
Lama menunggu dengan perasaan deg-degan, akhirnya yang dinanti datang juga. Dua unit mobil Maybach dengan tipe dan warna yang sama terparkir manis di depan restoran sederhana tempat Diana bekerja. Beberapa orang berpakaian jas rapi dengan sedikit berlari turun dari mobil yang paling depan lalu menghampiri mobil yang berada dibelakang. Dua orang sigap membuka pintu mobil. Dan, turunlah seorang pria tampan bersama dengan seorang pria tua yang mengenakan tongkat sebagai alat bantunya untuk berjalan.
"Selamat datang kembali, Tuan Ashlan!" sambut kepala koki ramah.
Ashlan mengangguk. Di pindainya ruangan restoran yang tampak kosong melompong tanpa pelanggan satu pun. Lalu, di lihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri sembari melipat dahinya.
"Ini baru jam delapan. Tapi, kenapa restorannya sudah sepi?" tanya Ashlan.
Kepala koki tersenyum sumringah. "Sengaja kami kosongkan karena kami tahu Anda akan datang kemari," ucapnya.
"Baiklah! Kalau begitu, sama seperti tempo hari, restoran ini akan ku beri biaya ganti rugi sebesar pendapatan rata-rata restoran ini selama seminggu."
Kepala koki hendak menolak. Namun, Ashlan sudah lebih dulu menyela sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Anggap saja sebagai biaya reservasi, Chef! Walau bagaimanapun, Anda bukannya tetap harus menggaji pegawai Anda? Jadi, gunakan uang pemberianku untuk memberi bonus pada mereka."
Katy yang mengintip dari kejauhan langsung bersorak senang. Bonus. Satu kata itu sudah cukup untuk membuat suasana hatinya jadi berbunga-bunga.
"Dimana kau menemukan pria sesempurna dia, Di?" tanya Katy sembari menepuk bahu Diana kencang.
Yang ditepuk tak bereaksi apa-apa. Wajahnya sudah tegang sejak tadi. Sendi lututnya seperti nyaris terlepas hingga tak mampu menopang bobot tubuhnya kala melihat pria tua yang berdiri di samping Ashlan. Melihat dari garis wajah pria tua itu saja, Diana sudah insecure lebih dulu jika akan di restui. Sosok pria tua itu terlihat begitu tegas dan mengintimidasi. Walaupun, Diana tak bisa menampik bahwa wajahnya tetap tampan meski tak muda lagi.
"Kau kenapa, Di? Gugup?" tanya Katy yang mulai peka dengan kondisi gadis cantik di sampingnya.
Diana mengangguk cepat. Pandangan matanya seolah sedang mencari perlindungan.
"Apa aku kabur saja, Kak?" tanya Diana ngawur sembari berbalik hendak lari saja.
"Apa maksudmu dengan kabur?" Katy menahan bahu Diana. "Tidak ada acara kabur-kaburan dalam agenda setelah aku mati-matian berlari ke sana kemari mencari gaun cantik ini untukmu," imbuhnya seraya memindai gaun cantik berwarna hitam dengan model pas badan, tali spagheti dan belahan dada yang agak rendah namun tak sampai menonjolkan belahan dada Diana. Bisa dibilang, gaun itu nampak seksi namun tetap terlihat elegan dan berkelas.
"Tapi Kak...,"
"Memangnya, kau rela kehilangan Ashlan begitu saja, Di?"
"Tentu saja tidak," geleng Diana tak terima.
"Kalau begitu, bersiaplah! Kendalikan rasa gugupmu dan ambil hati calon mertua dengan memperlihatkan sisi baikmu,"ucap Katy menyemangati.
Diana menarik napas panjang demi menetralkan rasa gugup yang masih menjadi alasan utama mengapa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Bagaimanapun hasilnya nanti, Diana harus siap dengan segala kemungkinan. Andai direstui, tentu ia akan sangat bersyukur. Namun, jika ternyata dirinya malah di tolak, maka Diana hanya perlu membenahi hati dan berjuang sekali lagi sampai kata restu itu ia dapatkan.
"Di! Ashlan mencarimu," tegur kepala koki yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan Diana yang sibuk melamun.
"Pergilah! Jangan khawatirkan apapun! Kau tidak benar-benar sendiri. Kami ada disini!" bisik Katy.
"Apa penampilanku terlihat bagus?" tanyanya pada satu-satunya rekan wanita yang ia miliki di bagian dapur. Sisanya, hanya segerombolan lelaki yang tentu tak akan bisa diajak berbagi cerita.
