
Ucapan Nenek Anneth bagai memberi guyuran air hujan di tengah Padang tandus yang mungkin sudah ribuan tahun tak pernah merasakan lagi hawa sejuk dari murninya cairan bening pembawa kehidupan tersebut dalam jiwa Ashlan yang sepi. Tanpa berpikir panjang, Ashlan lekas berlari menuju ke tempat dimana sang istri saat ini sedang berada.
Beberapa orang yang di lewatinya terlihat tersenyum keheranan melihat tingkah sang Kaisar yang tampak begitu bersemangat. Sesuatu yang selama ini tak pernah mereka temui sebelum kehadiran gadis bermata hijau yang kini resmi mengisi hati Ashlan dengan luapan cinta yang membuncah.
"Tunggu, Yang Mulia!" teriak Alarick yang berusaha mengikuti kemanapun langkah kaki Ashlan mengarah. Walau harus kepayahan, tapi Alarick turut merasa bahagia dengan kabar yang baru saja di beritahukan oleh Nenek Anneth. Wanita tua itu tak mungkin berdusta.
Ya, penerus kerajaan sebentar lagi akan hadir.
"Ratu dimana?" tanya Ashlan kepada seorang pelayan yang biasanya bertugas diarea ruangan kerja Diana.
"Sedang ke sekolah sihir untuk menemui seseorang, Yang Mulia!" jawab sang pelayan dengan wajah menunduk takzim.
"Untuk apa?"
"Untuk memberi makan siang sekaligus membawakan pakaian baru."
Ashlan mendengkus sebal mendengar laporan si pelayan. Pasalnya, bagaimana mungkin Diana malah pergi keluar ketika dirinya sudah tak sabar untuk bertemu dengan wanita pemilik hatinya itu. Terlebih lagi, Diana keluar untuk mengantar makan siang dan juga pakaian baru untuk seseorang yang bahkan Ashlan tak tahu siapa.
"Rick, kita ke tempat Ratu!" titah Ashlan yang kembali berbalik dan pergi dengan tergesa.
Alarick menghela napas panjang lalu mengikuti langkah sang sepupu dengan wajah ditekuk. Sungguh! Dia merasa malu dengan penampilannya saat ini. Niat hati hendak bebersih dan bercukur lebih dulu sebelum keluar istana, malah harus di tunda karena perintah sang Kaisar yang pantang untuk ia tolak.
Tiba di sekolah penyihir, semua orang mendadak heboh karena kedatangan Ashlan yang menurut mereka terlalu tiba-tiba. Tak ada agenda kunjungan resmi apapun dari istana, tetapi sang Kaisar malah muncul dengan wajah yang membuat semua mata yang menatapnya tak mampu berkedip.
Memang, belum semua orang tahu bagaimana rupa asli sang Kaisar. Namun, desas-desus mengenai paras tampannya sudah menyebar sampai ke pelosok-pelosok terpencil sekalipun. Begitu pula dengan kebenaran identitasnya yang merupakan benar putra kandung Kaisar terdahulu meskipun terlahir dari rahim Ibu yang berbeda dari sang Kakak.
"Tampan sekali...," puji seorang murid perempuan.
"Ssstt...," Teman di sebelahnya lekas menutup mulut wanita itu. "Jangan berbuat tidak sopan!"
"Aku hanya sekadar memuji. Mana mungkin itu dibilang tak sopan," gerutunya kesal.
Pujian bernada sama terus terdengar sepanjang Ashlan melangkahkan kaki dalam wilayah tersebut. Namun, tak satu pun yang Ashlan ingin gubris. Sambutan dan penghormatan yang para murid dan guru berikan hanya ia balas dengan anggukan kepala dan sedikit senyuman kecil.
Beberapa saat kemudian, Ashlan menghentikan langkahnya dan menatap penuh cinta ke arah seorang perempuan dengan rambut coklat bergelombang yang tampak sedang tertawa karena ulah gadis manis yang berdiri didepannya.
"Apa yang kau katakan, Daisy? Aku hamil?" tanya Diana sambil tertawa geli. "Mana mungkin?"
Daisy tak menjawab. Gadis kecil berusia 7 tahun itu hanya fokus menatap ke arah perut Diana yang terlihat masih rata. Tak lama, ia mengangkat tangan mungilnya kemudian menempelkannya ke perut Diana. Sontak, Diana menghentikan tawanya dan menatap Daisy penuh tanya.
