Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Fakta baru



Verona tak mampu menyembunyikan tangis histerisnya ketika melihat sang Ibu di giring menuju ke atas gunung untuk menjalani hukuman. Gadis itu meraung sejadi-jadinya. Ia tak menyangka, bahwa kepulangannya kembali ke istana untuk menjenguk sang Ibu di penjara malah akan berbuah hal mengejutkan seperti ini.


Ibu. Orang satu-satunya yang paling tulus mencintainya, akan mendapatkan hukuman mati.


"Jangan bawa Ibuku!" Raung Verona sembari berusaha lepas dari cekalan dua pengawal yang mencegahnya mendekati sang Ibu.


"Putriku...," Duchess Levrina tak kalah histeris. Dia yang saat ini telah berada di dalam kerangkeng berusaha menggapai tangan Verona yang berdiri di tepi jalan yang di laluinya. Namun, baik usahanya maupun usaha Verona tak ada yang berhasil. Keduanya bahkan tak bisa saling bersentuhan walau hanya seujung kuku.


"Ibu....," teriak Verona sekali lagi.


Putus asa. Patah hati. Ketakutan.


Gadis itu merasa tak memiliki apa-apa lagi di dunia ini. Ingin kembali ke keluarga Ayahnya juga terasa percuma. Keluarga Hendrick kini telah hancur. Kekuasaan besar yang dulu menaungi keluarga itu perlahan runtuh seiring jatuhnya sang Ayah yang terbukti telah banyak melakukan kekejaman dan konspirasi di masa lalu. Sepupu yang kini menjabat sebagai kepala keluarga yang baru juga seolah tak acuh kepadanya. Kemarin, dia sempat berkunjung. Berniat mengambil beberapa harta untuknya bertahan di kerajaan Timur namun sayangnya seluruh aset malah di kuasai oleh sepupunya itu. Tak ada yang tersisa untuk Verona. Dia bahkan di usir dan dianggap bukan bagian dari keluarga dengan dalih telah menelantarkan sang Ayah dan membiarkan pria kejam itu meregang nyawa tanpa kehadiran anak istrinya.


Entah kemana surat wasiat sang Ayah berada. Sang sepupu sama sekali tidak menunjukkannya dan malah mengatakan bahwa seluruh aset Duke Hendrick telah di sita oleh pihak istana demi menutupi kerugian kas negara akibat kasus korupsi sang Ayah. Rumah, emas, permata dan tanah yang jumlahnya beribu hektar lenyap sekejap mata. Padahal, Verona yakin, pasti harta itu masih ada tersisa walau hanya secuil. Sayangnya, dia tak memiliki daya apapun untuk memperjuangkan haknya. Tidak untuk saat ini.


"Kalian tunggu saja! Setelah aku menjadi Ratu kerajaan Barat yang baru, kalian akan membalas semua penghinaan ini!" gumam Verona sebelum pergi meninggalkan rumah milik sepupunya.


Sementara itu, di tempat lain, Diana menatap nanar tiang gantungan yang berada sekitar 10 meter dari tempatnya duduk sekarang. Ingin rasanya dia mangkir dan enggan menyaksikan hukuman untuk Rosemary. Namun, Ayahnya meminta dia tetap bertahan agar seluruh rakyat tahu bahwa Putri Mahkota bisa menegakkan keadilan tanpa melibatkan perasaan pribadi.


"Ayah sudah terbukti pengecut dengan mengabaikanmu selama puluhan tahun, Di! Jangan biarkan, kau pun akan di cap sama oleh rakyat kita karena tidak tegas dalam merampungkan hukuman bagi Rosemary sampai akhir." Kaisar Sean berucap sambil tersenyum miris.


Ya, dia mengakui sikap tidak tegasnya di masa lalu. Terlalu terpuruk akan kehilangan membuat dia melupakan bahwa masih ada satu nyawa lagi yang menjadi tanggung jawabnya. Dia mengabaikan tanggung jawab itu selama bertahun-tahun. Berdalih melindungi sang putri dari kekejaman musuh yang masih berlindung di bawah selimut. Namun, saat semua kenyataan mulai terkuak, Kaisar Sean sendiri mulai mempertanyakan akan sikapnya itu.


Benarkah dia berniat melindungi putrinya atau memang dirinya yang masih terlalu tidak dewasa dalam menghadapi takdir kehilangan?


"Aku hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan, Ayah. Walau bagaimanapun, Bibi Rosemary adalah orang yang merawatku sedari bayi. Dia yang selalu menjadi yang pertama bagiku dalam segala hal. Walau dosanya begitu besar, tapi tidak semudah itu aku melupakan seluruh kasih sayang yang selama ini tulus dia berikan untukku."