"Kau sempurna, Di!" tukas Katy. "Kau cantik, kau luar biasa, dan kau percaya diri! Mengerti?" Katy memegang kedua pundak Diana.
"Ya,"angguk Diana.
"Sekarang, cepatlah ke sana sebelum Ashlan memperkenalkan August sebagai calon istrinya," seloroh Katy yang disambut tawa kecil yang ternyata efektif mengurangi sedikit rasa gugup di diri Diana.
Sementara itu, Ashlan yang sedang menunggu bersama sang Kakek memang sedang dilayani oleh August. Walau sudah dilarang keras oleh kepala koki untuk keluar dari dapur, namun August tetap bersikeras ke depan mengantarkan makanan hanya karena penasaran ingin menyaksikan wajah Ashlan dari dekat.
"Sial! Ternyata memang tampan. Wajar jika Katy selalu menyanjungnya dan mengatakan bahwa aku tidak ada apa-apanya dibanding pria ini,"gumam August yang jelas merasa iri jika mengingat wanita 'wonder woman' yang dia sukai sejak dulu malah mengagumi pria di sampingnya itu.
Tak berselang lama setelah August pergi, Diana akhirnya muncul juga dihadapan Ashlan dan Peter dengan senyum gugupnya. Sejenak, waktu seolah berhenti bagi Ashlan. Penampilan anggun yang dulu pernah ia lihat di dunia aneh yang ia masuki, kini tersaji kembali dihadapannya dengan sempurna. Tanpa sadar, Ashlan memuji penampilan Diana.
"Cantik!" gumamnya tanpa sadar.
Peter yang masih bisa mendengarnya langsung menoleh menatap cucu satu-satunya. Sejenak, pria tua itu tertegun. Ia menatap Diana dan Ashlan secara bergantian dengan perasaan yang tak bisa digambarkan.
"Duduklah!" titah Peter dengan suara tegasnya.
Diana menurut begitu saja. Suara bariton Peter sungguh serasi dengan wajah tampan nan tegasnya. Entah kenapa, rasa gugup yang tadinya hampir padam sempurna kini kembali berkobar.
"Siapa namamu?" tanya Peter tanpa basa-basi.
"Diana. Diana Steel!" jawab Diana canggung.
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan sang Kakek kepada perempuan yang begitu ia cintai, Ashlan langsung melotot dengan wajah memerah menahan kesal.
"Kakek...," tegurnya dengan suara berat.
Tanpa menoleh, Peter menaikkan telapak tangan tanda menolak Ashlan untuk terlibat dalam pembicaraan antara dirinya dan perempuan cantik yang sedang duduk dihadapannya. Mata tua itu tetap terfokus pada Diana yang saat ini sedang mengepalkan erat kedua telapak tangannya dibawah kolong meja bundar yang mereka tempati.
"Jawab, Nak!" titah Peter.
Diana meneguk ludahnya payah. Tenggorokannya mendadak serak. Suaranya seolah sulit untuk keluar.
"Tentu saja saya mengincar dirinya, Tuan!" jawab Diana.
"Maksudmu?" Peter menaikkan sebelah alisnya. Pandangan matanya sungguh mengintimidasi. Namun, sekuat mungkin, Diana mencoba menantang mata tua itu. Bukankah kalian pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa 'mata adalah jendela hati?' Diana berharap, lewat sorot matanya, segala perasaan tulus yang ia miliki untuk Ashlan bisa ditangkap sepenuhnya oleh Peter.
"Saya mencintainya. Bahkan sangat mencintainya," ujar Diana. "Perasaan ini sudah ada jauh sebelum kami bertemu beberapa waktu yang lalu."
Mata Peter menyipit mendengar pengakuan Diana. Dalam benaknya, ia menduga bahwa Diana mungkin saja merupakan wanita beruntung yang dipilih Ashlan dari sekian banyaknya wanita yang menjadi pengagum rahasia penerus keluarga 'Arlen' tersebut.
"Apa kau tahu, siapa pria yang kau cintai ini?" tanyanya yang berusaha mengulik, sejauh mana Diana tahu mengenai latar belakang cucunya.
Diana menggeleng. "Saya tidak tahu latar belakangnya sama sekali. Yang saya tahu, hati saya hanya menginginkannya. Bukan yang lain. Terlepas, siapapun dia, saya tidak peduli. Dan, andai Anda menentang hubungan kami sekali pun, bagi saya juga tak masalah."