"Saya tidak berbohong, Yang Mulia! Dia...," Daisy menatap perut Diana kembali. "Benar-benar hidup disini," ucapnya dengan senyum yang memperlihatkan sepasang gigi kelinci yang baru saja bertumbuh di bagian depan.
Diana meneguk ludah mendengar penuturan Daisy. Darahnya berdesir ketika Daisy menatapnya dengan kesungguhan yang terpancar di sepasang bola mata biru yang polos itu. Jantungnya entah kenapa berdetak dua kali lebih cepat. Sepertinya, ia mulai mempercayai omongan gadis kecil yang sejak awal kedatangannya tadi sudah langsung menunjuk perut Diana dan mengatakan bahwa ada seorang adik kecil yang sedang bertumbuh didalam sana.
"D-Daisy tahu darimana jika didalam sana ada adik kecil?" tanya Diana gugup sembari menggenggam tangan mungil Daisy.
Lagi, gadis kecil dengan bakat sihir luar biasa itu tersenyum manis. Matanya berkedip-kedip hingga bulu mata lentiknya terlihat bergerak lucu. Persis boneka hidup.
"Aku bisa merasakannya," jawab Daisy yang juga tidak bisa mendeskripsikan dengan benar bagaimana dia mengetahuinya.
Panggilan itu membuat Diana menoleh. Dan, dalam sepersekian detik, dirinya sudah berada dalam pelukan lelaki tampan bersurai perak yang tadi memanggilnya.
"Ada apa, Yang Mulia? Sepertinya, Anda sedang senang sekali?" tanya Diana yang masih dibawa berputar-putar oleh Ashlan.
"Ya, aku sedang senang. Saaanggatt senang!" jawabnya yang mulai melepaskan pelukannya dan menatap wajah Diana lekat.
"Senang kenapa? Apa telah terjadi sesuatu yang baik?"
"Ya."
"Boleh saya tahu?"
Ashlan tersenyum. Sesaat kemudian, ia langsung berlutut dihadapan Diana dengan kepala mendongak menatap wajah kebingungan sang istri. Selang beberapa detik, telinganya ia tempelkan ke perut rata sang istri lalu memejamkan mata untuk beberapa saat.
"A-Apa yang Anda lakukan, Yang Mulia?" pekik Diana yang kaget akan aksi sang suami.
"Diam sebentar!" titah Ashlan lirih.
Mau tak mau, Diana menurut dengan perintah Ashlan. Wanita itu berdiri kaku dengan kedua tangan yang mengambang di udara. Sementara, sepasang matanya menagih penjelasan kepada Alarick yang hanya di balas Alarick dengan mengendikkan bahunya tak acuh.
"Ternyata, benar!" lirih Ashlan begitu ia membuka mata dan menjauhkan telinganya dari perut sang istri.
"Apanya yang benar?" tanya Diana heran.
Ashlan kembali berdiri. Di rengkuhnya tubuh sang istri lalu menghujami pucuk kepala wanita itu dengan kecupan bertubi-tubi.
"Aku bisa merasakannya, Ratu! Aku bisa!"
"Merasakan apa?" desak Diana. "Jangan membuatku kebingungan, Yang Mulia!"
"Sebentar lagi, kita berdua akan benar-benar menjadi orangtua," ucap Ashlan dengan suara bergetar.
Deg!
Diana mematung dengan tatapan yang terpasung ke wajah sang suami. Tanpa di komando, bulir bening itu mulai luruh dari pelupuk matanya.
"A-Apa? Yang Mulia bilang apa?" tanyanya parau.
"Dengar baik-baik, Ratu!" ucap Ashlan. "Sebentar lagi, kita akan menjadi orangtua. Tepat didalam sini," Ashlan mengusap kembali perut rata istrinya. "Ada malaikat kecil yang sudah bertumbuh tanpa kita berdua sadari," imbuhnya dengan senyum mengembang.
"Sungguh?"
"Tentu saja," ucap Ashlan penuh keyakinan.
Diana menangis sejadi-jadinya mendengar kabar baik itu. Ia benar-benar tak menyangka bahwa keajaiban ini sungguh merubah hidupnya. Orang-orang yang ikut mendengar kabar baik tersebut turut terharu dan larut dalam euforia. Secara bergantian, mereka memberi selamat kepada Ashlan dan Diana dan mendoakan segala kebaikan untuk keluarga kecil mereka.