saja. Tak jarang pula, jika Diana Steel iseng ingin mengingat sesuatu, otak yang berada di kepalanya seolah mengerti dan menampilkan kilasan ingatan yang bisa menjawab rasa penasaran Diana Steel.


"Saya mengenalnya sejak kecil," jawab Diana.


Ashlan mengangguk paham. Kedua tangannya saling meremas seperti seseorang yang sedang dilanda gugup.


"Kalian dekat seperti apa?"


"Hmm?" Langkah Diana terhenti. Ia mendongak menatap Ashlan dengan raut kebingungan. "Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.


Ashlan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Entah seperti apa harus menjelaskan rasa penasarannya terhadap hubungan Diana dan Ksatria Martinez di masa lalu. Ia takut jika terlalu blak-blakan menembak pada pokok kecurigaannya, Diana justru akan tidak merasa nyaman dan memilih menghindari pertanyaan.


"Maksudnya, apakah kalian sering pergi bersama ke suatu tempat, atau apakah Ksatria Martinez suka memberikan sesuatu yang istimewa kepada Ratu?" tanya Ashlan penuh selidik.


Diana mengangguk tanda mulai mengerti. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya dengan santai bersama sang suami.


"Ya, Ale sering membawaku secara diam-diam keluar istana untuk melihat perayaan atau sekadar mengingatkan menonton pertunjukan. Dia juga sering membawakan hadiah setiap kali dia pulang dari suatu tempat. Ale suka bercerita banyak hal tentang tempat yang dikunjunginya bahkan pernah berjanji akan membawaku ke tempat-tempat yang indah suatu hari nanti." Diana tersenyum. Ingatan tentang kebersamaannya bersama Ale sungguh memunculkan perasaan bahagia.


Langkah Ashlan terhenti. Diana bahkan tak menyadarinya. Gadis itu terus berjalan tanpa sadar bahwa Ashlan telah tertinggal jauh di belakang.


"Yang Mulia?" panggil Diana saat sadar bahwa Ashlan tidak berjalan disisinya lagi. Ia berbalik dan menemukan lelaki itu sedang tertunduk menatap lantai di bawah kakinya.


"Ya?" jawab Ashlan lesu.


"Kenapa Anda berhenti disitu? Kemarilah!" Diana mengulurkan tangannya. "Tempat Anda bukan disana. Tapi disini, disisiku!"


Senyum lebar yang cantik serta tangan indah yang terulur, sungguh membuat hati Ashlan menghangat. Tanpa sadar, ia pun tersenyum begitu lebar dan melangkah cepat tanpa membuang waktu. Tangan Diana ia raih. Lalu, ia mengecup pipi istrinya hingga Diana nyaris melupakan cara bernafas untuk sepersekian detik karena terlampau terkejut.


"Apa boleh aku menggenggam tangan ini selamanya?" tanya Ashlan sambil menaikkan tangan Diana yang ia genggam.


Diana menggeleng dan Ashlan langsung menelan kecewa. Namun, sebelum kekecewaan Ashlan semakin berlarut, Diana segera berkata, "Yang Mulia hanya boleh menggenggamnya sesekali. Jangan di genggam selamanya. Karena, jika itu terjadi, bagaimana saya akan makan nantinya? Menggaruk badan yang gatal atau bahkan memasak? Tentu itu akan terlampau sulit."


Sontak, jawaban Diana membuat tawa Ashlan pecah. Sementara, dari kejauhan terlihat sosok Ksatria Martinez yang tertunduk menelan pil pahit. Cintanya benar-benar telah kandas bahkan sebelum berlayar. Ia bahkan belum sempat mengutarakan perasaannya kepada gadis yang disukainya sedari remaja.


"Apa Ksatria Martinez cemburu?" tanya Verona yang mendadak muncul dari belakang Ksatria Martinez.


Lelaki bersurai legam itu mendengkus kasar. "Bukan urusan Lady," jawabnya ketus dan dingin. Ia pergi meninggalkan Verona sendirian sebelum gadis licik itu menyebar racun yang mungkin saja bisa mencemari pikirannya yang sedang tidak sehat.


"Cih, apa bagusnya Diana dibanding diriku? Kenapa Ashlan dan Alejandro bisa tergila-gila seperti itu padanya? Padahal, apa yang bisa dibanggakan dari anak pembawa sial seperti dirinya, sih?" ketus Verona kesal.