Ashlan langsung menyuarakan protes lewat tatapan mata yang mulai memerah. Ada perasaan cemas andai segala rencana indah yang dia khayalkan harus hancur karena tak adanya restu dari sang Kakek. Padahal, bukankah pria tua itu terlihat sumringah dan bahagia saat Ashlan menceritakan mengenai rencana akan menikahi Diana?
"Memangnya, apa yang kau punya sehingga kau begitu percaya diri bisa bersanding dengan cucuku?" tanya Peter lagi.
Diana menarik napas dalam. "Terus terang, jika Anda sedang membicarakan mengenai materi, jujur, saya tak memiliki apa-apa selain sebuah rumah kecil dan beberapa perhiasan yang nilainya mungkin tak ada artinya bagi orang seperti Anda. Pekerjaan saya pun, hanya sebagai Saute Chef di restoran sederhana ini. Tentu, hanya dengan melihat ukuran bangunan ini saja, Anda pasti sudah bisa menebak berapa nominal yang bisa saya dapatkan perbulannya. Jelas, jika di tangan Anda, nominalnya mungkin hanya serupa recehan. Tapi, bagi saya, itu jauh lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup gadis sebatang kara seperti saya."
Peter terdiam. Ada rasa kagum dalam hatinya melihat kejujuran yang disampaikan Diana lewat perkataan dan tatapan matanya. Pria tua itu tahu bahwa gadis dihadapannya ini benar-benar tulus mencintai cucunya. Namun, memberi sedikit tantangan, bukan hal yang kejam, bukan? Walau bagaimanapun, gadis yang akan menyandang gelar sebagai istri dari penerus keluarga Arlen haruslah wanita yang pemberani, tegas, cerdas dan tidak mudah di pengaruhi.
"Kau sebatang kara? Apa maksudnya?"
Diana tersenyum miris. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca. "Ya, kedua orangtua saya sudah meninggal dalam kecelakaan, Tuan. Dan, sekarang saya sendiri. Keluarga dari pihak Ayah ataupun Ibu, tidak satu pun yang saya kenali. Karena, kedua orangtua saya menikah tanpa restu keluarga mereka."
Gadis itu tertunduk. Terserah apa penilaian Peter setelah ini. Ia hanya ingin berbicara gamblang mengenai kondisi hidupnya agar tak ada masalah di kemudian hari.
"Selain rumah kecil dan perhiasan yang sedikit itu, kau punya apa lagi, Nak?" cecar Peter kembali.
"Kakek...," Ashlan mulai menggeram marah. Namun, Diana memberinya kode agar tetap tenang.
"Cinta. Hanya itu hal paling berharga dan yang paling mahal yang saya miliki untuk diberikan pada cucu Anda."
"Dan, jika aku tak setuju?"
Diana bungkam sesaat. "Maka saya akan terus berusaha menemui Anda sampai Anda sudi memberi restu.".
"Kau tipe pejuang juga, ternyata!" puji Peter.
"Jika Anda ragu, maka bisa dicoba!"
Seketika, Peter langsung terkekeh. " Jadi, kau berharap tidak langsung ku restui, begitu?"
"Eh?" Mata Diana langsung melotot. Mendadak, dia jadi salah tingkah.
"Sudahlah! Jangan tegang begitu! Aku bukan orang kolot yang mesti memandang segala sesuatunya dengan sempurna dari luar. Cukup kau bisa membahagiakan Ashlan, itu saja sudah membuatku sangat bersyukur . Masalah hartamu yang sedikit, nanti akan ku tambah biar jadi banyak." Peter memajukan sedikit badannya untuk membisikkan sesuatu pada Diana. "Tenang! Hartaku banyak!" ujarnya yang disambung dengan tawa renyah lagi.
"Apa Tuan itu tak berniat menambah hartaku juga?" lirih August yang mengintip di dekat meja kasir sembari menggigit bagian bawah apronnya.
PLETAK!!
Tiba-tiba Katy datang dan memukul kepala August dari belakang menggunakan spatula yang ia pegang.
"Jangan mimpi! Sana kembali kerja!" perintahnya tegas.
August mencebik. Andai bukan 'Ayang', tentu lelaki itu akan murka besar dan membalas perlakuan Katy yang tega memukulnya dengan spatula. Untungnya, spatula yang digunakan Katy terbuat dari bahan silikon. Jadi, hantamannya tak terlalu sakit.