Kaisar Sean mendesah samar. Ia hanya mampu mengecup pucuk kepala sang putri untuk menenangkan hati gadis kecilnya yang hancur.


Setelah beberapa saat, akhirnya sosok Rosemary muncul dari sebuah pintu yang terbuka. Wanita paruh baya itu melangkah dengan kepala yang tegak. Seolah tak ada penyesalan sedikitpun yang masih tertinggal. Dia seolah telah siap walau sebenarnya kesiapan itu tak pernah benar-benar ada.


Tangannya terikat tali. Ia tak perlu di seret karena dia tak melakukan perlawanan seperti Duchess Levrina.


Begitu tiba di atas panggung eksekusi, Rosemary meminta berbicara terlebih dulu kepada Diana secara empat mata. Itu adalah permintaan terakhir yang ia mohonkan untuk di penuhi.


Menarik napas dalam, Diana menyetujui permintaan Rosemary. Semua itu ia lakukan sebagai wujud penghargaan atas jasa-jasa Rosemary yang telah mengasuhnya dengan baik selama ini. Terlepas dari kejahatan tak terampuni yang di lakukannya, Rosemary adalah sosok Ibu pengganti yang sempurna bagi Diana.


"Ada yang harus Bibi sampaikan, Yang Mulia!" lirih Rosemary dengan mata berkaca.


"Mendekatlah! Bibi ingin mengatakan sesuatu!"


Ragu, Diana menuruti permintaan Rosemary. Lalu, wanita paruh baya itu pun membisikkan sesuatu yang sontak membuat Diana nyaris limbung. Sesuatu yang benar-benar berada di luar nalar dan prediksi Diana selama ini.


"A-apa Bibi bersungguh-sungguh?" tanya Diana dengan suara bergetar.


Rosemary mengangguk. "Yang Mulia harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Maaf! Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk yang terakhir kali. Semoga, informasi ini akan berguna dan bisa mencegah bencana yang lebih besar."


Diana membisu untuk beberapa saat. Dia pun tanpa pamit langsung pergi dengan terburu-buru. Tak di hiaraukannya panggilan sang Ayah yang memanggil-manggil namanya. Tujuannya kini hanya satu. Mencari keberadaan Ksatria Martinez.


DUNG! DUNG! DUNG!


Di tengah perjalanan menuju puncak gunung tempat dimana Ksatria Martinez mengawasi langsung proses eksekusi Duchess Levrina, Diana dapat mendengar suara suara genderang yang di tabuh keras di puncak menara benteng kerajaan. Hal itu jelas mengisyaratkan bahwa eksekusi Rosemary telah selesai. Bisa di pastikan bahwa kini wanita yang telah merawat Diana sedari bayi itu telah mengembuskan napas terakhirnya di tiang gantungan.


Diana sempat berhenti sebentar. Persendiannya langsung terasa lemas. Kedua lututnya bergetar. Air matanya menetes tanpa di minta. Namun, sekali lagi dia harus bisa berdiri dengan tegak lagi. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang banyak yang bernaung di bawah perlindungannya.


"Maaf jika aku cengeng, Ibu. Hanya saja, aku tetap manusia biasa!" lirih Diana dalam hati seraya menghapus air matanya.


"Dimana Ksatria Martinez?" tanya Diana begitu dia sampai di lokasi eksekusi Duchess Levrina.


Raungan Duchess Levrina yang meminta di bunuh detik itu saja terdengar jelas di rungu Diana. Namun, Diana sama sekali tak tertarik untuk mendekat dan menyaksikan langsung. Masalah yang ia hadapi saat ini jauh lebih penting untuk di selesaikan.


"Yang Mulia mencari saya?" tanya Ksatria Martinez yang muncul tak berselang lama setelah mendengar sayup-sayup suara Diana yang mencarinya.


"Aku butuh bantuanmu, Ale!" ucap Diana dengan raut muka yang tegang.


"Katakan! Ada apa?" tanya Ksatria Martinez yang langsung menatap serius karena tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang mendesak.


*


"Sudah kalian persiapkan semuanya?" tanya pria misterius berjubah hitam di hadapan pasukannya.


"Sudah, Tuan!" angguk salah seorang bawahan kepercayaannya.


"Bagus," Ia menyeringai. "Kalian semua, beristirahatlah! Besok pagi-pagi buta, kita serang Kota Bern dan mengambil alih istana!"


"Baik!" angguk pasukannya kompak.